Hajar Blehh..!!

Kita merupakan orang tercanggih dan paling kuat sedunia

Entah pada siapa kata ”kita” dalam kutipan dari seorang bijak di atas merujuk. Namun rasa-rasanya saya termasuk pada golongan ”kita” tersebut. Sejak saya kecil, menurut ibu, saya tidak pernah mengalami demam setelah divaksin imunisasi. Saya juga tidak pernah sakit ketika angin malam menusuk badan kecil saya sewaktu dibonceng berdiri di depan, di vespa tua ayah saya saat bolak-balik antapani-banceuy pada malam hari selama beberapa tahun sejak awal 1990-an. Paling saya hanya meringis kesakitan saat sekali-kali puntung rokok ayah mengenai lengan saya. Itu pun segera reda setelah saya atau ayah saya mengoleskan ludah di atas luka panas tersebut.

Rasanya juga saya tak terlalu akrab dengan kebiasaan cuci tangan sebelum makan. Sejak kecil jika hendak makan, ya makan saja. Kecuali sebelum makan, saya bermain lempung, asyik dengan malam-malaman yang lengket di tangan, atau aktivitas lain yang membuat secara fisik badan dan tangan saya terlihat kotor. Bagaimana dengan bakteri atau virus? Ah,…pikiran saya tidak sampai kesana atau lebih tepatnya malas untuk memikirkan organisme yang tidak dapat saya lihat dengan mata telanjang. Lagipula organisme tersebut selalu digambarkan sebagai makhluk kecil  lucu dan imut pada mata pelajaran IPA selama saya duduk di bangku sekolah.

Yang selalu diingatkan ialah berdoa sebelum dan sesudah makan. Dan itulah yang masih dilakukan hingga sekarang. Saya lebih sering lupa untuk cuci tangan daripada berdoa. Semoga saja, dengan doa, kuman dan bakteri lekas terbang dari tangan saya sebelum saya memasukkan tangan ke mulut saya. Dan saya harap juga doa yang selama ini saya lakukan dapat menghasilkan semacam ramuan, partikel kimia, atau reaksi energi yang mujarab demi membunuh bakteri jahat di tangan dan tubuh. Amin

Ditambah lagi dengan kebiasaan jajan sewaktu istirahat dan pulang sekolah. Jajanan murah yang nikmat. Panganan mulai dari mie rebus, bakso, nasi kuning, dan bubur ayam. Sesaat sebelum masuk kelas, saya juga menikmati, cakue, basreng, batagor, siomay,  cireng, atau molen. Kudapan yang berlumur tebal saos berwarna merah pudar dan bumbu kacang, digoreng dengan minyak puluhan kali pakai. Setelah itu para pedagang meniriskan dagangannya, ditambah dengan sedikit hinggapan kaki dan mulut lalat, juga dilumuri oleh debu jalanan. Ahh,….asyik nian. Terkadang saya cepat ingin keluar kelas hanya karena memikirkan jajanan tersebut.

Setiap piring, mangkok, atau gelas kotor, pedagang mencucinya dengan air yang disimpan di sebuah ember hitam. Untuk menghilangkan bekas makanan yang merekat, mereka membilasnya cukup dengan kantong kresek hitam sebagai pengganti spoon. Tak sampai 10 detik waktu yang dibutuhkan untuk setiap piring kotor agar bersih—terlihat bersih–  kembali dan siap digunakan untuk pembeli lainnya. Dengan ini pedagang tak pernah kehabisan piring bersih. Juga mungkin lebih hemat karena tidak perlu membeli sabun cuci.

Seringkali juga saya merasa sayang untuk membuang makanan yang telah terjatuh ke lantai hingga akhirnya mengambilnya dan saya memakannya. Untuk membersihkannya, paling saya membilasnya dengan air mineral, itu pun jika di sekitar saya tersedia. Namun orang sekitar saya tetap melihatnya sebagai tingkah yang jorok dan melarangnya. ”Iiihh jorok, kotor, nanti sakit perut” Katanya. Ah,…tidak mengapa saya pikir. Pecuma saja kita melakukannya jika kita tidak terbiasa hidup higienis.

Belum lagi kebiasaan saya yang tak begitu mengindahkan jika terdapat benda, noda, atau binatang kecil yang menempel di minuman atau makanan. Selama tak mengubah rasa dan saya masih bisa mengkonsumsinya, itu masih bisa saya tolerir. Jika hanya rambut, semut, atau kotoran yang sekilas mirip ceceran lendir tipis berwarna putih yang kerap menyelinap di air putih, masih tetap saja saya konsumsi selama tak mengubah rasa dari minuman tersebut. Namun entahlah yang lain, mungkin mereka akan menolaknya dengan berbagai pertimbangan. Mungkin faktor estetis, terbiasa hidup higienis, atau alasan jorok dan jijik semata. Nilai pantas atau layak mungkin. ”Masa ada semut, rambut, atau blalala di gelas/piring saya!” Ya mungkin saja.

Lalu bagaimana dengan jajanan yang biasa saya konsumsi di warung seperti anak emas, krip-krip, chiki ball, keripik singkong rasa balado, juga keripik setan. Segala vetsin, msg, garam, cabai, pewarna makanan, pengawet, juga mungkin formalin begitu terasa nyaman di lidah. Belum lagi baso dengan banyak penyedap buatan, kuah penuh gajih, plus dua sendok penuh sambal. Dengan sentuhan kuah manis pedas, kuah bening, agak pedas, atau ekstra pedas dan variasi rasa lainnya. Yang penting sesuai selera dan pas di lidah.  Uihhhh……ini yang namanya selera nusantara.

