Sugeng Rawuh Ning Pekalongan

Akhirnya setelah  lima jam lebih perjalanan, pada pukul setengah dua belas, kami telah memasuki wilayah Kabupaten Pekalongan, dan kira-kira setengah jam kemudian kami tiba di Kota Pekalongan. Walau hari ini hari Jumat, dan seharusnya saya menunaikan salat Jumat berjamaah di masjid, namun karena hari Jumat bertepatan dengan Lebaran dan sebelumnya kami telah melaksanakan Salat Ied, maka kewajiban menunaikan Salat Jumat berjamaah kini menjadi sunah. Hal ini saya dapat dari ceramah terakhir di bulan ramadhan saat taraweh di masjid. Dan tentu saja Alhamdulillah saya panjatkan atas hal tersebut.

Kemudian, setelah sampai di Kota Pekalongan pada pukul 13.00, kami langsung melakukan ritual keluarga sebelum ke rumah kakek. Kami menepi di warung sate kambing, disekitaran THR (Taman Hiburan Rakyat) Kota Pekalongan. Namun karena tahun ini kami tiba lebih awal jadi warung tersebut belum buka. Tapi kami memutuskan untuk tidak langsung pergi, tapi kami mengunjungi warung di depannya. Namun saya sedikit kecewa dengan warung yang akan kami kunjungi kali ini. Ya, warung bakso dan mie ayam.

Ah….dalam hati. Setelah lebih dari 300 kilometer, Antar Kota Antar Propinsi, melewati tiga gerbang tol, melewati banyak pasar tumpah, tapi yang didapat hanya mie ayam. Tapi mau bagaimana lagi, akhirya kami makan di sini.

Situasi di dalam tenda mie ayam yang kami kunjungi penuh sesak oleh pembeli. Maklum tempat makan yang buka waktu lebaran selalu banyak dipenuhi oleh pengunjung. Tapi saya pikir sih, memang di kota ini warung yang selalu dicari dan dipenuhi oleh orang ialah warung bakso dan mie ayam. Memang. Pedagang bakso atau mie ayam selalu mempunyai penggemarnya tersendiri di seluruh pelosok Indonesia.

Akhirnya, kami mendapat tempat duduk dan lekas memesan empat mangkuk mie ayam. Mie ayam sekawan Mba! Begitu saya memesannya kepada si mba dengan bahasa setempat. Namun saya memutuskan untuk tidak membeli. Saya hanya menyicip satu sendok punya adik saya. Dan memang rasanya nikmat. Beda dengan mie ayam di Bandung. Kuahnya, dagingnya, dan kekenyalan mie-nya sangat jauh berbeda. Lebih nikmat.

Saya hanya memesan satu gelas besar teh hangat.Mmh….. cuaca panas langsung menyergap. Dengan meja yang lengket yang dilapisi taplak plastik the botol sosro yang dilap dengan lap lengket yang telah berulangkali dipakai tanpa dicuci, dan warung tenda yang bertudung asbes, hah….cuaca ngelekeb pantura tambah terasa.

Kemudian, setelah makan berpanas dan bernikmat ria, kami langsung meluncur ke rumah mbah yang hanya berjarak 10 menit jalan kaki dari alun-alun kota.

Tak sampai 20 menit saya akhirnya sampai di rumah kakek. Saya turun dari kendaraan, membawa, menjinjing, dan menggamit berbagai tas saya untuk kemudian membawanya masuk ke rumah. Saya duduk terlebih dahulu untuk sejenak melepaskan lelah dan meluruskan kaki di ruang tamu. Namun tak berapa lama kakek saya dengan mengendarai astrea 800-nya tiba di depan rumah. Ia baru saja menyelesaikan solat Jumat di masjid raya di alun-alun (gambar masjid di hal. terakhir), berboncengan bersama anaknya (om saya). Ketika Beliau turun dari motornya, saya segera menghampirinya dengan setengah berlari dan langsung sungkem minal aidzin padanya. Ya saya kangen padanya. Dan kesehatannya dari tahun ke tahun selalu terjaga dengan baik. Ya, mungkin itu berkat kebiasaan jalan pagi beliau dan rutinitas solat tahajudnya pada dini hari. Ah, seketika saya jadi ingat ketika dulu sekolah disini, seringkali pada pagi hari saya di oleh-olehi surabi dengan cocolan kuah santan dan sate berkuah yang diberikan mbah saya sepulang jalan-jalan pagi. Tapi yang paling saya senang surabinya. Rasanya legit, manis, campur gurih.

Oh ya, selain itu kakek saya juga terbilang handal dalam masalah perlistrikan. Haa. Dulunya pernah kuliah di Institut Teknokrat Bandung  sih….hehe. Namun yang saya salut darinya ialah beliau selalu mencatat dengan rapih tiap ada ceramah di masjid atau di radio. Apalagi saat Bulan Ramadhan tiba. Kini puluhan dan hampir mencapai bilangan ratusan bukunya yang berisi catatan ceramah tertata rapi dan runut tanggal berikut tahunnya.

Tak lama dari situ, saya masuk ke ruang tengah dan segera melihat bahwa sanak saya yang lainnya telah berkumpul di ruang tengah. Mereka langsung menyambut saya dengan ceria. Segera saya sungkem dan ikut nimbrung sebentar dengan mereka . Wah situasinya hangat. Semua anggota keluarga tengah berbincang satu sama lain. Ada yang membicarakan arus mudik terkini, menanyakan teman lama yang tinggal di Jawa, ada juga yang berbincang tentang tayangan televisi yang tengah ditonton.

