Kenapa Kami Benci Youtube?

 

Kami selalu riang menyambut perkembangan teknologi, terutama IT. Sukacita kami menyambut hal-hal baru yang keluar seputar gadget canggih dan inovasi-inovasi lainnya. Sejak awal tahun 2000-an kami kira perkembangan teknologi, utamanya internet telah banyak dijamah oleh banyak orang. Internet kini lebih terjangkau. Ia kini dapat lebih menyapa banyak orang di penjuru lokasi. Membuat kami tertawa sendiri di depan layar komputer dan ponsel kami. Satu lompatan hebat! Kapan lagi manusia bisa ketawa-ketiwi, gusar emosi, di depan benda mati yang berisikan suara, teks dan gambar bergerak.

Dan kini setidaknya kawan kami dan dari yang banyak kami lihat di teve, internet telah lebih dalam mengambil hidup dan waktu. Dengan teknologi GG an, 3 G, 3.5 G atau ¼ G mungkin, internet kini juga memberikan layanan yang lebih baik. Kini kami tak kalah lagi dengan negara-negara maju lainnya. Internetan murah dengan kecepatan yang cepat pula. Suatu hal yang pasti membuat nenek moyang kita tertawa bahagia di kehidupan bakanya.

Apalagi kini banyak provider yang begitu bersemangat mengiklankan kecanggihan internetnya. Kecepatan berapa Mbps lah, Gbps lah dan sebagainya. Dan sebagai konsumen yang budiman tentu kami mempercainya. Kami sih iya-iya aja. Mau kecepatannya berapa pun juga. Paling kami cuma dinding-dindingan di FB, twitteran, chat, video chat (yang gambarnya kotak-kotak plus nge lag pula) atau paling banter upload foto atau unduh musik lah. Yah dapet kecepatan di sekitar kbps pun kami cukup bahagia. Tinggal download terus ditinggal tidur atau buang air, dan setelahnya seketika downloadan kita pun selesai. Cepat kan, ngga kerasa lagi…..

Tapi belakangan ini kami dibuat sedikit gusar. Ketika bertemu dan ngobrol dengan kawan kami di ujung kabel sana, mereka kerap memberikan referensi berupa link di website youtube. Awalnya kami selalu bersemangat membukanya. Tapi lama-kelamaan kok cape ya membukanya. Gile…… bufferingnya bisa berkali-kali lebih lama dari playtime filenya.

Kawan kami pun kerap menyerah lebih dulu ketika diberi  referensi berupa file multimedia tersebut. Yah lemot buffernya bos atau ga bisa buka filenya, lagi OL di Hp neeh. Begitu kira-kira keluhan kawan kami. Yah maklum saja kampanye 3G kita masih dusta belaka. Walau telah masuk pada era multimedia, tapi disini, suara, teks dan gambar bergerak tak bisa berharmoni satu sama lain.

Yah… mau bagaimana…dipaksain siih……! Bikin banyak galian kabel anu lah, kabel itu lah. Kabel serat optik, kabel listrik, dan entah kabel apa lagi. Kabel optik fiber dipaksain, tumpang tindih, dan campur dengan banyak sampah. Hasilnya bukan cepet internetan yang didapat, malah macet,becek, dan banjir jadinya. Selain itu, pasang pemancarnya di kota, gembar gebor iklannya sampe ke desa. Ya ..lemot dong internetnya. Ah…ngacoo!

Brengseknya mereka ngasih kami banyak harapan dengan keterbatasan fasilitasnya. Internetan murah, tak terbatas dengan biaya hanya sebesar blablala rupiah. Gratis ini Gratis itu…dan rayuan promo lainnya. Yahh memang kami akui sih, kami termasuk makhluk gratifora. Jika kambing herbivora dan macan karnivora, kami manusia selain omnivora juga gratifora. Yakni manusia yang senang, makan dan mau apa saja yang sifatnya Gratis. Tapi apa bener gratis?

