Sekilas Kehidupan Artis & Industri Film Porno di Jepang (JAV)

Saya selalu menyukai anak kecil, jadi ide untuk memiliki keluarga dan membesarkan anak ialah sesuatu yang tak pernah berubah dan saya masih menginginkannya…

(Sora Aoi, 2010, interviewed with CNNGO.com)

Mana ada di dunia ini artis film dewasa menikmati kekayaan, kesenangan, popularitas layaknya bintang film holywood. Nyatanya,kami harus menjawab ada. Yakni artis film dewasa Jepang atau dikenal dengan AV Idol. Mereka melakukan promosi, lewat video klip musik, manga, anime atau video game. Mereka memiliki pendapatan yang melimpah dan penggemar yang banyak.

Dengan sokongan dana yang melimpah dari studio dan agensi mereka, AV idol melakukan semacam  roadshow. Tur dari satu tempat ke tempat lainnya. Dari satu toko rental DVD ke rental DVD lainnya. Mereka melakukan acara jumpa fans, foto bersama, dan pemberian tanda tangan. Ya, mereka layaknya pop star. Promo dan promo terhadap video baru keluaran mereka. Tujuannya apa? Tentu saja agar video baru mereka laku di pasaran.

Namun, bagaimana dengan kehidupan sehari-hari mereka. Ya, mereka memang harus diam akan profesinya. Di beberapa kasus ada yang dipecat karena ketahuan mereka terjun di industri ini. Ada juga yang membuka usaha baru setelah mereka berhenti dari industri ini. Namun hal ini bisa dibilang jarang. Mareka hanya mencoba untuk menikmati kehidupannya saja. Tak ada pula rasa sesal. Ya, mereka akan selalu fokus pada satu hal, sebagimana orang Jepang lainnya.

Dan tak seperti bintang porno amerika yang banyak menjalin kasih dari lingkaran dalam industrinya, av idol lebih memilih untuk menjalin asmara dengan warga biasa. Mereka mencoba tutup mulut akan identitasnya, namun walau sang kekasih tau identitas pujaannya seorang artis JAV, hal ini dipandang tak jadi masalah Karena pria di jepang telah open minded. Memang ada masalah, namun pada kasus tertentu.

Wanita muda ini (AV Idol) seperti perempuan lainnya. Mereka suka hang out, jalan di mall, nongkrong di café, dan berkeliling di taman bermain. Suka narsis foto-foto atau maen twitter. Singkatnya profesi mereka sepertinya begitu mereka nikmati. Jauh dari prasangka kita, bahwa hidup mereka penuh beban, merasa berdosa, dll.

Sebelumnya, beberapa dari mereka ada yang menjadi model televisi, penyanyi, atau opera di televisi. Baru kemudian mereka terjun di dunia ini. Ada beberapa yang kembali, tapi sangat jarang. Ada pula yang berhenti sekolah kemudian menjadi AV Idol, dan kemudian kembali sekolah lagi (dengan identitas asli). Ada juga yang melanjutkan post-graduate di bidang sejarah. Oh ya, perlu diingat nama yang mereka sandang saat menjadi artis ini ialah nama panggung. Jadi mereka sebenarnya memiliki nama asli (keluarga).

Sensor dan JAV

Sebenarnya untuk memproduksi JAV tidak bisa dibilang murah namun juga mahal. Di tahun 2003 produksi film jenis ini total menghabiskan 5.5 juta yen. Dan di sekitar tujuh tahun ke belakang harga satu keeping CD/VHS harganya ialah 10.000 yen. Namun semakin kini ongkos produksi semakin turun seiring hadirnya teknologi Digital Video Disc (DVD). Penting untuk diketahui bahwa ongkos untuk memproduksi satu keping DVD ini harganya 250 yen. Kemudian mereka menjual di pasaran dengan harga 3000/4000 Yen. Jadi berepa kalo dirupiahin? Yah kasarnya kali aja semua angka Yen itu dengan 100. Jadi kita tahu bahwa satu keping DVD porno di jepang itu harganya sekitar 300/400 ribu rupiah! Dan ini lebih mahal jika dibanding dengan membeli satu buah DVD original film box office. Bandingkan dengan video porno amerika yang paling seharga $20/25 per keping DVD nya.

