Koin Telepon

Izinkanlah kami memperkenalkan diri. Kami merupakan makhluk nir-ponsel yang walau mempunyai ponsel namun cenderung tak acuh padanya. Maksudnya ialah ponsel kami tak selalu ada di genggaman tangan, tak ada di saku celana, di tas juga tak ada. Setiap kami bepergian kami cenderung malas untuk membawa ponsel, apalagi sedang tidak ada pulsa.

Kami tidak begitu mobile. Telepon jarang diangkat, sms lama dibalas. Kami juga tidak banyak melakukan kegiatan sms, menelepon, atau browsing di ponsel. Dan untuk hal terakhir disebutkan malah mustahil, mengingat layanan GPRS pun tak dimiliki ponsel kami. Ponsel tersebut sudah kami miliki selama 6 tahun. Namun tak ada pernah ada satu masalah yang menimpa ponsel tersebut. Hanya warna bodinya saja yang meluntur dan ketahanan batre yang telah amat menurun. Oh ya, chargeran batre pun sudah pernah ganti sekali.

Ya, ponsel kami memang sedari dulu tidak pernah mengalami masalah berarti sehingga harus di service dan harus menunggu berhari-hari. Kegiatan yang nampaknya cukup sering dilakukan oleh para pengguna ponsel-ponsel canggih. Rusak ininya, rusak itunya, ga ngerti ininya, bagaimana cara aktivasi ini dan itu. Bolak-balik counter, tempat service. Dan tak jarang berujung dengan kekecewaan yang akhirnya mereka sampaikan melalui surat pembaca di koran.

Untuk ponsel kami, hal di atas tidak pernah terjadi. Walau sekalipun.

Ya, iyalah!

Ga pernah rusak ininya atau itunya. Lha wong di ponsel kami tidak ada fitur apa-apanya. Mau rusak apanya !Heh… Ponsel kami kan berfilosofi nothing to lose. Mau rusak atau hilang apanya? Kan ga ada apa-apanya di ponselnya. Jadi, ya ikhlas saja dengan kondisi ponselnya.

Oh, ya ponsel kami dulu dibeli seharga sekitar 800.000. Gress! Garansi resmi satu tahun dari Nokiyem Indonesia. Surat-suratnya pun masih lengkap hingga sekarang. Fitur hiburan kami dalam ponsel ini tentu saja games-nya. Ada tiga game di dalamnya. Bounce, Mobile soccer, dan Millenium mission. Game pertama sudah tamat, karena tahu cheat-nya. Game kedua juga sudah, karena mampu menciptakan 6 gol dalam 2 menit. Hanya game terakhir saja yang belum tamat. Musuhnya susah sih dan levelnya banyak….

Ok. Cukup review ponselnya. Kini kembali lagi pada masalah yang kami alami. Bahkan banyak kawan pun yang kesal karena begitu sulitnya mengubungi kami. Serupa seperti orang sibuk ,kami amat sulit dihubungi. Lha Jadi? Apa bedanya kami yang pengangguran dengan orang penting yang sibuk? Ya tidak ada bedanya. Kami kan sama-sama sulit untuk dihubungi. Jadi kalau kami sulit dihubungi, alasannya ya sedang sibuk. Boleh kan?

Maka dari itu, kami mengharapkan banyak fasilitas dalam berkomunikasi jarak jauh tanpa sepenuhnya bergantung pada ponsel. Misalnya telepon umum atau wartel. Dan kami juga tidak terlalu membutuhkan warung sms. Terlalu mahal, fungsinya tidak signifikan, tidak efisien dan hanya satu arah! Kalau warnet kami sering membutuhkannya, karena di website kami dapat menemukan web untuk sms atau telepon gratis. Namun yang terpenting ialah kami ingin telepon umum tersebar di mana saja. Dan tentu saja masih berfungsi.

Sudah amat sering kami ngedumel karena kesal tidak dapat menemukan telepon umum yang berfungsi dan wartel yang masih buka ketika kami amat membutuhkannya. Tak ada bedanya di pinggiran kota atau di pusat kota, mencari kotak telepon umum atau wartel adalah hal yang amat sulit. Bahkan di kota pun, kami pernah berjalan lebih dari 1 kilometer hanya untuk mencari telepon atau wartel. Itu pun pada akhirnya kami jadinya memilih warnet, karena satu-satunya wartel yang kami temui telah tutup dan tak ada satupun telepon umum yang kami temukan.

Ya, kini, nampaknya lebih mudah untuk mencari tempat isi pulsa daripada mencari telepon umum. Tiap berpuluh atau sejauhnya ratusan meter, kita pasti akan mudah untuk menemukan warung pulsa di pinggir jalan.

Namun pernah suatu ketika kami mencari telepon umum atau wartel. Kala itu telah hampir seminggu lebih kami tidak memegang ponsel. Maka, kami mencoba mencarinya. Namun, setelah lama mencari, akhirnya kami memutuskan untuk menanyakan wartel terdekat kepada pedagang lumpia basah. Ia pun menjawabnya.

