DOKOMO

“Hidup tanpa ponsel layaknya makan nasi padang tanpa cocolan sambal hijau”

Sekali waktu pernah saya minder. Hal itu terjadi saat menyantap makan di kantin di salah salah satu gedung perkantoran di Jakarta Selatan. Ketika itu, tepat saat saya tengah merogoh ponsel di kantung celana, hendak membuka pesan singkat yang masuk. Segera saya membaca satu pesan tersebut. Namun ketika hendak meletakkan ponsel di atas meja, seketika saya terkejut dengan banyaknya jumlah ponsel yang tergeletak di tiap meja di kantin ini. Tiap orang memiliki satu sampai dua ponsel. Mereka mengutak-atik ponselnya. Dari yang hanya memegang-megang saja sambil melihat sekilas layar ponselnya sampai nampak serius dengan ponsel mereka.

Namun yang sedikit menyentak saya ialah ponsel yang tergeletak di meja-meja tersebut ialah ponsel canggih dari berbagai berbagai pabrikan yang tak asing lagi di telinga. Ponsel, smartphone atau PDA keluaran terbaru yang niscaya memiliki fungsi lebih dari sekedar kutak-ketik sms dan cuap-cuap telepon. Dengan bentuk yang ergonomis dan warna yang berkelas, ponsel yang tergeletak di samping aneka panganan di meja tersebut seakan menjadi sajian pembuka sekaligus penutup makan siang mereka. Dari situ yang tadinya saya hendak meletakkan ponsel di atas meja, seketika saya mengurungkan niat dan kembali memasukkannya lagi ke kantung celana. Maklum, jomplang sekali ponsel saya jika dibanding mereka. Ponsel keluaran lama, dengan goretan di seluruh bodi, layar penuh debu, dan batre yang ngedrop. Ya lebih baik saya masukan lagi ke celana. Apalagi indikator batere telah menunjukkan satu batang lagi dan pasti dalam hitungan menit akan segera mati. Segera saya meminum habis teh botol yang tinggal setengah. Ah, saya minder kala itu.

Sekarang saya begitu takjub dengan begitu banyaknya jenis ponsel di pasaran. Gadget pintar multifungsi yang dapat menonton teve,mendengarkan musik, download, browsing, layanan e-mail, video confrence, dan kebutuhan multimedia lainnya. Apalagi beberapa diantaranya sekaligus mampu memberikan solusi bagi kebutuhan office. Maka tak ada yang kurang lagi rasanya dari maujud tersebut.

Oh ya saya juga kagum dengan ponsel-ponsel QWERTY yang sekarang rasanya telah banyak digenggam orang. Ponsel yang membuat saya menghabiskan waktu bermenit-menit hanya untuk mengirimkan satu SMS, karena saya pusing mencari huruf yang tertera di tootsnya. Ponsel yang selalu digenggam ditangan beserta dompet yang menemaninya.

Terlepas dari fenomena QWERTY atau eranya ponsel yang berbentuk persegi (kotak), saya selalu terkesima dengan orang-orang yang selalu berkomunikasi kapan dan dimana saja. Ya walau tidak berkomunikasi, minimal ponselnya selalu ada di tangan mereka. Atau mungkin hanya bolak-balik cek inbox, padahal tidak ada pesan baru yang masuk. Sepertinya mereka tidak bisa untuk tidak memegang ponsel walau hanya setengah jam lamanya. Mungkin seperti gatal yang tidak digaruk, jika mereka tak memegang ponsel. Rasanya ga jelas, mengganggu aktivitas, bikin tidak tenang, gelagapan, tak bisa diam.

Jika tidak ada digenggaman, ponsel haruslah ditempatkan di lokasi yang terjangkau oleh lengan. Di simpan di meja saat kita makan, bekerja, mengerjakan tugas, atau aktivitas lainnya. Ya, kalau ada panggilan, dengan cepat dan cekat segera dapat disergap. Cukup ulurkan tangan, pilih ponsel yang layarnya menyala, dan segera angkat panggilannya. Dan bukan hanya ada satu ponsel yang hinggap di kantung mereka. Dua, tiga atau lebih ponsel dapat berjajar di meja. Ya begitulah, maklum orang sibuk, walau belum tentu orang penting.