Lalu kenapa mereka berani memasang harga sedemikian mahal? Ya karena mereka ingin menjual kualitas terbaik dan dengan terus memperluas pasar. Bahkan setelah membayar pajak yang tergolong besar, mereka masih mampu meraup untung 700-800 juta yen.

Tapi kenapa juga dengan harga mahal tersebut penonton disuguhkan pada video porno yang disensor? Nah, ini memang menajdi pertanyaan banyak orang. Kenapa video porno jepang disensor? Memang untuk pasar amerika dan luar mereka tak mensensornya, namun jumlahnya masih dibilang sedikit.

Memang sejak Era Meiji, pornografi benar-benar terlarang. Hal ini terutama sejak kekalahan perang dunia ke 2. Dan terpengaruh oleh ide moral Victorian yang dibawa oleh Amerika. Secara moral pun memamerkan alat genital secara vulgar dianggap tak sopan, terlebih hal ini dianggap melanggar hukum. Ya, hal ini menjadi jawaban dari sudut pandang hukum dan etika “mengapa ada sendor di pornografi Jepang”

Alasan lain kenapa JAV itu disensor dapat dijawab secara teknis. Berbeda dengan video porno amerika yang secara vulgar merekam adegan seks dengan menyorot alat genital dengan penuh penetrasi, JAV menambahkan semacam seni bercinta. Jadi ketika menonton JAV tak semata-mata bertujuan untuk melihat alat genital. Dengan ini video porno Jepang menciptakan berbagai genre video porno. Merekam melalui berbagai sudut pandang kamera, ditambah alur cerita, juga “ilusi” canggih lainnya.

OK. Cukup nampaknya pembahasan kami tentang kehidupan artis porno dan industri video porno di Jepang. Semoga terhibur dan sedikit nambah pengatahuan.

***

sedikit tambahan galleri foto dari kami

foto diambil dari( http://daikokuya.kir.jp/)

This slideshow requires JavaScript.

Review Film: Rinko 18 & Industri Film Porno Jepang

Tak sengaja kami menemukan film ini internet. Film produksi tahun 2009 ini seketika menarik perhatian kami setelah beberapa di waktu yang lalu, kami sempat tertarik dengan isu yang serupa. Sesungguhnya film ini tak begitu menarik bagi pecinta film. Tak ada yang mengejutkan, alurnya lurus, aktingnya biasa saja, musiknya buruk, plus minim budget. Ini ialah film bergenre sex comedi. Film yang pastinya telah banyak kalian tonton di atau bahkan banyak beredar di bioskop tanah air. Namun satu yang menarik, yakni film ini bercerita tentang industri film dewasa di Jepang atau dikenal dengan AV.

Ya, tentu, hingga kini, selalu ada saja yang menarik tentang Jepang, terutama dalam penyebaran budaya populernya, walau K-Wave juga bisa dibilang telah sejajar dengannya. Dan terlepas dari itu, ada satu industri Jepang yang sukses baik di dalam maupun luar negeri. Ya, hal ini ialah industri film dewasanya. Para pecinta budaya jepang pasti tahu tentang JAV, bahkan seseorang yang tak kenal sama sekali tentang budaya jepang, tahu, bahwa banyak sekali film dewasa produksi Jepang.

Rinko 18 ini bercerita tentang seorang Rinko, perempuan yang berasal dari keluarga super kaya yang sekolah di bidang kedokteran dan bercita-cita ingin menjadi dokter. Namun cita-citanya pupus karena perusahaan keluargnya bangkrut hingga ia kehilangan segalanya. Ayahnya ditinggal cerai karena dinilai tak berharga lagi setelah ia jatuh miskin. Akhirnya Rinko memutuskan untuk hidup dengan usahanya sendiri. Dan secara tak sengaja dan juga satu-satunya perusahaan yang menerimanya ialah perusahaan yang bergerak dalam produksi film dewasa.

Ya, singkatnya film ini lucu dan bagus. Film yang lumayan sebagai penangkal penat. Memang sih tak sekocak film sejenis seperti Sex is Zero, namun film ini tetap layak untuk ditonton. Yang belum menonton silahkan tonton saja. Link donlotnya cari aja lah…. :D.

