Paragraf Terakhir: Dari Rambut Merah Sampai Perempuan Timur Tengah

Pekalongan yang selalu saya kunjungi setiap tahunnya selalu memberikan impresi tersendiri. Tiap tahun, walau sekilas namun sedikit-banyak ada perubahan yang begitu kasat mata. Hal inilah yang kerap saya lihat ketika pulang kampung saat lebaran di Pekalongan. Maka dalam tulisan bonus ini izinkanlah saya untuk sedikit ngalor-ngidul membicarakan tentang kota ini. Kota batik yang sebelumnya banyak tak diketahui dengan julukannya tersebut, sebelum dipopulerkan oleh lagu slank, atau sebelum isu nasionalisme hak paten batik yang sempat ramai.

Saat pertama masuk ke kota ini, kesan bersih akan terlihat di jalan-jalan. Setidaknya jauh lebih bersih dari kondisi jalan-jalan raya di kota besar. Trotoar yang cukup lebar dan tidak banyak disalahfungsikan, membuat fungsi trotoar benar-benar terasa di kota ini. Apalagi melihat pengendara motor kini yang suka kekebutan di jalanan kota atau bahkan di gang-gang padat penduduk.

Pemandangan kota pun menarik bagi yang pertama berkunjung ke sini. Jika kita mulai memasuki kota Pekalongan, maka kita harus mulai memelankan laju kendaraan karena lajur kiri jalan banyak digunakan oleh para pengguna sepeda dan becak (terutama pagi dan sore). Hal serupa juga rasanya dapat saya temui saat  mulai masuk ke Kota Pemalang atau Tegal. Oh ya, salah satu penanda ketika kita telah memasuki Jawa Tengah, atau tepatnya telah melewati Brebes ialah ukuran becak-becaknya sudah mulai besar (bisa ditumpangi oleh 4 orang, dua dewasa, dua remaja)

Kembali lagi ke kota Pekalongan. Di kota ini pengguna sepeda masih banyak, walau kini mulai beralih ke sepeda motor. Mereka biasanya menggunakan sepeda ontel atau yang memiliki keranjang di depannya dan beraktivitas di jalan-jalan kota. Maka, tak aneh jika lokasi parkiran di alun-alun akan sesak oleh sepeda yang terparkir pada hari libur. Namun ada yang menarik dari perilaku mereka di jalan raya. Hal ini ialah mereka (laki-laki) gemar untuk menggunakan sarung kemana-mana, terutama ketika tengah mengendarai sepeda atau sepeda motor. Cek saja jika anda tidak percaya. Di jalan-jalan raya, jika sedang lampu merah, pasti ada lebih dari dua atau tiga orang yang menggunakan sarung saat mengendarai sepeda/ sepeda motornya. Saya juga aneh, apa itu tidak kagok buat mereka, apalagi resiko kecekalakaan atau menghindari kecelakaan dengan menggunakan sarung akan sangat sulit. Tapi mereka terlihat nyaman, keluarga saya di sini pun banyak yang melakukannya kok. Jadi sepertinya hal tersebut tidak menjadi masalah.

Selanjutnya, jika kita berjalan-jalan, baju batiklah juga yang sering digunakan orang. Hal ini rasanya sudah saya lihat jauh sebelum hak paten batik ramai diperbincangkan. Mulai dari tukang becak sampai pengusaha batik kaya, ya menggunakan batik. Penggunaan baju batik seperti kaos oblong sehari-hari yang kerap dipakai untuk beraktivitas rutin.

Selain itu, makanan di kota ini pun cukup menggiurkan. Namun sedikit berbahaya bagi penderita kolesterol. Maklum banyak makanan yang bumbunya mengandung santan, daging atau jeroan. Belum lagi es durian (lagi-lagi dengan kuah santan) yang terletak di Kauman, di samping masjid agung pekalongan. Wuih…..

