Ketika Global Warming Hadir di Pekarangan Rumah


Begini ceritanya. Saya telah tinggal  di rumah ini lebih dari dua dekade. Bukan di perumahan real estate yang mahal-mahal itu lho, yang ada clusternya dan penjagaan ketat satpam di tiap posnya. Bukan juga di kompleks elit yang kini tengah gencar menawarkan konsep hijau, green living, atau sejenisnya kepada calon konsumennya. Rumah-rumah hijau yang saya pikir lebih berorientasi pada bisnis dan tentu saja harganya hanya bisa dijangkau oleh golongan tertentu. Saya hanya tinggal di perumnas yang dulu asalnya merupakan lahan sawah.

Meski demikian, saya begitu mencintai lingkungan tepat tinggal saya. Rasanya saya tidak akan pernah mau pindah dari tempat ini. Bukan hanya karena hanya faktor memori, bahwa saya telah tinggal lama dan memiliki banyak kenangan di sini, tapi karena lingkungan di tempat tinggal saya masih cukup asri. Pohon masih berderet, banyak juga tanaman. Oleh karenanya cuaca di lingkungan saya masih cukup sejuk. Jika musim hujan, angin-angin kencang masih bisa tertahan rimbun dedaunan pohon. Begitu juga ketika musim kemarau, tanaman hijau memfilter debu-debu kotor, memberi pasokan oksigen bagi warga, dan menurunkan suhu udara sekitar pemukiman. Pokoknya enak buat tidur siang lah!

Ya, itulah gambaran umum tentang tempat tinggal saya. Namun hal di atas sepertinya hanya romantisme belaka. Lho kenapa? Percaya atau tidak, sepertinya ada yang berubah dari lingkungan tempat tinggal saya sekarang. Kini daerah tempat tinggal saya rasa-rasanya tidak seperti paparan di atas atau setidaknya seperti kondisinya pada satu dekade ke belakang.

Hmm, lalu dimana letak perubahannya? Nah, saya akan menceritakannya. Saya bukan ahli biologi atau orang yang jago dalam ilmu lingkungan, tapi saya pikir ada beberapa hal yang tak lagi hadir di ekosistem tempat tinggal saya. Pertama, kini setiap malam, terutama musim kemarau tak ada lagi kunang-kunang di halaman depan rumah saya. Maka kini saya tak dapat lagi menikmati kerlip cahaya dari makhluk mungil tersebut. Dulu saya biasanya berlomba dengan kawan menangkapnya dengan kepalan tangan tapi tanpa membunuhnya. Jadi untuk melihat kerlipnya saya harus mengintip dari celah kepalan tangan setelah saya berhasil menangkapnya. Huh, tapi itu dulu…………

Selanjutnya, pada musim kemarau atau menjelang musim kemarau tak ada lagi sekelompok capung-capung yang beterbangan. Ya binatang ini kan biasanya mulai muncul ketika suhu udara mulai menghangat (musimnya berkembang biak juga mungkin ya). Nah saya yang biasanya suka menangkap mereka, kini tak lagi bisa. Dari kebiasaan dulu itu, saya bisa tahu jenis-jenis capung, setidaknya dari warnanya lah. Bahwa di lingkungan saya banyaknya capung yang warnanya hijau strip hitam dan warna merah. Tapi itu dulu. Kini tak ada lagi mereka. Adik saya pun kini tak dapat melihat capung di pekarangan rumahnya. Ia hanya bisa tahu capung lewat layar kaca, pelajaran di buku paket IPA, atau lewat internet.

Plung,plung,plung,plung. Ya kira-kira begitulah suara orkes dari sekelompok kodok yang biasanya berdendang di malam sehabis hujan. Namun, kini saya sudah sangat jarang sekali mendengarkannya. Suara kodok yang saling sahut-menyahut nampaknya kini sudah cukup asing di telinga saya. Apalagi sekarang kan musim hujan atau kemarau semakin tidak jelas siklusnya. Kini saya tak dapat lagi menikmati orkestra tersebut sambil menemani tidur malam saya. Hmm, saya penasaran kini mereka bernyanyi dimana. Ah, entah lah! Mungkin mereka telah punah!

Kemudian juga, di lingkungan saya banyak terdapat pohon mangga dan pisang. Namun kini mereka tak lagi berbuah. Daun-daunnya kering, meranggas dan banyak pohon yang telah mati. Tak seperti dulu, ketika rintik hujan dan sinar mentari masih mengunjungi bumi sesuai jadwalnya. Bahkan dulu ketika lebat-lebatnya pohon berbuah, saya harus selalu waspada karena setiap saat buah-buahnya dapat saja dicuri oleh siapa saja.

Kemudian, hal terakhir yang terasa ialah tak ada lagi ikan yang hidup di kali depan rumah saya. Ya, rumah saya terletak di seberang kali. Dipisahkan oleh jalan dan tanggul kali tersebut. Jika dulu saya biasa melihat orang memancing di tanggul depan rumah, kini jangan harap ada lagi hal demikian. Lagipula, sia-sia saja. Mana ada orang yang mau memancing ikan di kali yang warnanya coklat seperti susu kental manis dan sekali-sekali berwarna-warni limbah pabrik.

Nah, kira-kira itulah hal yang saya rasakan tentang perubahan di lingkungan saya.  Akibat adanya anomali cuaca, kini banyak komponen ekosistem (termasuk capung, kodok,kunang-kunang,pohon mangga, dan ikan) tersingkir dari habitatnya. Memang perubahan di lingkungan saya tidak sebombastis seperti mencairnya bongkahan-bongkahan raksasa es di Kutub Utara. Namun saya pikir, setiap komponen ekosistem, sekecil apapun wujudnya, mempunyai peranan masing-masing yang ikut menentukan keberlangsungan hidup di suatu ekosistem. Mereka membantu setiap putaran aliran energi, materi, dan informasi. Setiap kecil peran mereka turut berkontribusi terhadap eksistem secara global, menjaga keberlangsungan kehidupan, dan mengatur alam selalu dalam keadaan seimbang (homeostatis).

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s