Setelah nimbrung ngobrol di ruang tengah sejenak, saya segera menyimpan tas bawaan saya ke kamar atas. Namun saat melintas dapur saya bertemu nenek. Awalnya Beliau tidak mengenal saya. Yah maklum penglihatannnya sudah banyak berkurang. Namun ketika saya menghampirinya dan sungkem padanya, seketika ia langsung menyapa. Menepuk-nepuk bahu dan cipika cipiki. Wah tambah duwur bae ooo kamu. Wah makin tinggi aja kamu yaa! begitu kira-kira sapa nenek saya. Disini aroma masakan buatan mbah saya amat terasa. Kala itu saya mencium wangi daging sapi bumbu yang dipotong kecil-kecil (mirip rendang), ikan tenggiri balado, sayur lodeh, dan aroma kental santan kuah masakan. Khas sekali. Tiap lebaran aroma inilah yang sering saya cium ketika tiba di dapur. Ya memang nenek saya ahli memasak dan makanannyalah yang selalu membuat saya kangen pada kota ini. Selain itu juga memang beliau membuka usaha katering kecil-kecilan yang menerima pesanan makanan untuk hajatan. Tenaga kerjanya sendiri dibantu oleh tetangga-tetangga dekat. Oh ya, pernah satu waktu ketika saya berkunjung ke Pekalongan, nenek saya sedang menerima pesanan. Wah keadaan di rumah sangat ramai. Di dapur dan halaman belakang, katel dan panci-panci besar berjajar. Di ruang tengah Kakek saya sedang melipat-lipat kardus yang kelak dijadikan kotak wadah makanan. Saya pun waktu itu ikut membantu dengan melanjutkan kerja kakek saya yaitu meng-hekter kardus-kardus makanan tersebut sehingga membentuk sebuh kotak persegi.

Kemudian sehabis menyapa nenek dan menyimpan tas di loteng, saya kembali lagi ke ruang tengah dan bergabung dengan mereka lagi. Ada dua area dimana mereka berkumpul di ruang tengah ini. Pertama mereka kumpul di karpet dan satu lagi mereka berkumpul di atas semacam meja besar pendek. Dua tempat ini bersebelahan. Dan di tiap lokasinya tersedia makanan khas lebaran yang tersedia di toples dengan minuman teh asli pekalongan. Oh iya tahun ini nampaknya ada produk teh gelas kemasan siap saji produksi lokal yang tengah laku di pasar Pekalongan. Namanya produk tehnya ialah Bandulan.

 

Teh Bandulan

Bentuk kemasannya seperti teh gelas lainnya yang dijual dengan kisaran harga 500-1000 rupiah/ buahnya. Namun di tempat-tempat wisata seperti sentra penjualan batik harganya menjadi sekitar 2000 rupiah. Rasanya enak, mirip teh botol sosro, namun teh ini wangi melatinya lebih terasa. Beberapa saudara saya bahkan memesan langsung dari sini untuk dijual di tempatnya. Dan setiap saya mertamu ke rumah teman atau saudara disini yang dihidangkan ialah teh tersebut.

Setelah tiba di ruang tengah, saya pun bergabung dengan yang lainnya sambil selonjoran di karpet. Namun Saya hanya mendengarkan obrolan mereka saja. Fokus saya hanya untuk nyicip cemilan-cemilan di dalam toples yang hadir di depan mata. Ada kue keju, pastel, tempe kering, kacang, putri bulan, nastar, dan kue-kue kecil lainnya yang saya pun tidak hafal namanya. Namun favorit saya tetap jatuh pada nastar dan kue kejunya. Ah nikmat sekali rasanya. Situasinya ramai dan hangat. Ngemil kue-kue lebaran sambil nonton tv dan dikellingi oleh kelurga besar.

Setelah itu acara di rumah hanya diisi dengan ngobrol-ngobrol saja. Acara halal bihalal dengan keluarga lebih besar di rumah buyut akan dilaksanakan esok. Hari-hari berikutnya juga serupa namun hanya diisi dengan silaturahmi (nguliling) ke rumah tiap keluarga atau kawan lama. Sisanya, hari-hari diisi dengan acara hiburan, seperti berkunjung ke pantai, mampir ke tempat-tempat belanja, atau mengunjungi tempat makan atau minum khas Pekalongan.

Oh ya, di sini hari terasa lebih lama, entah mungkin karena panasnya udara atau karena matahari lebih cepat terbit di sini daripada di Bandung.

Dan itulah cerita singkat saya di rumah mbah. Ya begitulah hari-hari saya saat di kampung halaman. Situasinya hangat dan akrab. Seperti  itulah kira-kira hal yang saya lakukan tiap tahun jika berlebaran di sini. Tapi yang selalu menarik ialah kondisi kota ini sendiri dengan dinamika aktivitas dan perilaku penduduknya. Tiap tahun, bagi saya ada saja yang berubah walau sebenarnya tidak kentara. Wah, bagaimanapun mudik memang sangat mengasyikkan.

Jadi, ya… jangan tanya kenapa orang rela bertaruh    nyawa di jalan hanya untuk sampai di kampung halaman.

₪₪₪

Iklan

2 comments on “Sugeng Rawuh Ning Pekalongan

  1. Ping-balik: Jalan Pagi di Kota Batik | PERGURUAN MENULIS–aliran bebas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s