“Surga Itu Benar Ada di Telapak Kaki Ibu”

Saya  mendapat ilham dari komik lingkungan karya Larry Gonick yang pernah dibaca beberapa waktu yang lalu. Kira-kira jalan ceritanya seperti ini. Pada salah satu bagiannya digambarkan tentang satu masyarakat yang hidup di Pulau Paskah. Mereka hidup sederhana. Benar-benar bergantung pada kemurahan alam sekitar demi memenuhi kebutuhan subsistennya. Namun suatu waktu hidup mereka seolah berbalik 180°. Hal ini terjadi ketika mereka bisa berdiri sedikit lebih tinggi dari lingkungan mereka. Ketika mereka telah “berbudaya” dan mampu memanipulasi lingkungan demi kepentingan mereka.

Dalam buku itu digambarkan mereka telah mampu menciptakan patung-patung raksasa dan menebang pohon untuk banyak kepentingan. Mulai dari kebutuhan papan, kesenian, atau bagi pemujaan. Namun sayangnya puncak peradaban mereka hanya berjalan sesaat. Tak lama kemudian mereka terkena lemparan boomerangnya sendiri. Hutan-hutan kini gundul dan mereka tak bisa mengambil manfaat lagi dari hutan yang telah mereka babad. Walhasil mereka punah karena lingkungan yang sebelumnya mereka eksploitasi telah mandul dan akhirnya hanya menyisakan tanah lapang bagi pekuburan tulang-tulang mereka.

Saya kira hal di atas tak jauh berbeda dengan yang tengah kita alami saat ini. Bagaimana pandangan antroposentris yang melihat bahwa lingkungan dapat dimanfaatkan berdasarkan kepentingan manusia. Lihat saja kini manusia telah berdiri satu tingkat lebih tinggi di antara lingkungannya. Saat mereka mampu mengatasi lingkungannya. Segalanya dapat mereka olah demi kepentingan dan kebutuhannya. Kasarnya, kini mungkin kita telah berlagak pongah.

Dalam pandangan antroposentris sebenarnya manusia dapat dilihat sebagai nahkoda yang menentukan nasib dirinya dan spesies lainnya. Kita dapat membuat perahu kita karam atau terus berlayar sampai pada tujuan. Walau tidak menentukan, namun manusia berpengaruh besar terhadap putaran kehidupan di muka atau bahkan perut bumi.

Nah, ketika manusia telah memiiki pandangan di atas, berarti mereka telah mampu “mengungguli” alam. Mereka tak lagi seperti nenek moyangnya ratusan ribu tahun lalu yang hanya mengandalkan pemberian alam untuk hidup mereka. Kini mereka telah “lebih berbudaya” dan oleh karenanya mereka mampu mengolah segala hasil alam tersebut demi kepentingannya.

Namun sudah sepatutnya kebudayaan yang juga merupakan hasil dialektis dengan lingkungan, berdiri sama rata. Antara budaya dan lingkungan harus tercipta hubungan yang harmonis. Menciptakan semacam simbiosis mutualisme. Karena jika hubungan ini terganggu, maka contoh ilustrasi saya di awal tulisan ini akan juga terjadi.

Jika kita tilik lagi ke belakang, hubungan budaya manusia dengan lingkungan (fisiknya) amatlah harmonis. Dengan teknologi sederhana mereka memanfaatkan kebaikan alam dengan tetap memberikan lingkungannya waktu yang cukup untuk memperbaharui diri. Jadi, satu sama lain senang. Tak ada yang dirugikan. (lihat tulisan saya sebelumnya)

Bahkan beberapa kelompok masyarakat pun masih mempertahankan hubungan seperti di atas hingga sekarang. Walau sayang, cara hidup mereka kini mulai terancam dengan banyak alasan. Biasanya, hidup mereka yang tentram kerap terganggu dengan dua isu utama, jika tidak pembangunan, ya isu nasionalisme. Ya katanya supaya maju. Walau konsep maju  kerap disinonimkan bahkan direduksi menjadi sebatas penerangan lampu, aliran listrik, teve, ponsel, dan remeh temeh teknologi lainnya yang niscaya tak cosok dengan cara hidup mereka.

Namun pada perjalanannya dan hingga perkembangannya kini, alam dan budaya nampak tidak lagi menjadi sohib yang saling menguntungkan, saling menolong dan saling mengisi. Meminjam istilah yang ditelurkan oleh Margaret Mead yaitu nature atau nurture, saya memandang fenomena ini sebagai culture vis a vis nature. Ya, bahkan bisa dibilang culture yang menguasai nature. Jadi ketika lingkungan alam berada di posisi subordinat maka ada kecenderungan bahwa lingkungan dapat dimanfaatkan secara berlebihan demi kepentingan manusia.

Alam yang seolah dikuasai manusia ini tak terlepas dari perkembangan manusia yang pesat dalam segi teknologi. Dari mulai ia menciptakan kapak peribas, mesin uap, hingga kini mampu menciptakan teknologi masinal nan digital. Dan pada dasarya teknologi tersebut merupakan usaha dari akal budi manusia demi memberdayakan segala potensi alam yang ada di sekitarnya.

Namun manusia seolah kacang yang lupa cangkangnya. Ia justru seolah memperlakukan alam layaknya kolor sekali pakai. Habis di pakai, dibuang, dan habis perkara. Ia nampaknya telah terkena amnesia akut yang seolah tak lagi mampu mengingat kebaikan apa saja yang alam pernah berikan.Hah… Spesies kemaren sore dalam kehidupan bumi ini memang begitu lancang.

Seharusnya, jika melihat posisi lingkungan dan manusia, maka posisi ini serupa dengan posisi ibu dan anaknya. Ya, jika surga bagi seorang anak ada di telapak kaki ibu, maka surga bagi manusia ada di setiap nafas yang bisa mereka hirup di bumi ini. Hal ini sepatutnya membuat segala perilaku yang dilakukan, selalu memprioritaskan pada kebutuhan dari sang ibu (lingkungan) mereka.

Kini, ketika semuanya begitu terlambat, layaknya malin kundang yang hendak dikutuk, manusia kemudian meminta seribu ampun pada lingkungan alamnya. Mereka khilaf (mungkin pura-pura lupa) bahwa mereka memperlakukan ibu mereka layaknya ibu tiri. Mereka kini melakukan apapun yang mereka bisa agar ibunya dapat memaafkannya.

Dan yang namanya seorang ibu, walau telah disakiti oleh anaknya, meski air susunya kini telah menyusut dan tubuhnya kian renta, namun tetap hingga kini ia memberikan segala yang dibutuhkan anaknya. Mungkin walau tak menerima maaf sang anak secara langsung, segala kebaikan sang ibu yang masih diberikan hingga kini itu merupakan bentuk pintu maaf bagi anaknya.

Ya kini, akhirnya mereka coba hidup berdampingan lagi. Kisah manusia melawan alam, culture vis a vis nature nampaknya segera akan berakhir. Ya semoga saja……..

***