Politik Alay

Masalah korupsi memang tak pernah mencapai klimaksnya di negeri ini. Ia seolah menjadi sandungan tersendiri  besar bagi kemajuan bangsa ini. Perekonomian sebagai tiang pancang pembangunan di negeri ini pun seolah menjadi kopong, keropos dibuatnya. Di tengah keadilan yang kian menjauh, ketidakpastian hukum, dan segala potensi konflik horizontal yang mengancam, moral kini seolah menjadi tameng satu-satunya demi menangkis perilaku parasit tersebut. Moralitas juga sekaligus menghadapi ujian terberatnya di negeri para pencoleng ini.

Untuk itulah, perlu kiranya langkah-langkah yang konkret dan terpadu demi mengapus korupsi hingga ke akarnya. Maka dari itu kami akan meminta penjelasan singkat dari  Bapak Dr. Tarno M.si,M.sc,Mba selaku anggota dewan, pengusahan sukses, juga seorang filantropi mengenai akar masalah dari korupsi di negeri ini yang kian menggurita beserta solusi masalahnya. Berikut ini petikan wawancara kami dengan beliau:

Kami: Selamat Pagi Pak Tarno! Apa kabar?

Pak Tarno: Pagi. Ya baik-baik saja

Kami: Langsung saja pada permasalahan. Bagaimana pendapat anda melihat perilaku korupsi yang akhir-akhir ini kian  menjadi-jadi di negeri kita Pak?

Pak Tarno: Ya, memang ini masalah multidimensional. Ia merupakan krisis utama yang menyebabkan kita tak pernah menjadi bangsa yang mandiri dan sejahtera

Kami: Maksudnya Pak?

Pak tarno: Ya, korupsi harus segera diberantas karena ia merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara

Kami: Mmm ( setengah mengerti, sambil mengangguk). Lalu bagaimana pula tentang keadilan di sini yang masih saja melakukan tebang pilih?

Pak Tarno: di kita hukum selalu saja memihak pada yang beruang sedangkan keadilan seolah hanya isapan jempol semata. Salah satu contohnya ialah pembalakan liar yang merajalela. Kita selalu membabat hutan tanpa melakukan penghijauan di kemudian hari. Tidak ada rencana yang berkelanjutan. Apa saja kita tebang tak peduli jenis pohon dan karakter lahannya.

Kami: Mmmm… maksudnya ‘tebang tak peduli jenis pohon dan karakter lahan’ itu Pak?

Pak Tarno: Lho, Saudara tadi menanyakan perihal tebang pilih kan?

Kami: Iya pak, tapi maksud kami tebang pilih dalam ranah hukum Pak?

Pak Tarno: Iya, tentu ada hubungannya antara pembalakan liar dengan masalah korupsi di negeri ini!

Kami; Ya itu pasti Pak.

Pak Tarno: Nah maka dari setiap institusi harus melakukan pengawasan internal demi mengapus tindak korupsi. Selain itu harus ada rumusan masalah yang konkret pada tingkat kebijakan. Kemudian juga satgas mafia hukum harus benar-benar teliti dalam setiap perkara yang mereka tangani. Jangan sampai meraka terlihat seperti kendaraan politik saja bagi para penguasa.

Kami: Lalu bagaimana kaitannya antara korupsi dengan kondisi bangsa ini Pak?

Pak Tarno: Ya. Inilah masalah utamanya. Seperti yang Saudara katakan di awal, korupsi kian menjadi-jadi. Lemahnya penegakan hukum membuat tubuh bangsa ini semakin kronis digerogoti korupsi.

Kami: bagaimana pula dengan pengimplementasian hukum di negeri kita?

Pak Tarno: Ya ini seperti lingkaran setan!

Kami: Maksud dari Bapak?

Pak Tarno: Harap Saudara mengerti, semua bisa dilihat dari implementasi hukum. Karena hal ini dapat menimbulkan gelembung masalah lainnya!

Kami: Sekali lagi maaf Pak, kami kurang mengerti?

Pak Tarno: Tolong Saudara garisbawahi, bahwa tak berjalannya pengimplementasian hukum akan menyebabkan pelanggaran hukum terus berlanjut, termasuk di dalamnya korupsi. Jika saja ada celah bagi para koruptor untuk lolos dari hukum, maka mereka akan terus mengulangi perbuatannya dan dapat menimbulkan sejuta masalah lainnya. Jelas kan?

