Gèber Brat…!!

Lampu merah selalu terdepan,di perlintasan kereta tak sabaran”

Pernahkah kalian mendengar slogan “Indonesia semakin didepan”? Kalo saya sih sering. Bahkan katanya slogan itu ditempel juga di motor juara dunia Moto GP Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo. Alasannya: Indonesia menghasilkan penjualan yang paling besar sedunia bagi produk pabrikan asal Jepang tersebut. Wah hebat juga ya!! Tapi apa memang benar?

Motor tahun 2002, dengan cc pas-pasan itu mengerem mendadak. Suara mendecit terdengar, diikuti dengan pengereman kendaraan lain dibelakangya. Saya terkejut! Segera saya membunyikan klakson sebagai tanda peringatan padanya. Namun saya kesal karena klakson saya tak diindahkan. Akhirnya sambil ngedumel, dengan lajur yang terbatas, saya berhasil mendahuluinya. Namun saya dibuat tambah kesal ketika mendapati ia sedang terfokus pada layar ponselnya. Satu tangan mengendalikan gas, satu tangan lagi memencet-mencet tombol ponsel. Dengan santai ia sms-an dan tak mengindahkan pengendara lainnya. Entah, ia tak sadar tengah berkendara motor di jalan raya atau keluarganya memilki saham di Jasa Marga sehingga merasa aspal yang ia pijak itu miliknya. Ah, tapi rasa-rasnya dari gelagat santainya, ia memang punya saham di Jasa Marga, yaa minimal neneknya lah…! Yaa apa boleh buat…

Sudah lebih dari 4 tahun saya kuliah. Bolak-balik, bulak-belok, Bandung-Jatinangor dengan motor. Dengan santai, sedang, atau kadang terburu saya melaju dengan motor hitam dengan pelek depan-belakang yang sudah melengkung. Saya juga hafal lubang di sepanjang jalan. Mana saja lubang yang harus diwaspadai dan harus dihindari dan mana yang bisa dilalui. Bunyi berisik bodi motor dan lengkungan velg motor, kiranya dapat menggambarkan cukup menantangnya jalur yang saya lalui setiap harinya. Oh ya sekedar tambahan, jika saya berkendara pulang-pergi Jatinangor-Bandung, dirata-ratakan menghabiskan waktu 90 menit, dan jadwal saya ke kampus dari Senin hingga Kamis, maka dalam satu tahun saya menghabiskan 288 jam/ 12 hari lamanya di perjalanan.

Dijalan saya kerap disuguhkan dengan berbagai atraksi menarik yang terkadang memacu adrenalin. Terkadang diikuti dengan gelengan kepala, istighfar, sumpah serapah, dan tak jarang pula decak kagum. Bagaimana tidak, jalan selebar minimal tiga meter menghidangkan tontonan bergerak yang menarik mata baik dari pengguna kendaraan bermotor ataupun pejalan kaki. Ocehan, perdebatan, dan sesekali baku hantam juga menjadi drama tersendiri yang membuat atraksi ini sulit untuk dilupakan dan kerap menjadi bahan pembuka perbincangan saya di kampus.

Baru saja saya keluar rumah, hendak berbelok menuju jalan kompleks, Wuuusssss…. tiga motor saling berkejar kejaran. Posisi pertama ditempati oleh bapak-bapak yang membonceng anak berseragam SD, kedua pemuda sepantaran saya, dan posisi ketiga, dua perempuan yang berboncengan dengan skuter matiknya. Ketiganya hanya dipisahkan jarak sepersekian detik. Jika saja ada satu saja becak atau penyebrang jalan hendak melintasi track, maka jalannya balapan pasti akan semakin seru. Siapa yang ketiban sial melambatkan motornya gara-gara hal di atas dan akan ketinggalan di belakang.

Saat di jalan saya juga seringkali terkaget hingga harus memencet pedal gas dalam-dalam. Pengendara motor atau mobil kerap berbelok tanpa memberikan aba-aba. Tak ada lampu sen. Kalaupun ada jaraknya hanya beberapa meter atau saat ketika dia berbelok. Dan ini tentu membuat pengendara di belakangnya kaget, apalagi jarak antara satu kendaran dengan lainnya seringkali begitu dekat. Kalau begitu apa bedanya dengan aba-aba yang menggunakan lambaian tangan. Ah, nampaknya lampu sen tidak dilihat sebagai hal yang krusial dalam berkendara. Lampu kecil yang berwarna orange kerap diganti dengan warna lain atau bahkan dicabut dari dudukannya. Ya saya mengerti, mungkin mereka pikir motornya sama dengan motor balap di lintasan yang tidak butuh lampu sen, tidak ada perempatan, tak ada lampu merah dan juga penyebrang jalan. Luar biasa!