Yang menarik untuk dibahas di sini ialah kita sedikit mampu membaca bagaimana behind the scene pembuatan film dewasa di Jepang. Hal yang nampaknya sulit dicari di internet. FYI, setelah kami googling, kami mampu melihat proses pembuatan di balik layar film-film porno amerika. Namun sebaliknya, kami tak dapat sedikitpun hal yang serupa tentang JAV. Dengan ini, kami jadi sedikit tahu tentang roda penggerak di balik penghasil miliaran yen ini.

Dari film ini kita diberitahu bahwa produk JAV atau materi porno lain yang biasa kita tonton ialah, bisa dibilang juga, suatu tipu muslihat kamera, kosmetik, tata busana, dan, teknologi canggih lainnya. Ia tak berjalan selancar, seperti biasa kita menontonnya. Banyak adegan ulang, action-cut, dan lain-lain. Singkatnya mereka harus membuat para penontonnya menjadi bergairah, walau dicapai dengan, belaian, rangsangan, erangan, atao orgasme palsu. Memang ada real intercourse, namun tentu saja ini tak sepanjang film, apalagi si aktris atau aktor telah ejakulasi beberapa kali.

Kita juga tahu sedikit keluh kesah tentang si aktris. Bagaiamana ia menjalani hidupnya sebagai AV Idol, mengapa ia bisa terjun di industri ini, dan harapannya dimasa yang akan datang. Namun yang menarik dan banyak dibahas ialah bagaimana kehidupan mereka setelah tak menjadi pemeran film dewasa. Selain itu bagaimana pula mereka menjaga identitas di masyarakat baik tengah atau setelah pensiun dari industri ini.

Pertama, ternyata tak semata-mata uang yang mendorong banyak perempuan di jepang bergabung dengan industri ini. Dari mulai kebosanan, coba-coba, hingga akhirnya ia mendulang sukses. Begitu juga dengan alasan  mengapa mereka meninggalkan industri. Kasusnya berbeda di tiap orang, menurut salah satu manajer yang menaungi 20 artis film dewasa jepang ini.

Kini juga banyak yang lebih lama di industri ini dari mulai 5-10 tahun. Namun ada hal yang menarik, dan menegaskan juga bahwa sebenarnya industri ini bisa dibilang exist in a grey area. Ya, bisa dibilang legal, bisa dibilang tidak. Misalnya seorang artis telah terikat kontrak selama satu tahun dengan satu perusahaan, namun di tengah jalan si artis tak mau melanjutkannya, maka sang agensi secara legal tak mampu memaksa gadisnya untuk tetap melanjutkan kontraknya. Sebaliknya, sang agensi harus pintar-pintar menawar agar sang aktris mau terus melanjutkan kontraknya. Hal ini juga yang rasanya membuat begitu banyak pemeran film dewasa di jepang terus bermunculan dari tahun ke tahun, dari mulai remaja hingga ibu rumah tangga. Karena mereka bisa kerja singkat, per kontrak dan dapat uang yang banyak. Kasarnya, jika senang lanjut, jika cukup, berhenti (tentu saja aslinya tak sesimpel ini, apalagi terkait karakter dan falsafah orang jepang dengan pekerjaan).

Para artis pun harus tetap diam akan identitasnya. Layaknya falsafah Jepang, (kalo ga salah) jangan gunakan mata untuk melihat. Itu tak baik dan tak sopan. Bahwa kejujuran seringkali dianggap tak sopan di Jepang. Mereka harus menyembunyikan identitasnya ketika hendak bergabung dengan satu masyarakat baru, walau secara de facto masyarakat jepang sebenarnya menerima industri film jenis ini.

Ya, seperti yang ditampilkan dalam Rinko 18, industri film dewasa Jepang memang menarik untuk dipelajari. Industri ini hadir di tengah masyarakat yang menerima sekaligus menutup mata terhadapnya. Ia ada, namun penduduk segan tapi suka padanya. Apa artinya? bingung kan?….

Ya sudahlah, bingung biarlah tetap menjadi bingung. Setidaknya itu pengalaman yang kami dapat dari menonton Rinko 18…

***