Eat, Shit, Then Sleep

Makan, Buang Air, lalu Tidur

Pertama. Tulisan ini bukan dibuat untuk melecehkan, menyepet, menghina, atau untuk menandingi pihak tertentu.  Ini hanya dibuat sebagai refleksi atas kehidupan kami yang super malas. Katanya! Betul sekali. Judul tulisan ini kasarnya bisa dilihat sebagai rangkuman hidup kami yang telah dijalani selama ini. Kehidupan yang djalani oleh makhluk yang memprihatinkan, tak ada harapan, dan tak patut diberi belaskasihan.ckckckck….

Tentu jelas berbeda antara Eat, Pray ,and Love dengan Eat, Shit then Sleep. Ya Eat, Pray, and love, dari judulnya saja telah memancarkan suatu energi positif pada khalayak pembaca. Menggambarkan suatu kedalaman spiritualisme dengan disertai keharmonisan duniawi. Juga merefleksikan keseimbangan antara antara manusia sebagai mikrokosmos dengan jutaan partikel lainnya di alam semesta. Ya intinya keteraturan, berjalan sebagaimana mestinya, atau gampangya sehat jasmani dan rohani lah….

Sebaliknya, Makan, Buang Air , lalu Tidur, menggambarkan suatu kemuraman. Ketidakstabilan dan Ketidakberaturan. Menyiratkan suatu kemalasan khalifah yang galibnya dapat menjadi pemimpin di dunia fana. Selain itu juga, tulisan ini sepertinya memperlihatkan jompangnya kehidupan jasmani dan rohani, antara dunia dan akhirat. Apa iya?

Ya hidup kami ya itu-itu saja. Antara makan, buang air, lalu tidur. Selain itu paling hanya sedikit main atau kerja. Itu, ya itu saja. Kami tak bisa banyak berbuat apa-apa lagi. Ketika makan ya makan. Makan ialah untuk mengisi perut yang lapar. Tak ada keinginan kuat dari kami untuk mencoba berbagai makanan yang ada di luar sana. Selain itu makan harus dihabiskan. Ritualnya hanya berdoa, makan, dan diakhiri dengan cuci piring.

Kemudian setelah makan dan sedikit beraktivitas, paling kami setelahnya ingin segera buang air besar. Berjongkok dengan santai sambil sejenak melepas lelah. Setelah itu kami langsung beraktivitas lagi. Ya bekerja atau apalah. Pekerjaan kami walau tidak menguras pikiran yang begitu dalam seperti orang kantoran, tapi cukup membuat kami terlelap pulas di malam harinya.

Sama. Kami pun bekerja dari pagi hingga petang. Terus jalan dari sini ke situ.Di tanah lapang, dengan kaki telanjang atau sandal capit, matahari tak pernah membuat kami berhenti bekerja. Maka topi seharga sepuluh ribu pun sangat bermanfaat bagi kami. Air yang kami bawa satu jeriken pun terasa begitu nikmat untuk diminum saat kami bekerja. Apalagi sebelumnya kami juga menyantap nasi lalab, seplastik sayur lodeh dengan cocolan garam yang kami bawa sendiri dari rumah. Piringnya juga dari daun pisang. Oh ya, dan tidak mahal. Makanan seperti itu kan sekarang mahal harganya……..

Ya, hanya begitu. Kami tidak pernah berpikir untuk berpindah ke lapangan kerja lainnya. Kami sangat mencintai pekerjaan kami. Kami juga percaya segala perbuatan kami akan mendapat balasannya kelak. Entah kapan.

Setelah lelah, sekali-kali kami mencoba menghibur diri. Sesekali kami menonton teve. Itupun lebih sering ketiduran. Maklum, kami begitu lelah. Tapi itu saja cukup.  Besoknya kami harus siap bekerja lagi. Ya, mau bagaimana lagi.

Kami pun rasanya tidak mengenal apa itu weekend atau weekday. Apa pula itu. Kerja kami kan sepanjang minggu. Lagipula buat kami tak begitu jelas antara kerja, santai, liburan, dengan ibadah. Ya, rasa-rasanya, kami percaya segala yang kami lakukan ialah ibadah. Semata-mata hanya untuk bertahan hidup, demi keluarga, dan sisanya untuk Allah SWT.

Sesekali. Ya, sesekali. Sangat jarang sekali. Kami ingin pergi ke suatu tempat wisata. Bersama keluarga dengan menyewa kendaraan, mobil bak terbuka, atau dengan kendaraan umum. Namun justru karena jarang itu, liburan kami menjadi hal yang tak pernah terlupakan dalam hidup kami.

Tapinya juga, walau tak terlupakan, tapi entah kenapa liburan kami justru sering terlupa. Bingung kan? liburan yang tak terlupa namun sering terlupakan. Ya terserahlah…Kalian saja mungkin yang bingung. Kalau kami sih ga pernah bingung. Bahkan dengan hidup kami. Tak penah sekalipun bingung, galau ataupun mempertanyakannya. Oh ya, walau kami tak pernah mempertanyakannya, namun bukan berarti kami dungu lho….

Kami juga menikmati tidur kami. Tidur tanpa tedeng aling-aling. Tidur karena tubuh kami lelah. Kami tidur tepat waktu dan bangun tepat waktu. Karena itu kami selalu sehat. Walau kami tak punya hari libur, namun karena timeslot rutinitas kami sangat jelas, kami merasa selalu cukup untuk beristirahat. Sangat jarang kami susah untuk tidur. Tidur buat kami ialah suatu kenikmatan tiada tara.

Yahh….walau kami tak sempat menikmati hidup. Walau kami tak banyak menikmati sensasi banyak makanan atau berkunjung ke banyak tempat indah dunia, tapi kami tetap selalu berdoa sepanjang hidup kami.

Kami tahu benar untuk apa hidup kami. Untuk apa pikiran dan tenaga kami.

Hidup ya hidup. Dan hidup kami tak hanya untuk Makan, buang air, lalu tidur.

 



Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s