Mengapa Kami Tidak (Begitu) Suka Toilet Kering

Kami selalu bersyukur saat bisa buang air besar dengan nyaman, rutin tiap harinya.Percaya atau tidak hal tersebut berpengaruh banyak pada rutinitas kami. Coba, saja jika pada suatu hari kami mengalami masalah pencernaan, pasti kegiatan dan jadwal kami seharian akan kacau balau. Pikiran tidak tenang, keluar keringat dingin hingga bolak-balik kamar mandi. Walhasil kami tak bisa melakukan apapun.

Ya memang benar. Kami selalu bersyukur bahwa kami masih dapat buang air dengan tenang, nikmat dengan berkecukupan air. Bayangkan, banyak orang di sana, yang bahkan untuk buang air saja tak karuan rasanya. Di tengah bencana, banjir, kelaparan, kekeringan, atau di tengah perang. Jadi ya, saat kami berjongkok di kloset kami benar-benar merasakan suatu kenikmatan yang luar biasa.

Ide, inspirasi, dan gagasan-gagasan brilian pun kerap muncul dari toilet. Kami biasanya menyebutnya Toilet Idea. Seolah di tempat ini kami mendapat pencerahan. Seperti layaknya Zen aliran selatan di Cina yang menganut gagasan pencerahan spontan (tidak secara bertahap dengan semedi) yang kapan dan dimana saja bisa mendapatkan pencerahan. Jadi, ya kami tidak perlu belajar Zen, berguru ke banyak pendeta di daerah terpencil. Kami bahkan telah mempraktekkan dan mendapatkan banyak pencerahan.

Namun dalam banyak kesempatan berbagai pencerahan yang hendak kami cari kerap terhambat. Banyak hal yang menghambatnya. Dan diantaranya ialah kondisi tempat pencerahan yang tidak mendukung. Atau kata lainnya ialah toilet yang kami gunakan tidak nyaman. Tepatnya bukan kloset jongkok yang kami gunakan melainkan kloset duduk, toilet kering, dan berbagai inovasi canggih dalam dunia per-toilet-an.

Entah, kenapa kami selalu tak terbiasa dengan yang namanya kloset duduk. Rasanya ada yang ganjil. Buat kami posisi buang air ialah jongkok bukannya duduk. Posisi duduk buat kami ditujukan bagi posisi kami saat hendak duduk di kursi, atau banyak aktivitas lainnya dan bukan untuk buang air (besar). Jadi, penukaran posisi dari jongkok ke duduk ketika kita buang air tentu tidak bisa dilakukan begitu saja.

Maka, sedikit bohong rasanya jika kami mendengar cuap-cuap orang terkenal di teve bahwa budaya anu sudah hilang/sudah tidak ada/sudah dihapus di suatu institusi tertentu. Bagaimana bisanya mereka dengan enteng berbicara bahwa suatu budaya telah hilang atau dihapus dalam waktu yang sebegitu singkat. Berbicara layaknya budaya ialah hajat yang dapat mengalir dan hilang begitu saja setelah kita tekan tombol flushnya. Enak saja bicara demikian, kami saja yang ingin mengubah/ menyesuaikan perkara posisi buang air ke posisi duduk pun susahnya menta ampun…

Selain itu, tentu kami pun merasa asupan dan cara hidup kami tidak sesuai dengan posisi duduk tersebut. Dengan asupan bahan dasar makanan yang cenderung keras, pola makan yang seenaknya, waktu mengunyah makanan yang singkat, dan ditambah dengan masalah pencernaan lainnya tentu posisi duduk terasa tidak nyaman atau dalam kondisi tertentu malah menyiksa. Jadi, toilet modern diasosiasikan dengan kecanggihan belum tentu juga dapat memberikan kemudahan bagi kami.

Namun kegoncangan di toilet karena teknologi tak sampai di situ saja. Kami kerap lebih kelimpungan tujuh keliling jika menghadapi kamar mandi tanpa bak dan gayung. Jika kami bermain ke rumah kawan yang mewah, sesekali menginap di hotel atau menginap di rumah sanak saudara yang pernah lama tinggal di luar negeri, hal inilah yang sering kami temui.

