Mengintip Laut Utara

Tak terasa perjalanan telah sampai di Brebes. Perjalanan sebelumnya memang terasa sedikit membosankan. Maklum sejak di Palimanan (Kabupaten Cirebon) hingga Pejagan (Kabupaten Brebes), tak banyak pemandangan yang asyik untuk dilihat karena kami hanya melintasi tol.

 

Gerbang Tol Pejagan. Tol sepanjang     kurang lebih 35 km. yang membuat perjalanan semakin cepat namun membosankan
Gerbang Tol Pejagan

Dengan tol tersebut, dari Cirebon kita bisa langsung keluar di Brebes. Oh ya, pada tol yang terakhir, kami juga menggunakan tol baru yang dibangun oleh bakrie group. Tarifnya memang terasa mahal, 21.000, dibandingkan dengan 8000 rupiah dengan perbandingan jarak yang sama di Bandung.

Rencananya tol ini akan dibangun lagi sampai Semarang. Rambu-rambunya pun sampai saat ini masih terbatas dan juga beton jalannya terasa amat kasar. Tak terdapat juga rest area. Tol ini dibangun dengan membelah sawah. Sepanjang perjalanan di tol ini yang terlihat hanya sawah di kiri-kanan jalan. Tak terbayang jika hujan beserta halilintar menerjang tol ini. Resiko mobil tersambar petir akan sangat besar, karena posisi jalan paling tinggi di antara bangunan lainnya (tepatnya tak ada bangunan lainnya)

Kemudian, setelah satu jam lebih akhirnya kita keluar di Pejagan, Kabupaten Brebes. Namun, karena kekurangan persediaan minuman atau tepatnya minuman yang sebelumnya telah disiapkan tertinggal di rumah, kami memutuskan untuk  mencari mini market  terdekat di pinggir jalan.

Tak lama mencari, akhirnya kami menemukannya. Saya segera masuk ke toko tersebut. Di dalamnya telah terdapat banyak orang yang tengah belanja. Maklum saat lebaran lebaran, biasanya mini market ramai diserbu pembeli.

Namun ketika masuk ke toko, saya sedikit “jet lag”. Bahasa yang mengudara yang rada bebeletrukan (maaf ya sedikit kasar, juga berpraduga, tapi yang saya rasakan memang demikian). Ngomongna na teh siga nu ngabaledogan urang kitu (aduh punten pisan). Setelah mengamati sebentar, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan bahasa dan logat setempat untuk menanyakan barang yang hendak saya beli.

Ya saya sedikit mengerti bahasa setempat. Kalo untuk masalah logat sih saya bisa lah menirukannya. Banyak belajar dari kawan di kampus sih…. Reka-reka ulang sedikit mirip mah, bisa lah. Iki sing botole ana apa ora? Yang kira-kira begitu saya bertanya dengan logat setempat. Dan alhamdulillah mereka mengerti dengan apa yang saya tanyakan.

Namun yang anehnya belanja di mini market tersebut tidak diberi struk bukti pembelian. Entah pegawainya baru atau apa. Yang jelas pengunjung lain pun banyak yang protes meminta struk pembelian. Masa, pengunjung lain yang belanja sebesar 70.000 rupiah pun tidak diberi struk bukti. Padahal persediaan kertas struknya tidak habis. Ah piye iki si emas, ana-ana bae…

Setelah membeli minuman seharga 7000 kami melanjutkan perjalanan hingga tiba dan di sambut oleh gapura raksasa bertuliskan Sugeng Rawuh Ning Tegal. Di kota ini, di sepanjang sisi jalan mata akan disambut oleh pemandangan tambak, tanaman bakau, dan tentu saja Laut Jawa yang kala itu terlihat berwarna biru telur asin atau kata temen sih biru baby blue. Dari sini saya mulai sering melihat kapal-kapal bersandar di muara. Setiap kami melewati  jembatan besi di kota ini, maka itu merupakan petunjuk bahwa terdapat muara dengan kapal-kapal kayu yang tengah bersandar di dekatnya. Oh ya, selain itu rasa-rasanya tiap tahun, jarak antara laut dengan daratan semakin dekat saja.

Di kota ini jarak antara jalur lintas provinsi pantura dengan pantai di beberapa lokasi hanya berjarak selemparan batu. Pemandangan ini dapat kita saksikan di sekitar tempat wisata laut Purwahamba atau di sekitar  dibelakang) Pasar Surodadi di Jalan Surodadi, Kabupaten Tegal.

Namun yang asyik ialah sensasi mengintip Laut Jawa dari depan gang jalan, di pinggir jalan pantura. Karena di sisi jalur pantura ini terdapat pemukiman, dan antara deretan pemukiman ini di pisahkan oleh gang kecil sebagai akses jalan, maka kita akan dapat mengintip Laut Jawa dari gang depan pemukiman ini, maklum di belakang pemukiman ini langsung berbatasan dengan laut jawa. Ah waas. Sepanjang gang bagai dicat warna biru dan di atasnya warna tersebut membuncah menjadi hamparan laus biru laut jawa.