Di trotoar pinggir jalan, pada malam hari di beberapa lokasi biasanya dijadikan tempat berdagang dan lesehan. Ada yang berdagang semacam kue apem, sate, soto kerbau ( saya kurang tahu apa tapi seperti sajian soto dengan aneka jeroan kerbau). Namun yang dominan ialah pedangang sea food, suike dan sejenisnya. Pada awal dibukanya pembelinya kebanyakan masih etnis tionghoa namun sekarang orang pribumi pun telah banyak yang nyicip sea food tersebut. Hal ini banyak terlihat di jalan Hasanudin (5 menit jalan kaki dari alun-alun). Ada juga warug mie yang “khusus” bagi etnis tionghoa karena menyajikan mie dengan kondamen yang niscaya dilarang bagi kaum muslim untuk menyantapnya. Selain itu, tentu saja kita dapat menikmat berbagai jajanan di alun-alun kota dengan lesehan atau duduk di bangku. Oh ya pada lebaran kali ini, saya menyempatkan makan sate kambing sambil lesehan yang tempatnya tepat disebelah lapak penjual vcd. Dan kebetulan saat itu lagu metal lokal sedang diputar karena hendak ada yang beli. Wah..setelah itu, seketika malam di pekalongan makin panas saja.

Ya, selain makanan di atas ada juga makanan cukup khas yang membuat saya rindu kota ini. Seperti nasi megono (nasi dengan rajangan halus nangka muda), tauto (soto dengan lontong, irisan daging, dengan kuah saus oncom), dan ada juga nasi kebuli (nasi dengan rebusan santan), semacam nasi lemak lah. Untuk nasi kebuli biasanya saya mendapatkannya gratis sebagai nasi berkat jika tetangga ada yang hajatan. Namun jika ingin beli, makanan ini dapat dibeli di warung makan di kampung arab (15 arah utara dari alun-alun). Namanya kalau tidak salah Warung Puas.

Selain tentang kuliner, rasanya saya mendapati keanehan tersendiri dengan warna rambut banyak anak-anak di Pekalongan. Sepertinya warna rambut anak-anak di sini cenderung merah/pirang. Hal ini juga saya rasakan. Saat kecil dan menghabiskan tahunan masa kecil di sini, saya melihat foto diri saya dan mendapati bahwa rambut saya merah/pirang dan tipis. Namun begitu saya menginjak dewasa, rambut saya menjadi berwarna hitam. Entah mengapa, mungkin karena sering main di luar, faktor cuaca, atau sengatan terik cahaya matahari. Tapi menarik juga sepertinya melakukan penelitian jangka panjang tentang perubahan warna rambut pada Penduduk Pekalongan.

Oh ya, hampir lupa, perempuan disini pun menurut saya cantik-cantik (agak banyak). Ayu, orang sini menyebutnya (termasuk juga mbah saya yang sering menyebutnya pada cucu perempuannya). Walau bagi saya ayu dan cantik itu beda. Sangat beda. Di beberapa tempat bahkan saya menemui pedagang bakso yang cantik (tapi saya lebih senang menyebutnya bahenol. Bahenol tapi rada rapihlah .Hah? naon tah maksudna?). Dari etnis tionghoa pun tak kalah cantiknya. Mereka biasanya berpakaian santai dan tak mencolok. Adem lah liatnya (Apalagi pas mendengar dia sedang berbicara dengan bahasa jawa dan logatnya). Saya biasa melihat mereka di pusat perbelanjaan atau di rukonya ketika sedang membantu orang tuanya menjaga toko keluarganya. Namun yang tak kalah menarik ialah perempuan berdarah arab campuran lokal. Lekuk tegas gadis timur tengah berpadu dengan paras ayu Jawa. Terakhir, ada juga yang lebih bikin pusing tapi ga pernah bikin bosen untuk diliat ialah campuran antara arab dan belanda. Wah yang ini memang agak sedikit bikin puyeng. Cantik,manis, ayu, gemulai, dan sejuta aforisma lagi lah buat mereka…

Yah, nampaknya obrolan tentang gadis di atas cocok untuk menjadi penutup dalam tulisan kali ini. Walau masih banyak yang terlewat, namun semoga sedikit ilustrasi di atas mampu memberikan semacam hiburan, ketertarikan, antusiasme atau pengetahuan tentang Pekalongan. Di samping itu, tentu saja pengalaman mudik saya yang tertuang dalam Berbagi Cerita Mudik kali ini dapat menyuguhkan suatu bacaan ringan yang menghibur dan sedikit-banyak informatif.

₪₪₪

Iklan

3 comments on “Paragraf Terakhir: Dari Rambut Merah Sampai Perempuan Timur Tengah

  1. Ping-balik: Jalan Pagi di Kota Batik | PERGURUAN MENULIS–aliran bebas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s