Jadi… Siapa Yang Gila?

Baru saja kami menonton iklan layanan masyarakat tentang orang gila. Kami sempat kaget juga saat melihatnya. Tumben kami pikir, orang gila mendapat perhatian begitu besar. Isi iklannya tentang pesan agar kita jangan memarginalkan orang gila, justru kita harus membinanya dan memperlakukannya sebagaimana anggota masyarakat yang lainnya.

Iklan di atas sedikit membuat kami garuk-garuk rambut. Siapa itu orang gila? Kenapa ia diperlakukan berbeda? Dan apa bedanya orang gila dengan orang waras? Kami sendiri bingung saat mendengarkan atau hendak mengucapkan kata orang gila. Kami juga malu untuk mengatakan bahwa seseorang itu gila. Terlalu pede juga rasanya jika kami menganggap diri kami tidak gila.

Kami pikir yang dianggap orang gila oleh masyarakat hanya orang yang tak paham dengan pemikiran mayoritas di masyarakat. Ia hanya sedikit lupa dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Yah.. namanya juga orang, kan suka khilaf. Ya maklum lah namanya juga makhluk tuhan.

Tapi benar apa mereka harus dipandang sebagai orang gila yang ‘an sich. Lagi-lagi kami malu untuk menyebut orang gila itu gila. Kami pikir masalahnya hanya di segi sudut pandang. Apakah identitas gila dan siapa yang melekatkannya?

Jika kami boleh mendefinisikan orang gila, mereka ialah orang yang memiliki sudut pandang yang berbeda dalam melihat banyak hal juga nilai-nilai yang dianutnya. Mungkin serupa seperti orang hebat di negeri ini yang katanya melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Mereka juga serupa dengan calon pemimpin bangsa yang memiliki visi tersendiri tentang apa itu dunia bagi mereka. Mungkin bedanya bahwa orang gila lebih radikal dari para orang hebat. Jika para leader melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, maka orang gila bahkan melihat sesuatu dengan kepala dibalik. Maka tak aneh jika mereka dapat melihat keganjilan yang tak dapat kita lihat.

Lalu apa bedanya mereka dengan kami yang menurut orang, kami bukanlah orang gila? Kami sendiri bukan orang gila totok ataupun orang waras totok. Jadi siapa kami? In between kah? Ya ndak tau juga. Yang jelas kami selalu hidup di antara rentang waras dan gila.

Kalo banyak orang berkata hidup itu sesekali harus gila, jangan datar-datar aja, berarti mereka sesekali suka juga kan hidup sebagai orang gila? Terlepas dari kata tersebut hanyalah perumpamaan, tapi sepertinya hidup ga asik kalo sesekali ga gila. Maka, kalau orang waras aja boleh gila, lalu kenapa orang yang katanya gila ga boleh atau tidak diberi kesempatan menjadi waras.

Orang juga sering takut saat didekati orang gila. Tapi jangan geer dulu, mungkin juga orang gila yang takut sama kita. Kami juga masih bingung apakah mereka yang menganggap dirinya waras menilai orang gila itu sebagai manusia juga? Lucu rasanya orang gila mengaggap kami gila dan begitu pula sebaliknya? Jadi artinya ga ada yang waras kan? Dua-duanya juga gila. Impas lah…

Katanya juga orang gila itu tidak sadar bahwa dia gila. Tapi jika kami ingin sesekali menjadi gila berarti kami secara sadar tahu bahwa kami gila. Jadi, dalam banyak hal sesekali orang gila bisa saja lebih mulia dari kami di mata tuhan. Mereka tak tahu bahwa mereka gila dan tak tahu bahwa mereka berbuat salah (menurut kita). Maka maafkan saja jika mereka banyak berbuat salah. Mereka kan tidak tahu. Yah..jadi ga dosa lah….

Kalau kami kan, kecenderungannya terus berbuat salah. Maksudnya udah tahu suatu hal itu salah, eh kok malah di ulang lagi. Yang parahnya kami secara sadar melakukannya. Jadi ya kami ketiban dosa plus sanksi dari masyarakat sekitar.

Karena gila atau bukan, tidak didapat secara genetis, jadi mau pilih mana? Orang gila yang hidupnya nothing to lose atau orang waras yang hidupnya selalu has something to win? (legek, make bhs inggris segala, hahaha)

Tapi yang saya senang dari orang yang katanya gila itu mereka tidak banyak omong. Mereka tidak banyak omong yang ga perlu. Tidak banyak ngegosip. Tidak banyak ngomong yang ga penting. Iya lah ga penting, lagipula omonganya sering dianggap hanya racauan orang gila semata. Dan dalam hal ini kami juga bisa dikategorikan orang gila, karena omongan dari rakyat jelata seperti kami memang tidak pernah dianggap, sama seperti mereka. Omongan kami seperti sampah yang tak sehat untuk didengar. Dan  yang jelas mereka tidak dapat bikin kami sakit hati atau dendam. Namun anehnya, mereka seringkali lebih bersahabat buat kami. Kami juga lebih tak berprasangka pada mereka

Walau mereka dipandang tak memiliki kesadaran, tapi kami kira mereka memiliki taraf kesadarannya sendiri. Seperti hewan yang juga memiliki taraf kesadarannya masing-masing. Jadi karena taraf kesadarannya berbeda terkadang kalau kami ngobrol dengan mereka sering ga nyambung. Ah..jangankan sama orang gila sama orang waras aja sering ga nyambung!

Dan setelah melakukan sejumlah refleksi kami kira kami harus lebih memikirkan lebih dalam lagi ide tentang manusia waras. Begitu pula dengan ide ihwal orang gila. Kami tak mau lagi gegabah menyebut mereka sebagai orang gila. Kenapa? Ya karena hidup kami berada di rentang gila dan waras, dan jika kami tetap menghinanya berarti kami serupa monyet yang mentertawakan orang yang mukanya mirip monyet.

Dasar Monyet Gila…………….

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s