Tapi, berhubung saat itu saya sedang tidak dalam tugas  di galau media, jadi saya tidak mengambil foto, apalagi langsung berhenti di depan gang dan termenung dalam-dalam ketika melongok pemandangan tersebut. Lanjut…..

Oh iya, pada lebaran tahun kemaren, kami menyempatkan untuk mengunjungi wisata bahari Purwahamba yang telah saya sebutkan sebelumnya. Dan ketika itu laut sedang surut. Landainya dasar laut di pantai ini pun dapat terlihat.  Bahkan hingga sekitar 50 meter dari bibir pantai anak kecil masih bisa main-main. Di dalam tempat wisata ini lagi-lagi kebanyakan para penjaja makanan ialah tukang bakso, mie ayam, dan gorengan. Oh ya, dan tahu tegal tentunya. Dan saya pikir tahu tegal sekarang rasanya sudah tidak senikmat dahulu, sekitar 10 tahun lalu. Tahu yang biasa saya beli di dalam Sahabat, Baik atau Good Will. Sekarang tahu ini isinya hanya aci, rasa ikannya pun sudah hampir tak terasa lagi.

Pada saat itu udara terasa amat panas. Apalagi saat itu matahari masih ada tepat di atas ubun-ubun. Kami hanya melihat-lihat pantai di bawah pohon kelapa di area parkiran yang terletak tak jauh di depan bibir pantai. Dengan menikmati tahu tegal dan gigitan cengek saya menikmati pemandangan laut utara yang terlihat tenang saat itu.

Setelah kenyang memakan tahu tegal dan meminum sebotol teh, akhirnya saya memutuskan untuk sedikit mencuci mata dengan jalan-jalan di area pantai.

Saya kemudian berjalan-jalan di sekitar parkiran mobil yang terletak berdekatan dengan warung-warung penjual makanan. Di sini cukup banyak yang bersepeda. Kebanyakan mereka sepasang muda-mudi. Dengan sepeda ontel atau sepeda sejenisnya yang berleher unta (yang memiliki keranjang di depannya dan boncengan di belakangnya) mereka menghabiskan waktu dengan bersepeda di tepian pantai. Lelakinya mengayuh di depan  sementara perempuannya menyenderkan sisi kepalanya di punggung kekasihnya sambil memeluk dan ngobrol yang juga sesekali diselipi senyum atau sungging tawa.

Setelah dari situ saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke dermaga. Panjang dermaga ini kira-kira 100 meter. Di ujungnya merupakan tempat perahu  bersandar yang ditujukan untuk disewakan bagi wisatawan. Kita bisa menikmati Laut Jawa dengan menyewa perahu bermesin tersebut namun tetap dikemudian oleh nelayan setempat .

Namun setelah dipikir-pikir dan sepenglihatan saya, ada kesamaan antara dua tempat yang tadi saya kelilingi. Di area parkiran banyak yang tengah bermesraan, begitu juga di sepanjang dermaga. Di kedua sisinya sepasang muda-mudi banyak yang bersandar pada pagar kayu di sisi dermaga sambil memadu kasih. Ah, asyiknya. Berduaan dengan kekasih hati di hari yang fitri sambil menikmati sejuknya biru laut dan semilir dingin angin pantai. Weleh-weleh.

Terlepas dari hal di atas, ada sesuatu yang membuat saya sedikit terkesiap.  Yakni banyaknya pemuda-pemudi yang bermesraan di area pinggiran pantai. Mungkin lebih vulgar dari yang biasa saya lihat di tempat wisata di kota. Dengan menyewa samak, tiap pasangan bermesraan sambil tidur-tiduran dan saling peluk. Dan niscaya mereka tidak hanya melakukan itu saja.

Astagfirullah tong suudzon ah! Di bawah pohon rindang di pinggiran pantai tersebut mereka dengan santainya bermesraan.

Aduhh….Maksud saya ialah tempat ini merupakan tempat terbuka dan…..aduh….gimana ya…. Ah sudahlah saya hanya sedikit terkejut.  Ya, terlihat sedikit janggal saja bagi saya.

Ya sudahlah, itu merupakan pengalaman saya tahun lalu di Purwahamba. Pantai yang saya kira indah dan bersih. Pantai yang ternyata kalah indah dibanding jajaran pantai di sebelahnya yang tak menerapkan berbagai “tiket masuk” di dalamnya.

Ah tapi bagaimanapun mengintip laut utara dari depan gang di pinggir jalan memang sangat mengasyikkan.  Hal inilah yang selalu saya nantikan ketika melewati Tegal setiap saya mudik atau melintasi jalur utara Jawa. Setelah saya melihat gapura kota selamat datang di Tegal, pasti saya selalu bersiap-siap menolehkan pandangan ke arah kiri jalan, bersiap untuk menikmati hamparan luas Laut Jawa. Suatu pemandangan landscape beserta titik-titik hitam kapal di kejauhan yang membuat saya kangen akan tempat ini setiap tahunnya.

₪₪₪

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s