Wah pusingnya memang bikin mood hilang. Ya, ketika bertemu kamar mandi bertipe demikian, antusiasme ketika hendak mandi pagi luruh, kenyamanan ketika hendak buang air menghilang, dan kami menjadi lebih segan atau risi, bahkan hanya untuk masuk ke kamar mandi tersebut. Namun apa, mau dikata, situasi kerap memaksa kami menggunakan toilet jenis tersebut.

Bagi kami sebenarnya tak terlalu masalah apakah itu kloset duduk, jongkok, tengkurep, telentang, atau kalo ada jenis-jenis toilet lainnya. Begitu juga toilet kering, basah, atau setengah basah. Yang menjadi masalah buat kami ialah telah sejak bayi, sejak kecil, sejak puluhan tahun yang lalu, persepsi kami tentang kamar mandi dan cara beraktivitas di dalamnya bukan seperti yang dituliskan di atas.

Ke kamar mandi, bagi kami memiliki asosiasi yang erat dengan air. Dan air di sini bukan sembarang air. Masuk ke kamar mandi, berarti kami siap melihat bak, gayung, ember, kloset jongkok, dan lantai yang basah.

Jika kami mandi, air harus tersedia di suatu wadah. Entah di bak, ember, jolang, atau mungkin di sungai. Mandi yang asyik itu ya dengan disertai suara byar byur air yang membasuh ke tubuh dan lantai. Walau sesekali mandi dengan shower terasa nikmat, tapi tetap saja mandi dengan shower tak begitu terasa seperti mandi bagi kami. Airnya kurang terasa di badan mungkin ya. Lagipula, terlalu lama rasanya, jika mandi menggunakan shower. Kami kan biasa lamanya saat jongkoknya bukan saat mandinya.

Lalu, bagaimana dengan bath tube. Hah..apalagi itu. Ya jawaban kami jelas. Ia tidak masuk dalam kamus perkamar-mandian kami. Titik.

Yah…Begitulah. Kebiasaan kami saat di kamar mandi. Ruangan kecil dan aktivitas di dalamnya yang memiliki peran tersendiri dalam hidup kami. Dan tentu amat kami syukuri. Ia kerap membuka aktivitas kami di pagi hari, membasuh peluh, membasahi tubuh, dan sedikit-banyak melepaskan beban hidup kami. Terlepas dari enggannya kami naik tangga dalam evousi teknologi per-toilet-an atau sulitnya kami beradaptasi terhadap teknologi tersebut, pada akhirnya kami selalu bersyukur masih bisa mandi byar byur dan santai nongkrong sambil melamun. Selamat merenung.

***

Iklan

5 comments on “Mengapa Kami Tidak (Begitu) Suka Toilet Kering

  1. kreatif deh tulisannya,.. jarang – jarang ada orang mau nulis beginian….

    karya kamu harus kuakui memang inspiratif dan ada nilai seninya juga,. sekalian aja bikin cerpen atau puisi tentang toilet,..
    (aku serius lho,.. bukan bermaksud mengejek atau apa, tapi kalau ada puisi tentang toilet menarik juga tuh,.. hehehehhehe)

    kalau boleh tau,.. ide ini di dapat darimana ? jangan – jangan pas lagi BAB nih,.. hehehehehhe

  2. haha….yang penting bs menghiburlah…..
    wah asyik dan lucu jg tuh cerpen/puisi tentang toilet….
    hmmm..idenya sih ga dateng dari mana2, cuma dateng gitu aja 😀

  3. Betul sekali, kamar mandi memang menjadi salah satu tempat yang penuh kejutan bagi banyak orang, termasuk saya salah satunya.
    Ide-ide liar seringkali bermunculan di sana, bahkan tidak jarang keputusan-keputusan yang harus saya ambil dalam hidup saya lakukan di kamar mandi. Saat BAB, sabunan, sikat gigi atau dengan meletakkan ke dua tangan di bak sambil mengarahkan pandangan ke air.

    Kamar mandi kering memang kadang membuat sungkan, takut bikin basah lantai, takut basahin keset penghangat kaki di depan toilet duduk berada dan lain sebagainya.
    Tapi enaknya nggak perlu lepas kaos kaki 😀

    Bagi saya, bagaimanapun toiletnya asal itu bersih dan GRATIS serta tidak perlu mengeluarkan uang 2000ribu, puji tuhan sekali 🙂

    Cheers
    TranceButton

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s