Hikmah Ponsel Nyemplung

Menjelang tahun baru kamarin, kami kehilangan sesuatu yang berharga. Ponsel kami yang telah berumur lebih dari tujuh tahun akhirnya berhenti berfungsi. Ya, ponsel yang pernah kami ceritakan pada tulisan kami sebelumnya akhirnya mati. Secara tragis ponsel tersebut nyemplung di lubang toilet, saat kami hendak buang air besar. Ya, kami amat sedih. Memang itu cuma benda mati, tapi karena manusia memiliki rasa dan mampu menghayati berbagai kenangan dan peristiwa, hal itu jadi menyedihkan.

Selepasnya, kami diliputi rasa gundah. Kami berpikiran bahwa sudah saatnya kami tak lagi memiliki ponsel. Seperti dulu, kami akan lebih sering berkunjung ke rumah kawan cukup hanya dengan janjian sebelumnya atau meneleponnya dari rumah. Kami pun akan lebih dekat dengan orang dengan cara menanyakan jam berapa sekarang. Coba saja, ingat kapan terakhir kali kalian di tempat umum menanyakan jam atau ada orang yang menanyakan jam pada orang di sekitarnya. Kami juga akan dapat lebih tepat janji dengan orang lain. Sekali janji, ya harus ditepati. Dan jika hendak bepergian hanya cukup sekali janjian dan kami akan menepatinya sebisa mungkin. Tak perlu banyak cingcong sms lagi, sms lagi, mengingatkan dan memastikan waktu janjiannya.

Selain itu ketika kami hendak main ke rumah teman, kami cukup membunyikan bel rumahnya atau mengetuk pintunya. Tak perlu sms kawan kami dan memberi tahunya bahwa kami telah di depan rumahnya. Di banyak kesempatan, kami sempat kaget ketika ada kawan yang tiba-tiba berada di depan rumah karena kami tak sempat membaca smsnya. Atau juga kawan yang terlalu lama menunggu di depan rumah karena smsnya tak sampai pada ponsel kami dan mereka urung untuk mengetuk pintu atau membunyikan bel rumah. Setidaknya tanpa ponsel kami dapat lebih kenal dengan keluarga kawan kami dan dapat lebih berani untuk menyapa dan beramah tamah dengan orang lain. Ya kan?

Namun akhirnya, sekitar seminggu kemudian, kami membeli ponsel baru. Harganya 200.000. Warna layarnya monochrome. Si penjualnya sempat bingung dengan kelakuan kami. Ia menawarkan kami ponsel dari harga yang tertinggi. Mulai yang paling canggih hingga setengah canggih. Namun semua tawaran itu kami tolak. Dengan setengah sebal dan putus asa, akhirnya ia menawarkan “ ah, ini aja mas layarnya berwarna, bisa gprs juga”. Namun kami masih menggelengkan kepala. Akhirnya kami memilih ponsel ini. Layarnya monochrome dan bentuknya seperti remote AC. Dan sebelum melakukan pembayaran,penjualnya menawarkan headset yang dijual terpisah pada kami.  Dan kami pun menolaknya dengan ramah dan penuh senyum “Ah ngga, terima kasih Mba

Sekarang kami telah memegang ponsel kembali. Tentu saja dengan ponsel, proses komunikasi jarak jauh dapat semakin mudah. Ya tentu, itu pasti! Namun sepertinya ada hal yang tak kasat mata, bahkan sering tak terasa akibat dari semakin mudahnya kita berkomunikasi. Sekali-kali rasa itu muncul, menyeruak, dan seperti menggelitik perasaan kita. Entah perasaan seperti apa itu. Rasakan dan renungkan saja sendiri.

Yang jelas dari ilustrasi kami di atas, dari sebatang ponsel, artefak yang baru ditemukan kemarin sore, setidaknya dapat memperlihatkan bahwa ternyata memang benar kami tak boleh egois. Hidup kami ternyata tidak hanya untuk kami sendiri. Kami harus juga hidup untuk orang disekitar kita. Kami harus berkorban dalam artian yang aneh kepada sesama. Kami harus dapat menahan keinginan sendiri demi “kebaikan bersama”. Bahwa keputusan kami yang tak berkeinginan untuk memiliki ponsel, ternyata harus ditentukan oleh orang lain. Ya, di sini kami dipaksa beradaptasi. Menyesuaikan diri dengan teknologi yang diciptakan oleh diri kita sendiri.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s