Hah Gratis?…Makan tuh gratis….Gilee….mana ada yang gratis mas? Emangya provider telekomunikasi itu koperasi yang dari rakyat untuk rakyat? emangya PT singkatan dari Paguyuban Tantemu!?Dasar……

Tapi, di tengah keterbatasan kami dan dipacu oleh hasrat akan terus berkomunikasi lewat internet, ada saja ‘akal’ agar kecepatan internet bertambah. Maka demi mempertahankan prinsip ekonomi, dengan pengorbanan sekecil mungkin, kami pun mencoba mengakali panci, sendok, garpu dan sejenisnya yang didekatkan dengan modem agar kecepatan menjadi meningkat atau sinyal makin kuat. Konon ini banyak berhasil lho.  Tapi bagi kami, setelah dirasa-rasa, ya tidak ada pengaruhnya juga. Kecepatan dari sananya aja udah mentok, belum dibagi-bagi sama pelanggan lainnya, yaa mu dimentokin ke mana lagi……..pasrah lillahitaala aja lah.

Namun karena kami sangat suka dengan penawaran akan materi multimedia, terpaksa walau harus menunggu berlama-lama, kami tetap rela demi dapat menonton hal-hal kesukaan kami. Tentu, menonton fim/klip di internet merupakan hal yang asyik apalagi film nya unik, aneh, dan menarik. Jauh berbeda dari materi tontonan di teve yang itu-itu saja. Selain itu tentu menonton teve di internet menawarkan hal yang belum ada sebelumnya yakni interactivity. Maka jadilah nonton fim di internet sungguh asyik walau nunggu buffernya kadang bikin naik darah.

Dan memang internetan bagi personal use masih sangat menyedihkan. Dengan berbagai paket yang ditawarkan, kecepatan yang katanya 3.1 atau 7,2 Mbps dan harga yang bervariasi, kecepatan internetan  yang kami dapat nyatanya hanya ada di kisaran kbps. 100 kbps mungkin sudah dapat dibilang cepat. Maka ketika mencapai kecepatan download 1 Mbps saja, itu sudah layaknya keajaiban bagi kami. Tuh kan terlihat mismatch antara promosi dan kenyataan. Promosinya saja 7.2 Mbps, tapi kecepatan 1 Mbps pun nyatanya amat jarang di dapat.

Heh…kalo mau ngibul ya jangan gede-gede…..Misalnya promonya 3.2 Mbps kenyataannya 2.2 Mbps lah…..jadi kan dosa bohongnya kan bisa berkurang…Gimana?

Jadi saat kawan kami pamer kecepatan internet, dan terlihat kecepatannya sudah hitungan Mbps dan stabil, maka bukannya suudzon, tapi kemungkinan mereka tidak menggunakan paket personal, home atau sejenisnya. Mereka kemungkinan menggunakan paket biz, premium atau yang bukan untuk pengguna rumah tangga. Bisa saja mereka menggunakan paket rumahan tapi tipenya yang aga mahalan.

Harapan kami sesungguhnya ialah cukup ketika kami bisa menonton HD video ukuran 1280×720 fps (frame per second) (ukuran yang terendah dari format HD katanya) tanpa loading/ buffering yang ndut-ndutan. Lancar tanpa sesekali berhenti. Sekali play yang terus jalan. Selain itu tentu juga bisa  nonton live streaming. Itu saja.

Namun yang namanya berharap ya boleh saja. Masalah menjadi kenyataan atau tidaknya itu kan urusan belakangan. Dan walau harapan kami jauh dari kenyataan, namun kami sudah cukup berterima kasih ketika dapat mengunggah tulisan ini dengan lancar dan tanpa gangguan. Alhamdulillah..

Terima kasih Tuhan. Terima kasih Friedman, hatur nuhun Mcluhan!

Iklan

3 comments on “Kenapa Kami Benci Youtube?

  1. Ping-balik: Internet Ironi: DC « PERGURUAN MENULIS — aliran bebas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s