Apa Jadinya Hajatan tanpa Buah Pisang!

Suatu hari kami mengadakan hajatan di rumah. Acara syukuran yang dihadiri oleh keluarga, sanak keluarga dari garis ayah juga ibu. Segalanya telah siap. Kami memasak segala hidangan sendiri dengan dibantu beberapa kerabat dekat. Kami tidak memesan katering karena khawatir ihwal higienitas makanannya. Jadi kami lebih memilih memasak sendiri.

Haha..Bohong deng. Kami tidak memesan katering yang karena kami tidak mampu, karena mahal, dan karena kami kismin. Lagipula sejak kapan higienitas menjadi prioritas utama kami dalam mempertimbangkan berbagai hal. Pertimbangan utama kami ialah bagaimana perut bisa terisi alih-alih risih akan masalah kebersihan.

Namun saat hajatan hendak dimulai, kami lupa akan satu hal. Hidangan penutup yang hampir ada di setiap acara syukuran, hajatan, atau kawinan. Nama hidangan ini ialah pisang. Ya Pisang, cau,gedang, atau banana. Ah, hampir saja kami menciptakan blunder. Apa jadinya hajatan tanpa hidangan penutup pisang. Pisang muli, ambon, raja, juga bisa, asal jangan pisang yang berbiji saja. Maksud kami pisang yang memiliki biji-biji kecil di dalam buahnya.

Konon buah ini berasal dari Papua Nugini (coba cek saja). Pisang juga merupakan buah khas daerah tropis dan nampaknya bisa tumbuh sepanjang musim di sini. Tentu saja pohon pisang ini mudah ditemui di banyak tempat hingga kini. Jika saja ada lahan-lahan kosong di sekitar rumah, biasanya kita dapat menemukan pohon ini. Di kebun, di pinggir lapang, dan lapangan tak terurus biasanya kami menemukan pohon pisang. Tapi itu dulu. Mungkin sekitar 10 tahun kebelakang. Sekarang nampaknya kita jarang menemuinya, apalagi di daerah perumahan. Ya perumahan, kompleks dengan atau tanpa cluster yang menempatkan banyak satpam di gerbangnya. Dan Bukan di perumnas.

Kami juga tak tahu apakah ada pembudiyaaan pohon pisang atau lahan luas khusus yang seluruhnya ditanami pisang. Tapi kalaupun ada pasti di dalam buahnya terkandung banyak petisida atau zat pengawet lainnya. Ya, lebih enak makan pisang yang ada di kebun belakang rumah atau beli di pasar. Oh ya, kami juga suka sedikit curiga dan jijik jika melihat pisang yang besar dan warnanya kuning di toko-toko buah ternama. Entah kenapa, Rasanya seperti bukan makan buah tropis. Warnanya kuning mulus mencurigakan dan perawakannya besar seperti disuntik silikon disana-sini. Yang sehat sepertinya buah yang warnanya kuning, hijau, dengan bercak-bercak hitamnya.

Ngomong-ngomong tentang pisang. Buah ini juga banyak dimakan oleh atlet tenis sebelum pertandingan. Dulu ketika zamannya Ander Agassi kami pernah menonton pertandingan (tentu saja lewat teve) beberapa kali dan melihat banyak atet memakan pisang. Katanya buah pisang ini dapat memberikan energi dengan cepat saat pertandingan karena kandungan karbohidratnya. Namun yang terpenting ialah buah ini mudah diserap tubuh dan kandungan gulanya rendah. Jadi, untuk mendapatkan sumber energi secara cepat saat bertanding, ya solusinya ialah makan buah pisang. Masa buah duren, apalagi nasi padang……..

Namun kini saya jarang lagi melihatnya. Mungkin kandungan vitamin dan zat berguna lain dalam pisang telah digantikan oleh produk lainnya yang lebih praktis namun belum tentu ekonomis. Tapi, aneh juga rasanya karena tak ada atlet tenis disini yang mampu berkompetisi di arena internasional. Padahal kan mungkin konsumsi pisang oleh atlet dalam negeri lebih sering daripada atlet luar nagrek. Bagaimana tidak, selain harganya murah, hampir di tiap hajatan pun mereka pasti dapat menemukan pisang.

Tapi ya, tidak disetiap hajatan kami dapat menemukan buah pisang. Di hajatan-hajatan yang canggih dan kebarat-baratan saya kerap tidak menemukannya. Wah di hajatan seperti ini, Insya Allah kadar gula dan lemak makin bertimbun setelah pulang darinya. Walau makanannya kaya rasa, tapi miskin zat yang berguna bagi tubuh. Jadi bagi yang takut gendut, pastikan apakah ada menu pisang atau tidak. Jika ya, cukup makan saja buah pisang, salaman, dan segera pulang. Tapi jangan lupa nyecep (ngamplop) dulu.

Selain itu kami juga punya usul. Bagaimana kalau developer real estate menjadikan pohon pisang sebagai pohon hiasan di taman atau boulevardnya. Wah, asyik sepertinya. Jadi ga usah tanaman-tanaman mahal yang ditanamnya. Cukup pohon pisang saja. Tak perlu repot urus sana-sini dan saat panen pun warga bisa mengambilnya. Murah, efisein, sehat, dan sesuai dengan konsep green living dan back to nature. Yah walau mungkin pohon pisang terkesan aga angker, apalagi malam hari, tapi kan hal ini dapat disiasati dengan memasang lampu-lampu hias disekitarnya. Niscaya perumahan ini akan terlihat indah. Apalagi jika jantung pisangnya diliputi oleh temaram lampu hias. Wah pasti cantik nian.

Kami pun sempat keanehan ketika teman dari teman kami yang berasal dari Jepang diajak ke pasar. Dan mereka begitu sumringahnya melihat pisang. Banana….Banana…Banana…!kata mereka dengan semangat. Mungkin buah ini salah satu buah favorit orang Jepang juga, ditambah harga pisang disini murah bagi kantong mereka. Apalagi bagi orang Tokyo atau Osaka yang dikenal dengan kota dengan biaya hidup paling mahal sedunia.

Tuh kan, telah terbukti bahwa pisang yang kerap kami temukan di banyak acara hajatan banyak fungsinya. Untuk hiasan, kreasi makaanan seperti pisang aroma, molen, atau pisang hijau, juga bagi kesehatan. Mmm, saya juga punya usul terakhir, bagaimana kalau di samping lambang garuda visit Indonesia disematkan juga gambar pohon pisang. Insya Allah, wisman pasti akan banyak berkunjung, karena pisang merupakan buah truly South East Asia.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s