Antara Sholat Ied dan Tidak

 

Ilustrasi

Ilustrasi

 

Lebaran merupakan ritual tahunan yang selalu saya nantikan. Bukan masalah sungkeman, angpau atau kembali ke fitrah, tapi saya suka lebaran karena saya amat menunggu saat saya mudik ke kampung halaman di Pekalongan, Jawa Tengah. Saya selalu menantikan sensasi yang kelak saya rasakan saat di perjalanan. Disamping, tentu saja saya juga merindukan suasana kota kelahiran saya dengan berbagai dinamikanya. Begitu pun dengan Lebaran kali ini, saya kembali melaksanakan ritual mudik ke kampung halaman.

Lebaran kali ini saya berangkat dari Bandung lebih awal dari biasanya. Kami meluncur ke arah timur pada pukul empat subuh. Di perjalanan, kami berhenti sejenak pada pukul lima untuk melaksanakan solat subuh di mushola pom bensin yang terletak di Samoja, Kabupaten Sumedang. Daerah Samoja ini ditandai patung kuda yang berdiri  di sebelah kiri jalan, jika anda berkendara dari arah bandung menuju ke arah timur.

Kami pun melaksanakan solat subuh. Saat saya hendak tawadhu, orang disebelah saya berujar Eh, hari ini udah lebaran ya? Selamat lebaran ya…..ujarnya pada orang yang hendak mengambil  wudhu dan penjaga kebersihan toilet. Ternyata ujaran itu keluar dari perempuan setengah baya etnis tionghoa yang hendak buang air. Entah kenapa, rasanya ada yang aneh ketika ia mengucapkan selamat. Rasa malu bercampur kagum terpancar padanya. Walau itu bisa saja merupakan basa-basi. Ia tak segan mengucapkannya padahal (mungkin) banyak hal psikologis yang menghambatnya. Sebaliknya, rasanya juga saya malah enggan atau malah segan untuk mengucapkan selamat ketika ia merayakan hari besarnya. Ya Lebaran saya kali ini, ucapan selamat langsung untuk pertama kalinya ternyata datang dari orang yang tidak saya duga. Datang dari orang yang kerap “dikucilkan” oleh masyakarat saya. Tapi saya sih tidak!! Saya mah selalu beranggapan baik pada mereka. Hahaha. Tuh kan itulah alasan mengapa saya menyukai orang-orang tionghoa….hehehhe……mereka ramah, toleran dan hehehehe.

Tak sampai setengah jam kami berhenti, akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Hari masih gelap dan sedikit berkabut, apalagi malamnya wilayah ini juga diguyur hujan. Kami memacu kendaraan hingga akhirnya memutuskan untuk menepi kembali di sebuah masjid pada pukul enam untuk melaksanakan Salat Ied. Kami berhenti di salah satu masjid di Desa Bugel, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang. Nama mesjidnya Al-Hikmah. Kecamatan Tomo juga yang saya pikir terkenal karena di tempat ini ada semacam rest area dimana kita dapat menikmati kelapa muda di saung-saung, di samping sungai tomo.  Letaknya tepat di pinggir jalan lintas provinsi antara Sumedang-Kadipaten.

Namun apa mau dikata solat baru akan dimulai pada pukul tujuh, sehingga kami harus menunggu selama satu jam. Kami sempat berpikir untuk melanjutkan perjalanan dan akan melaksanakan Salat Ied di Kadipaten, namun kami khawatir akan ketinggalan waktu solat dan tak dapat menemukan masjid di pinggiran jalan di Kadipaten.

Akhirnya, setelah mengambil air wudhu kami masuk mesjid. Seperti biasa sebelum solat dimulai, takbir dikumandangkan oleh panitia pelaksana Salat Ied. Namun saya sedikit terkaget karena sebelum acara pamungkas dimulai ada waktu khusus untuk pemberian sedekah. Jika bisanya kencleng (kotak amal) dikelilingkan begitu saja, dan digilir oleh masing-masing jamaah ke jaamah di sebelahnya, di masjid ini hal itu tidak terjadi. Ada satu petugas khusus yang berkeliling untuk meminta “sedekah”. Dan ia tak menggunakan kotak amal, namun hanya sebalut sajadah yg dilipat dan digunakan untuk menampung uang. Asalnya saya tidak akan memberi, namun ketika mekanismenya seperti ini, saya akhirnya memutuskan untuk memberi. Ya walaupun sebelumnya sudah ditegaskan bahwa ini tidak wajib, namun bagi saya sendiri, mekanisme ini membuat seolah-olah saya harus member iwalaupun hanya sedikit. Dan setelah si petugas selesai menagih hingga jamaah terakhir, baru kemudian acara selanjutnya dimulai.

Setelah itu, saya kira akan langsung menunaikan salat ied, namun ada acara lainnya yaitu sambutan dari Pa Kuwu, sambutan dari perwakilan bupati Kabupaten Sumedang. Hahh, makin lama lagi saya  menunggu. Rasa kantuk plus hembusan kipas masjid membuat saya kerap terlelap beberapa kali. Kata sambutan ini di sampaikan oleh pria umur sekitar 30-an. Masih muda dan menggunakana bahasa Indonesia, mengingat selaruh acara semuanya menggunakan Bahasa Sunda. Wah bahasa yang digunakannya aneh-aneh. Manifeslah, kontekstuallah, permisif dan kata-kata yang Insya Allah akan membuat para jamaah terkantuk dan bosan. Dan nyatanya memang saat kata sambutan belangsung saya melihat lebih banyak orang yang nguap dan terlelap. Bagaimana tidak ia menggunakan kata-kata alien bagi warga di Kabupaten Sumedang (sebentulnya secara administratif tidak ada yang namanya kota sumedang, hanya wilayah tertentu seperti daerah alun-alun yang disebut Sumedang kota) yang mayoritas jamaahnya saat itu kakek-kakek. Namun yang terparah ialah sang pemberi sambutan menggunakan teks untuk cermaah Jumatan dalam sambutan solat Iednya tersebut.

“Kepada sidang Jumat yang dimuliakan oleh Allah”, hingga disana ia tetap tidak sadar akan kesalahannya karena ia terus terpaku membaca pada teks namun setelah jamaah berdehem, ia baru sadar dan meralatnya dengan “Kepada sidang Ied yang dimuliakan oleh Allah.” Hah….

Selain itu, di masjid ini juga saf laki-laki dan perempuan sejajar, namun tetap dipisahkan oleh kain. Jadi kepada kaum feminis yang pingin saat solat berjamaah berdiri sejajar dengan laki-laki datang saja ke masjid ini. Selain itu ada iklan produk di dalam masjid, ya bahasa kerennya sih ambush ad. Iklan yang berkamuflase dengan hiasan kata-kata bijak yang biasa dituliskan di dalam masjid. Iklan ini merupakan iklan produk permen mint penyegar mulut.

Dan akhirnya ketika doa penutupan tiba, mungkin para jamaah sudah rada aral nunggu lama ga beres-beres. Akhirnya, ketika imam berdoa, jamaah menimpalinya dengan amin, amin dan amin. Belum selesai satu kalimat doa, jamaah sudah menimpali dengan amin, dan begitu juga dengan kalimat doa selanjutnya. Dan ketika sampai pada kalimat doa terkahir, seluruh jamaah seraya berujar nyaring walhamdulillah hirabil alamin. Amin dan rangkaian solat  ied yang menyerupai rangakaian acara 17an pun berakhir.

₪₪₪

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s