♫ Indomie Seleraku ♪

Kami begitu sedih mendengar kabar penarikan Indomie di Taiwan dan Hongkong. Kami dan Indomie memiliki sejarah yang panjang dan ikatan emosional yang erat. Bagaimana tidak, makanan serbaguna tersebut telah menjadi bagian mendasar dari cara bertahan hidup kami. Sejak TK, saat waktunya makan, yang diberikan ialah mie tersebut. Ketika SD juga ia menjadi bekal makanan di sekolah. Praktis dan pas ukurannya di misting. Ketika SMP, saat istirahat sekolah mie tersebut yang kami makan saat lapar. Saat itu juga kami mulai mendamulnya. Memakannya mentah-mentah. Bagaimana caranya?

Inilah caranya. Oh ya, semua langkahnya harus dilakukan dan tak boleh ada satupun terlewati. Sama seperti tata cara wudhu atau sholat. Harus tartil. Jika ada yang terlewat berarti teu kaci atau tidak sah.

Pertama-tama, remas bungkusnya. Kedua, ambil bumbunya. Selanjutnya taburkan bumbu tersebut, dan yang terakhir ialah kocok-kocok hingga bumbunya merata. Ingat, harus sampai merata! Lalu bagaimana caranya agar bumbunya merata, tidak menggumpal di salah satu bagian tertentu atau malah hanya berkumpul di dasar bungkusnya hingga mie-nya terasa hambar. Untuk masalah ini tidak ada aturan yang “bakunya”. Kalian bisa mengocoknya secara vertikal atau horizontal sambil membuat gerakan jari memilin atau memijit dasar bungkus dengan tangan satunya, agar bumbu tak langsung mengendap ke bawah.

Tapi, bagaimana jika tips di atas telah dilakukan dan bumbunya masih tidak merata?Hmff (sigh)…… Perlu diingat langkah tersebut lebih mementingkan insting kalian. Ckckck. Dan, jika hal itu benar-benar terjadi, jangan-jangan ini bisa jadi merupakan preseden (Legek, belagu, biar kaya yang di tipi)  bahwa kalian tidak cinta dalam negeri, tidak menyatu dengan kultur negeri, dan tidak membumi. Parah pissannn…Kalian asing di negeri sendiri. Weleh..Weleh..

Sudahlah. Demikian singkat tips mendamul Indomie secara tartil. Kini kembali lagi ke bahasan awal. Ya, walau setelah smp, kebiasaan makan indomie tak mau berhenti begitu saja. Malah setelah SMA hingga kini kebisaan tersebut menjadi menu santap sehari-hari. Pagi makan gorengan (plus cengek (cabe rawit) dan lontong), dengan teman kopi dan rokok. Makan siang dengan mie (pake cengek, biar seger) pake nasi. Makan malamnya dengan Indomie dobel ga pake nasi.

Namun ada saat-saat yang paling nikmat untuk menyantap indomie. Pertama, dulu saat masih SD hingga sekitar SMA. Ketika kami kemping. PERSAMI atau sejenisnya. Saat  perut mulai keroncongan dan badan kedinginan, indomie menjadi ransum yang sangat nikmat ,walau tidak dimasak dengan benar-benar matang. Kedua, saat di tengah perjalanan atau bekunjung ke aneka tujuan wisata. Dalam kondisi ini niscaya panganan ini terasa nikmat karena ringan dikantung dan praktis untuk disajikan. Terakhir, dan mungkin terasa yang paling nikmat ialah memakan indomie dengan telor sehabis kalian kehujanan di perjalanan. Saat tiba dirumah, sehabis mengeringkan badan dan kepala yang kehujanan, indomie telor panas menjadi suguhan yang sangat amat nikmat. Dan jangan terlewat, biar tambah nikmat dan sambil menikmati suara hujan juga hawa dingin di luar sana, jangan lupa untuk membuat segelas teh manis panas sebagai teman selepas menyantap indomie-nya. Setelah itu kalian bebas dan akan merasa nikmat untuk melakukan apapun. Mau nonton teve, mendengarkan musik, siaran radio, mengutak-ngatik komputer, atau mungkin dilanjutkan dengan tidur.

Memakan mie di sini juga tidak berfungsi sebagai ritual, seperti orang Jepang atau Cina merayakan Tahun baru (Mesehi/Cina). Ya, bagi mereka makan mie ialah suatu tradisi yang merupakan simbol agar dapat berumur panjang umur. Sedikit aneh memang, kenapa di sini malah umur manusianya lebih pendek daripada di Jepang atau Cina sana? Padahal sepertinya, kita makan mie nya kan jauh lebih sering daripada mereka? Oh, Iya, mungkin di sini mengunyah mienya tak sempurna, jadi secara akumulatif dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan dan berakhir pada kematian. Ya mungkin saja. Tapi sepertinya ada satu yang cukup pasti. Bahwa di sini makan mie, ya makan. Makan untuk bertahan hidup dan tak ada estetisasi dibaliknya.

Oh ya, katanya indomie untuk pasar di Jepang sana,  tidak menggunakan kecap di dalam bumbunya. Brrrrr….Apa rasanya indomie (goreng) jika tidak pake kecap (manis) di dalamnya. Hah, daripada makan indomie goreng dengan tak ada bumbu kecap manis di dalamnya, lebih baik kami mengundurkan diri sebagai WNI. Ya, benar! Kalo makan indomie harus make kecap. Dan kecap ya, rasanya harus manis. Tidak asin atau rupa rasa yang lain. Yaaa, Kalo kecap tidak manis, yaaa itu namanya bukan kecap. Kecap manis kan ada kaitannya dengan identitas bangsa juga.

Tuh kan, sudah terbukti bagaimana indomie amat dekat dengan kehidupan kami. Kami tidak bisa lepas dari yang namanya indomie. Maka, ketika kami mendengar berita penarikan indomie di Taiwan, kami begitu sedih. Panganan kami ternyata tak dianggap layak makan. Indomie yang merupakan sebagain dari identitas kami hanya dianggap sebagai zat berbahaya.

Jadi tolong jangan tarik indomie dari peredarannya. Apalagi di Taiwan sana banyak saudara-saudara kami. Indomie menjadi salah satu cara untuk tetap bisa merasa dekat dengan tanah airnya. Hanya indomie yang menjadi makanan instan bagi mereka. Selain rasannya tentu saja harganya yang murah meriah. Yah, walaupun tidak terlalu bergizi, tapi mereka tetap suka dan menjadi pilihan rasional bagi mereka untuk bertahan hidup. Merek berhemat dengan memakan indomie sambil menyisihkan sebagian penghasilan mereka untuk dikirimkan ke kampung halamannya. Mulia kan. Berkorban dengan hanya bungkusan indomie demi keluarga tercinta.

Maka dari itu, di akhir kalimat ini, marilah kita bernyanyi demi kemaslahatan bersama dan kesepahaman akan identitas bangsa…..

Kalian pasti hafal lagunya, seperi jingle iklannya di teve yang sempat dipake juga untuk kampanye presiden.

Satu. Dua.Tiga.

♫ “ Iiiindoomieeee Seleeeraaakuuu”♪

Iklan

5 comments on “♫ Indomie Seleraku ♪

  1. Ping-balik: Mengapa Indomie Amat Digilai? | PERGURUAN MENULIS–aliran bebas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s