Makin Jauh Makin Asyik

Dulu, saat masih SD, kami sering berkumpul dengan kawan sepermainan. Bermain kucing-kucingan, maen gundu, atau maen bola. Setelah lelah bermain, kami biasanya pulang menjelang petang, sebelum adzan magrib tepat berkumandang atau setelah ibu kami meneriaki kami untuk pulang dari depan rumah. Ketika tiba di rumah kami biasanya langsung mandi (jika tidak malas) dan dilanjutkan dengan menunaikan solat magrib.

Di rumah kami menonton acara kesayangan atau pada hari minggu dari pagi hingga siang kami terus menonton kartun dari mulai doraemon, kobo chan, dragon ball, dan kartun lainnya. Siangnya kami menonton acara total football di RCTI (rasanya ini merupakan acara tv pertama yang mengulas tentang sepakbola mulai dari prediksi hingga cuplikan pertandingan). Setelah itu kami biasanya main ke rumah kawan dan membicarakan banyak hal. Biasanya hal-hal kecil yang kami obrolkan bersama kawan-kawan. Mulai dari pelajaran sekolah, jajanan SD, jadwal pertandingan bola, atau acara kartun yang baru saja kami tonton.

Namun sebelum berkumpul bersama teman dan membicarakan banyak hal, biasanya kami memiliki topik untuk dibicarakan ketika nanti berkumpul bersama. Dan ketika telah berkumpul bersama seringkali topik yang dibawa teman kami lainnya sama juga dengan topik yang hendak kami bicarakan. Jadilah siang itu hingga sore kami mengobrol, ketawa-ketiwi. Masing-masing mengeluarkan unek-uneknya tentang topik yang kami bahas (misal, episode dragon ball yg barusan di tonton).

Oh iya, sebelum kami berkumpul bersama teman, biasaya kami suka penasaran terlebih dahulu kira-kira anak-anak akan ngomongin apa ya hari ini? Kami juga suka penasaran apakah orang lain di luar kami juga membicarakan hal sama? Atau topik apa yang tengah ramai dibicarakan oleh orang lain pada waktu tertentu?

Dan penasaran kami akhirnya baru bisa dijawab setelah sekitar satu dekade lebih. Dengan bantuan internet dan jaringan pertemanan mikroblogging bernama twitter, seolah kita dapat mengetahui banyak topik apa yang tengah dibicarakan orang pada waktu tertentu dan di daerah tertentu. Topiknya pun beraneka ragam, mulai dari gossip remeh hingga masalah penting yang menyangkut kemaslahatan banyak orang. Ya, twitter kini menjadi ruang virtual, ruang yang jauh lebih luas dari tempat kami dulu ngobrol di rumah teman. Tempat yang luas dan cenderung bebas yang menjadi tempat kami untuk menelurkan uneg-uneg kami.

Jika dulu, saat kita mengeluh, dan hanya mengutarakannya dalam hati dengan hanya berupa kalimat pendek, kini kita bisa meneriakannya dan membuat semua kawan kita tahu bahwa kita sedang dalam kondisi blablabla. Kita juga seolah selalu hendak memberi tahu dan ingin tahu tentang apa yang kita lakukan dan kawan kita lakukan pada saat tertentu. Walau kita juga belum tentu peduli dan ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh tetangga sebelah rumah.

Kini apa yang sedang banyak dibicarakan di dunia ini dapat kita ketahui. Walau kami pikir hal ini hanya sebagian kecil dari realitas yang ada. Coba saja, berapa orang di seluruh dunia ini yang dapat terhubung dengan internet. Jangankan internet, untuk masalah mengisi perut atau buang air saja masih menjadi masalah. Jadi ya di twitter itu kami hanya sedikit berbagi infomasi dengan banyak cas cis cus narsis, ngomongin diri sendiri saja.

Tapi, bagaimanapun cita-cita kami dulu, saat kami kecil Alhamdulillah telah terwujud. Dengan twitter kami dapat mengeluarkan apa saja walau dengan karakter yang terbatas. Namun terkadang buat kami twitter terkadang malah memusingkan. Tapi tergantung kita sih. Maunya mengikuti atau diikuti. Misalnya saja ketika kami memutuskan untuk berlangganan berita dari suatu portal. Sepertinya apa saja kami ikuti. Hasilnya kami sendiri kewalahan dan malah kebanjian infromasi yang berujung malah pada miskinnya informasi yang kami terima. Kepala kami kewalahan menerima informasi dari banyaknya hal yang kita ikuti di twitter.

Walau demikian, saya juga berterima kasih dengan hadirnya jaringan pertemanan ini. Saat terjadi gempa atau terasa lini hingga ke tempat kami, dalam beberapa detik kemudian kami bisa segera mengetahui besarnya gempa dan terjadinya di mana. Kami hanya cukup membuka google, ketikan kata kunci dan hasil twitter tentang gempa akan ada di halaman google tersebut. Justru saat hendak membuka wab BMKG kami selalu kesulitan karena mungkin banyak yang mengaksesnya dalam waktu yang bersamaan. Jadi, berkat twitter yang mayoritas berisi teks, kami dapat mengakses berita gempa tanpa lemot loading yang lama.

Sekarang kami berharap lebih dekat lagi dengan kawan, tapi anehnya cukup sulit untuk bertemu mereka. Kami ataupun kawan kami kini nampaknya lebih memilih ngobrol dengan kawan yang jaraknya lebih jauh. Jauh namun terasa dekat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s