Aah, didieu mah wartel tos tarutup A. (Aduh, di sini wartelnya sudah pada tutup mas)” ujar si penjual lumpia

Oo kitunya (oo gitu ya)” kami menjawab sambil berpikir apakah wartelnya telah tutup atau telah bangkrut.

Namun kami tertolong oleh rekomendasinya saat itu

Eta we atuh A telepon umum ( make itu saja mas, telepon umum)”. Ujar si penjual lumpia sembari menunjuk telepon umum yang ada tepat diseberang jalan.

“Tiasa keneh kitu pak (masih bisa gitu pak)” jawabku dengan sedikit kerutan dahi, tak yakin bahwa telepon umum tersebut masih bisa digunakan.

Tiasa, tiasa, yeuh pake we koin ieu (bisa, bisa, nih, pake aja koin ini)” Balas Si Emang memastikan, seraya memberiku uang recehan seratus rupiah yang berbahan plastik.

Ada sedikit rasa canggung ketika menerima koin seratus darinya. Tapi bagaimanapun kami amat berterima kasih padanya. Yang jelas koin yang ia berikan tersebut, pada saat itu gunanya  dua kali lebih besar dari nominalnya.

Sampai disitu kami masih belum terlalu yakin bahwa telepon umum yang di seberang jalan tersebut masih berfungsi. Namun kami segera memastikannya. Kuperhatikan sepintas rupanya. Bentuknya sama seperti telepon umum lainnya. Fisiknya juga masih terbilang bagus, terbukti masih berfungsi hingga saat ini. Hanya ada tulisan ”bisa pake esia” yang nampak digurat menggunakan benda keras tepat di atas layar digital sebagai cacatnya. Hmm, informasi yang sedikit berguna.

Saat kami mengangkat gagang teleponnya, rasa kikuk datang tiba-tiba. Kami angkat gagang telepon, memasuk-kan koin, dan kami tekan nomor tujuan. Pada kesempatan yang pertama ini kami salah memencet nomor yang dituju. Segera kami masuk-kan lagi telepon ke sandarannya untuk menggagalkan nomor yang kutuju. Baru pada kali kedua kuberhasil menekan nomor tujuan dengan benar. Dan akhirnya kami tersambung.

”Halo-halo” Kami berbicara dengan yang diseberang suara dengan nada setengah beteriak, padahal suasana di situ tidak ramai. Ya maklum begitu terbiasa. Taunya kan kalo make telepon umum harus teriak-teriak biar kedengeran di ujung kabel sana.

Ya itulah sedikit pengalaman kami tentang telepon umum. Telah begitu pesimisnya kami akan telepon umum, hingga membuat kami terkaget saat melihat ada diantaranya yang masih berfungsi. Betul.Telepon umum yang berfungsi di kota kini, layaknya oase di gurun pasir.

Ah seketika hal di atas membuat kami teringat pengalaman saat dulu menelepon kekasih tersayang lewat telepon umum. Saat rutin menelepon atau saat memberi ucapan selamat ulang tahun, kami tak jarang harus setengah berteriak untuk mengucapkan kata-kata romantis padanya. Hal yang membuat kami sedikit malu, karena bagaimanapun, walau sepi tetap saja, kami mengucapkan kata-kata tersebut di pinggir jalan. Apalagi ia kerap tidak mendengar/ pura-pura tidak mendengar kata-kata yang kami ucapkan tersebut. Apa-apa, ga kedengaran, ucapin sekali lagi. Begitu kira-kira ucapan dari pacar di ujung telepon sana.

Brengsek! Tau nelepon di pinggir jalan, malah menta kami mengucapkan kata-kata romantis sambil setengah teriak di pinggir jalan (ujar kami dalam hati).Hahaha. Sedikit nostalgia.

Namun tetap. Yang jelas kami membutuhkan telepon umum. Kami juga sempat sumringah ketika banyak orang membeli ponsel dengan fasilitas internet di dalamnya. Ya, kami pikir kami dapat menggunakan email sebagai alternatif dalam berkomunikasi sehari-hari. Namun apa daya. Mereka lebih suka menggunakannya untuk berkomentar atau berkicau. Yah, lagi-lagi kami dibuat lesu karenanya.

Akhirnya, di tengah ketidakberdayaan, kami hanya bisa berdoa dalam hati. Berdoa dengan khusyuk kepada tuhan juga kepada para provider telekomuniaksi yang mulia.

Kepada Tuhan, terutama kepada para provider yang mulia: Mohon…, jangan selalu paksa kami untuk terus menggunakan ponsel. Ya kami tahu, kami hidup di dunia yang serba mobile, tapi kami merasa cepat lelah jika terus bergerak. Kami juga tidak ingin selalu terus bergerak. Kami hanya ingin ada alternatif lainnya yang membuat kami jauh lebih dekat dan hangat. Amin

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s