Namun satu mangkok bakso seringkali tak cukup buat saya. Mungkin jika nambah satu mangkuk lagi baru pas dan seseg di perut. Apalagi jika makan masakan padang atau masakan pedas lainnya. Dengan menu wajib nasi, lauk, serta cocolan sambal, tambah hingga dua piring sesekali rasanya saya masih bisa menampungnya. Ah, dengan bekal makanan di atas rasa-rasanya saya siap untuk beraktivitas seharian penuh. Namun demikian itu tidak berarti proses pembakaran dalam tubuh saya berjalan berjalan sebagaimana mestinya sesuai asupannya. Terkadang hal tersebut tidak terbakar sebagai kalori dan hanya menguap begitu saja sehingga memicu saraf di sekitar mata lelah dan seketika membuat saya bisa tertidur di mana saja.

Hingga kinipun berbagai kebiasaan dan polah saya yang berhubungan dengan keperluan untuk mengisi perut masih sama. Tak ada yang banyak berubah. Masih sedikit jorok dan sangat tak higienis. Ya paling cuma sedikit timbul rasa takut ketika membaca artikel di internet tentang resiko pola makan tidak sehat. Itu saja. Selebihnya, tak berdampak apa-apa.

Lalu bagaimana dengan kondisi saya sekarang. Hati saya kini telah berkembang sedemikian canggih untuk menangkal berbagai racun yang masuk. Lambung masih cukup kuat untuk menerima caffeine dalam jumlah besar. Buang air besar lancar. Rasanya kini saya menjadi manusia kuat. Imunitas telah berkembang pada tahap yang paling tinggi. Segala jenis racun yang masuk ke tubuh sejak puluhan tahun lamanya perlahan dilawan oleh zat antibodi dan membangun tubuh saya menjadi tubuh yang sedemikian tangguh.

Ya.. tapi saya pun hingga kini tidak tahu apa yang kini sebenarnya terjadi di dalam tubuh. Yang bisa diketahui ialah semuanya masih terasa baik-baik saja. Ya, itukan sebatas ”rasanya”, ”kelihatannya”,dan “nampaknya”. Entahlah, mungkin telah banyak gejala yang timbul akibat dari berbagai bakteri, kuman, atau virus, namun saya tak begitu merasakannya. Atau tepatnya tak diindahkan. ”Ya paling sedikit ga enak badan dan besok juga pasti sembuh”. Tak tahu pula apakah pernyataan itu akan menimbulkan antibodi baru atau malah menambah tumpukan sampah di tubuh saya yang suatu saat akhirnya akan meledak dan membuat metabolisme berhenti bekerja.

Dengan makanan yang beraneka ragam—banyaknya sih makanan ga jelas, kotor, ga tentu kadungan gizinya, pokoknya asal enak dan kenyang, kondisi (kesehatan) lingkungan yang variatif— dalam kungkungan CO, sedikit berdebu, atau penuh limbah pabrik, dan perilaku sehari-hari yang seenak perut— tidur ga tentu jamnya, tak rutin mandi, dan masih banyak perlaku sungsang lainnya, saya masih (mungkin) sehat-sehat saja. Namun sialnya akhir-akhir ini pikiran saya sedikit terganggu. Gelontoran informasi tentang cara atau gaya hidup sehat—lagi tren barangkali, yang diutarakan oleh berbagai pakar malahan membuat kesehatan saya sedikit terganggu. Saya kira pakar tersebut memang handal membuat orang cemas. ”Haahh…memang ada banyak cara untuk mencari uang akhir-akhir ini”.

Oh ya perlu diketahui saja, kekebalan tubuh saya dalam menerima asupan hanya beberapa dari sekian banyak kesaktian yang saya punya. Di samping itu saya masih mampu mandi di sungai penuh limbah tanpa rasa gatal, naik motor tanpa rem, makan getah-getahan, menikmati minuman kadaluarsa,makan nasi basi, dan masih banyak sejuta aksi sakti saya lainnya.

Namun entah sampai kapan antibodi saya akan menyesuaikan dengan penyakit yang masuk. Sejauh ini antiodi yang terususun atas protein masih bersahabat dan mengenali musuhnya dengan baik. Tapi pernah satu hari akhirnya saya terbujur kaku. Tubuh lemas, rambut kering, muka pasi. Tapi, setelah diingat lagi apa saja yang saya makan dan kerjakan, saya tahu penyebabnya. Dengan perenungan mendalam disertai pembacaan akan pengalaman, sepertinya saya mampu mendiagnosis apa penyebab penyakit aneh yang saya derita. Lamat-lamat saya meyakinkan diri ”Ya, tidak salah lagi, pasti pasokan kuman bakteri dalam tubuh saya akhir-akhir ini di bawah ambang normal hingga membuat tubuh saya goncang”. Dan sejak itu saya mentahbiskan untuk kembali ke kehidupan normal sebagaimana sediakala. Hajar Blehh..!

***

Iklan

2 comments on “Hajar Blehh..!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s