Kami: Jelas Pak. Sangat jelas bahkan. Terima kasih penjelasannya. Tapi mengapa pengimplementasian hukum tak berjalan di sini?

Pak Tarno: Nah, hal ini tak bisa lepas dari adanya conflict of interest dari masing-masing pihak. Setiap pihak berusaha terus berusaha memperjuangkan kepentingan kelompoknya demi keuntungan mereka. Mereka selalu ditekan dari atas. Hal ini karena penegakan hukum di negeri ini selalu disusupi unsur politis dimana banyak terdapat proses kriminalisasi dalam berbagai kasus.

Kami: Mmm iya Pak. Dan sebagai pertanyaan penutup, apa yang harus negeri ini dan para penerus bangsal lakukan agar dapat menghapus korupsi dari negeri tercinta?

Pak Tarno: Pendidikan moral itu mutlak. Ya, itu suatu keharusan jika kita tidak ingin melihat negeri ini diambang kehancuran. Selain itu generasi muda juga harus diberi pendidikan politik demi majunya bumi pertiwi. Hal ini tak lepas dari peran pemuda sebagai katalisator bagi pertumbuhan dan perkembangan ekonomi bangsa. Dan terkahir, jangan lupa juga siapkan mental para  pemuda sebagai entrepreneur sejati dan competitor yang siap bersaing dengan negara lain demi kemajuan banga kita.

Kami: Ya, terima kasih banyak Pak. Terima kasih banyak atas waktunya, pengalaman, dan pengetahuan yang Bapak bagikan kepada kami dan khalayak semua.

ЖЖЖ

 

Kami harap kalian tak terlalu bingung dengan rangkaian paragrap singkat dan wawancara imajiner di atas. Maklum saja, itu hanya merupakan sedikit penggambaran ulang dari kami tentang berita dan wawancara terhadap masalah politik yang kerap kami tonton di televisi. Kami sering mengikuti wawancara tersebut dalam banyak acara seperti talkshow di teve. Menarik sekali melihat bagaimana berbagai persoalan bangsa yang dibahas oleh para pakarnya di televisi.

Namun sayangnya bahasa yang keluar seringkali tak ramah untuk pendengaran. Maksudnya perbincangan tersebut seringkali diselingi oleh istilah-istilah yang Insya Allah tidak akan dimengerti oleh negeri yang sebagian warganya bahkan hanya sekolah sampai SD. Mmmmh….. tapi kami harus berpikiran positif! Mungkin saja ini merupakan bentuk komunikasi politik yang menganggap bahwa masyarakat disini pintar dan banyak yang setara lulusan sarjana. Boleh juga…. Oleh karenanya mereka menggunakan istilah-istilah tersebut. Wah suatu penghormatan yang luar biasa bagi penduduk kita.

Kami juga kerap terpesona karena mereka, siapa saja yang diwawancara di tv baik ahlinya atau tidak seolah tahu semua pertanyaan dan mereka mampu menjawab semua pertanyannya. Kami rasa, sangat jarang sekali mereka menjawab ‘tidak tahu’ tentang pertanyaan yang diajukan pada mereka. Pasti saja ada jawaban yang keluar dari mulut mereka. Hah..Memang pintar

Nah ini juga ada kaintannya dengan kepintaran mereka menjawab semua pertanyaan berikut sejumlah ‘istilah purba’nya. Ketika mereka memberikan argumen atau sekedar penyataan, omongan mereka seringkali terlihat berbelit, ga beraturan, ga jelas acuannya, plus penggunaan istilah yang tak sesuai dengan konteks pembicaraan.

Jika begini, mereka lebih terlihat seperti sedang bersilat lidah. Kalau kami boleh katakan, alasan yang mereka ajukan ialah alasan yang berasalan. Maksudnya? Ya mereka tidak menjawab masalah yang diajukan. Mereka hanya jawab sekenanya dan cenderung ngeles. Ya mungkin dapat kami katakan jawabannya sebagai bualan. Ya, membual. Sangat jarang jawabannya merengkuh esensi permasalahan.

Jadi apa dong makna dari wawancara yang telah kami tulis di atas? Tentu saja maknanya kosong. Kan itu cuma wawancara buatan sekaligus bualan….

Ah….setelah dipikir-pikir kami juga sepertinya secara tak langsung kami juga memberikan pelajaran cara berpolitik kan?

Nah, maka dari itu kami ucapkan. Selamat Berpolitik…..

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s