Berponsel lebih dari satu, dua atau lebih untuk seorang bukanlah hal aneh. Disebut tidak aneh karena banyak yang telah melakukannya, yang punya satu atau bahkan tidak punya ponsel sama sekali malah bisa dibilang aneh. Masa di dunia datar ga punya ponsel, bagaimana bisa disebut The World Is Flat kalau ponsel saja tak punya?! Heh…

Ponsel dengan jaringan GSM dan CDMA juga menjadi duet maut. Kombinasi dua jaringan ini menjadi penyambung hidup banyak orang terutama di perkotaan. Satu untuk menelepon sepuas-puasnya, satu lagi untuk sms-an, browsing, dsb. Biar lebih murah mungkin ya….! Bahkan tak sedikit pula yang punya double GSM sekaligus double CDMA. Canggih yaa !

Kemudian ketika muncul ponsel yang bisa masuk kartu GSM dan CDMA—dual SIM card. Banyak juga orang yang meliriknya, walau ponsel tersebut hanya mampu mengaktifkan salah satu kartu—jaringannya pada satu waktu. Jadi, tidak bisa GSM dan CDMA nya aktif di saat yang bersamaan. Ya begitulah kira-kira akibatnya jika orang kini begitu keranjingan dalam berkomunikasi.

Dengan pulsa yang selalu rutin diisi dan jumlah ponsel yang bisa lebih dari dua, tentu saja mereka akan gelisah jika ponsel mereka tidak berdering. Untuk meredakan kegelisahan, segera mereka browsing internet untuk sekedar berkomentar atau berkicau. Itu juga kalau ponselnya sudah didukung fasilitas internet, jika belum ya.. paling maen game snake atau space impact. Lumayan, olahraga, melatih konsentrasi dan kecepatan jari sambil membunuh jenuh. Siapa tau bisa tamat sampe level terakhir ketika tengah bosan menunggu antrian atau kedatangan kawan !

Dalam banyak kesempatan juga saya selalu takjub dengan mobilitas mereka. Setiap saat, di banyak tempat, mereka selalu berkomunikasi dengan ponselnya. Saat tidak ada kerjaan, otak-atik ponsel menjadi alternatif yang kerap dilakukan. Lihat inbox, cek pesan terkirim atau melihat lagi settingan ponsel. Di tengah keramaian banyak orang, saat sedang sendiri, menunggu kawan, menunggu pesanan makanan datang, ponsel sepertinya menjadi saran pengalihan yang mengasyikkan.

Disamping itu, utak-atik ponsel bisa juga untuk mengalihkan perhatian atau pembicaraan. Saat kita berbincang dengan kawan dan kita tidak mengerti topik pembicaraannya, kita bisa beralih pada ponsel. Begitu juga saat kita malas berbincang dengan teman atau sedang tak ingin diajak berbicara, kita bisa berpura-pura serius pada layar ponsel. Ingin juga terlihat sebagai orang sibuk dan mendapat sedikit perhatian dari orang? Mungkin bisa juga lewat ponsel. Yah…coba saja sendiri….

Mereka juga benar-benar mobile. Berkomunikasi dalam keadaan bergerak yang sebenarnya. Tak peduli sedang berjalan di trotoar, di bahu jalan, berkendara di jalanan atau bahkan ketika menyebrang. Pokoknya communication must go on. Tak peduli dimanapun , kapanpun, atau beresiko apapun yang utama ialah berkomunikasi lewat ponsel. Tak usah juga harus panjang-panjang berpikir bahwa perilaku itu berpotensi menimbulkan hal-hal yang merugikan dan mengganggu orang lain disekitarnya. Yang penting komunikasi harus terus berjalan, telepon harus segera diangkat, dan sms harus segera di balas. Luar biasa ! komunikator yang responsif ! Tak bisa diam, tak bisa ditunda, dan harus terus bergerak. Sekali lagi, luar biasa!!.

Namun rasanya ada yang kurang. Andai provider ponsel Jepang ”DoCoMo” dengan varian produknya telah masuk di pasaran. DoCoMo—Do Communication Mobile, saya kira cocok di sini. Pas dengan mereka yang selalu mobile. Apalagi dokomo yang secara harfiah dalam bahasa Jepang artinya everywhere atau dimana saja. Sangat cocok dengan yang sering saya lihat tiap hari. Berkomunikasi lewat ponsel kapan dan dimana saja. Ponsel yang bisa digunakan semau kita, setiap saat, kapanpun dan dimanapun.

Ahh…Ya, memang benar ponsel telah sejak lama menjadi alat yang memudahkan kita dalam berkomunikasi, namun rasanya juga ia belum cukup lama menjadi alat yang seringkali memperalat kita.

***

Iklan

2 comments on “DOKOMO

  1. Ping-balik: Hikmah Ponsel Nyemplung « PERGURUAN MENULIS — aliran bebas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s