Selain itu para penyebrang jalan atau pengendara yang hendak berpindah jalur juga membuat saya sebal. Lagi berpindah jalur tanpa sen atau main nyelonong ketika nyebrang. Hal ini tentu membuat pengendara yang tengah berpacu terkaget dan berpotensi menyebabkan tabrakan atau bahkan tabrakan beruntun. Namun canggihnya, saya atau mereka selalu handal dalam pengereman mendadak. Respon saya begitu baik ketika sewaktu-waktu ada penyebrang jalan (pejalan kaki/pengendara motor) yang nyelonong dan menyebrang dengan kecepatan tinggi. Maklum, sudah terbiasa.

Hal yang tak kalah serunya ialah ketika jalanan macet. Biasa terjadi saat jam pergi atau pulang kerja. Wuihhh….. atraksi yang luar biasa. Diikuti dengan suara klakson atau gerung-gerung knalpot. Konvoi kendaraan yang bisa mencapai beberapa kilometer dan membuat Bapak-Bapak Polisi harus sigap mengatur arus kendaraan.

Dan ketika jalanan macet dan arus lalu lintas tersendat bukan berarti atrakasi akan berhenti. Justru disinilah titik awal dari pertunjukannya. Di sinilah tempat skill-skill para pengemudi unjuk gigi. Cara mengerem, selap-selip, overtaking susul kanan kiri, cari celah, akselerasi mesin, side by side antar kendaraan menjadi tontonan tersendiri. Setiap inci ruas jalan menjadi celah yang dapat dimanfaatkan demi memacu kendaraan. Kontrol manusia terhadap teknologi amat dibutuhkan disini.

Dalam kondisi demikian, spek kendaraan bukanlah hal utama, namun penguasaan dan feeling terhadap kendaraanlah yang menjadi hal utama. Motor atau mobil keluaran baru bukanlah jaminan bagi mereka untuk dapat keluar dari jejal sesak kemacetan. Pengalaman, insting, respon otak, tangan dan kaki dalam mengemudi diasah di tempat ini. Teori bahwa kemampuan spasial perempuan lebih rendah dari laki-laki juga akan diuji di sini.

Benturan, senggolan, dan saling pepet antar kendaraan amat sering terjadi. Dan nampaknya juga menjadi hal yang lumrah. Hal yang kadang juga membuat pihak asuransi sedikit was-was. Bagaimana tidak, jarak antara kendaraan hanya sebatas beberapa meter bahkan lebih sering hanya berjarak beberapa jengkal tangan. Maka janganlah heran jika kendaraan kita saat berangkat mulus namun saat pulang baret di sana-sini.

Walau arus lalu lintas terhenti, namun pengendara (motor) selalu saja memilik ruang untuk bergerak. Selap-selip, mereka layaknya dalam labirin dan mencoba menemukan jalan keluar. Hal ini hampir dilakukan oleh semua pengendara motor. Jika saja ada pengemudi motor yang berhenti di tengah kemacetan, namun didepannya masih ada sisa ruang pas-pasan untuk menyalip, kemungkinaan besar si pengemudi akan diklakson pengemudi yang ada di belakangnya dan mengharuskannya maju melalui celah yang pas-pasan tersebut. Biasanya ruang itu tercipta di antara antrian mobil dengan mobil, atau mobil dengan trotoar. Selama masih ada ruang yang mencukupi motor bisa lewat, maka ruang itu harus dimanfaatkan. Entah siapa pula yang patut disalahkan jika ada pengemudi motor membentur mobil (bodi/spion) saat selap-selip. Si pelaku atau pengemudi lainnya dibelakang yang memencet klakson agar si pelaku memajukan kendaraannya?

Setelah selap-selip diantara antrian kemacetan mobil, biasanya pengendara motor bergerak ke arah kiri atau kanan lajur jalan untuk terbebas dari kemacetan. Mereka bergerak ke arah kiri jalan yang berbatasan dengan trotoar atau kanan jalan yang dibatasi marka untuk arah yang berlawanan. Jika ruang di kiri telah penuh dijejali oleh motor lainnya, maka insya allah trotoar juga akan mereka pakai untuk keluar dari antrian kendaraan. Tak ada ruang untuk pejalan kaki atau pengguna sepeda atau becak. Bagi saya sendiri jalan kaki, naik becak, atau menggunakan sepeda di jalan raya sama dengan uji nyali. Kembali lagi ke lintasan balap.  Setelah menggunakan trotoar, altenatif lainnya ialah menyalip lewat lajur kanan jalan dengan memakai ruas jalan dari arah berlawanan. Hal ini terbukti ampuh untuk menghindar dari kemacetan, terutama saat ruas jalan dari arah sebaliknya tengah tidak macet.

Setelah kemacetan mulai terurai, para pengedara mulai lagi memacu kendaraannya. Salip menyalip banyak terlihat, side by side juga mulai sering ditemui. Dan akhirnya kondisi lintasan balap kembali ke kondisi semula. Masing-masing memacu kendaraan dan mencoba finis terdepan.

Saya pun tak jarang terkaget ketika tengah santai berkendara di jalur kiri, ada pengendara lain dengan kecepatan fantastis menyalip saya dari sebelah kiri. Hal yang tak saya duga karena saya pikir saya sudah cukup dekat dengan trotoar (sisi kiri) dan oleh karenanya tak ada yang bisa menyalip lewat kiri. Eh nyatanya, masih ada juga yang menyalip dari kiri dengan jarak dia dan saya hanya sebatas hitungan centimeter. Aneh juga, kenapa mereka tak menyalip saya dari kanan. Padahal di lajur kanan masih tersedia ruang yang lebar untuk motor menyalip. Ckckck, kemampuan spasial yang cermat dipandu dengan insting pembalap. Sekali lagi saya merasa kaget sekaligus takjub!

Centang perenang di jalan belumlah selesai. Penyebrang jalan, pengemudi mobil, tukang parkir atau pengguna jalan lainnya pun berperilaku serupa. Penyebrang jalan melintas dengan begitu santai. Langkah lenggang kangkung, sambil berbincang, menelepon, sms-an, makan-minum, terkadang juga bercanda. Santai, layaknya melintas di savana Afrika atau safari di kebun binatang.

Oh ya, peyebrang jalan juga terkadang dapat melakukan atraksi sulap. Ketika hendak menyebrang, mereka cukup hanya melambaikan tangan dan semua kendaraan akan berhenti. Ya menyebrang begitu saja. Tak peduli kondisi lalu lintas atau kecepatan kendaraan yang tengah melaju, cukup melambaikan tangan, waktu akan berhenti, dan mereka akan dapat melintas. Aman kan !?

Tukang parkir atau satpam yang tengah membantu mobil untuk keluar menuju jalan raya pun terkadang bertindak seakan mereka ini anti tabrak. Ya, ketika tengah membantu memarkirkan mobil, mereka terkadang sering berjalan mundur hingga berada di badan jalan. Entahlah, perhitungan mereka akan kecepatan mobil yang tengah melaju di jalan seringkali buruk. Mobil atau motor yang sedang dipacu dengan entengnya mereka hentikan, walau harus membuat kaget atau marah-marah si pengendara. Di samping itu mereka pun sering seenaknya menghentikan arus lalu lintas demi membantu mobil keluar dari parkiran menuju jalan raya. Mereka pun sepertinya mempunyai kekuatan untuk menghentikan arus lalu lintas. Ya…. semacam kekuatan magis untuk menghentikan waktu yang dapat dipelajari dari ekstemnya kondisi lalu lintas. Wow!

Tapi setelah dipikir, seusai panjang lebar menghakimi masa, rasanya saya melihat diri saya pada rangkaian paragrap di atas. Kelakuan saya di jalan raya, ya tidak jauh beda. Seenaknya. Ngebut, rem mendadak, selap-selip, motor tanpa spion, memakai helm standar (standar proyek maksudnya), dan polah serupa lainnya. Namun, hendak dikata bagaimanapun saya tak pernah habis untuk terpana, menikmati berbagai atraksi di jalan raya setiap harinya. Ada saja hal-hal aneh, unik, asyik, ajaib, dan atraktif sepanjang perjalanan kurang lebih 25 km rumah-kampus. Peristiwa tragis hingga kejadian yang membuat terpingkal hadir baik di depan mata atau lewat refleksi kaca spion kecil motor saya. Ya, apa boleh dikata, apa boleh buat, begitulah dinamikanya, lagipula saya tak punya pilihan lain selain terus menggunakan motor saya…….

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s