Review: Hadiah Purnama Dari Langit, Ekspedisi Batang Hari dan TNKS

Judul         : Hadiah Purnama dari Langit

Penulis     : Trio Jenifran (Editor)

Penerbit   : Harian Singgalang

Cetakan    : I, Desember 2009

Tebal         : 99 Halaman

ISBN          : 978-979-99712-6-5

 

Bagi gadis-gadisnya, Batang Hari ialah alunan melodi cinta kasih. Bagi lelaki tampannya, Batang Hari ialah tempat bunga cinta dipetik.Banyak cinta bersemi di sana, banyak juga yang hanyut

Seperti kebanyakan sungai besar lainnya di dunia, Sungai Batang Hari yang membujur dari Padang hingga Jambi pun turut menjadi saksi timbul tenggelamnya peradaban di sana. Ia menjadi saksi bagaimana orang-orang di seputar aliran sungai ini hidup. Menjadi telinga dan mata saat mereka di masa jaya, atau ketika mereka di masa kelam seperti sekarang.

Ekspedisi yang dilakukan oleh harian surat kabar Singgalang ini berlokasi di Kabupaten Dharmasraya. Kabupaten termuda di Sumbar hasil pemekaran lima tahun silam, sekaligus daerah tertua karena kabarnya Kerajaan Minangkabau dahulu bermukim di wilayah ini. Perjalanan yang mencoba mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat dipinggiran Sungai Batang Hari serta dinamikanya pada saat ini.

Di daerah ini masyarakat terpinggirkan. Infrastruktur jauh dari kata memadai hingga membuat masyarakat di sini seperti terisolasi. Jalannya berbatu dan berlubang. Pada musim kering jalannya berdebu dan pada musim hujan ruas ini seperti kubangan babi. Dengan tak disertai modal, mereka tak mampu memberdayakan potensi wilayahnya yang sebenarnya kaya akan, pinang, kelapa sawit, atau bahkan emas. Namun tak adanya listrik, akses jalan yang rusak, serta kesadaran yang kurang dari masyarakat akan pendidikan membuat kehidupan ekonomi di sana cenderung statis kalau tidak dibilang menurun.

Hanya ada satu SD di wilayahnya dan untuk melanjutkan SMP mereka harus mengeluarkan ongkos puluah ribu sekali jalnnya untuk tiba di sekolah menengah yang ada di desa seberang. Maka dari itu, banyak orang tua yang lebih memilih untuk tidak melanjutkan sekolah anaknya. Intinya di tengah perut keroncongan mereka tak memiliki daya apapun bahkan untuk mengubah dirinya sendiri. Butuh bantuan dari pihak luar, baik modal ataupun stimulant lain yang dapat mengubah, utamanya stagnasi perekonomian mereka.

Selain itu, daerah ini terkenal karena terdapat banyak etnis di sini. Mulai dari Aceh, Sunda atau Jawa. Hal ini karena Dharmasraya dari tahun 70-an hingga sekitar tahun 2002 merupakan daerah tujuan transmigrasi. Maka janganlah aneh jika di suatu malam kalian mendengar suara gamelan atau wayang golek pada malam hari.  Mereka hidup berdampingan, saling toleransi, dan walaupun dari berbagai daerah namun kebudayaan utama yang menjadi rujukan dalam kehidupan sehari-hari ialah kebudayaan Minang.

Namun yang terpenting dalam ekspedisi kali ini ialah degradasi lingkungan yang terjadi di daerah aliran sungai Batang Hari. Sungai tercemar dan hutan banyak ditebang. Sudah terhimpit, mereka malahan kerap dituduh sebagai aktor yang merusak lingkungan. Maka kini, sungai yang dahulu bagai air surga yang memberikan segalanya bagi penduduk, malah kerap memberikan kerugian bagi warga. Namun, hiingga kini, mau bagaimana pun mereka masih tetap menumpukan hidupnya pada sungai yang kian renta ini.

Tamu di rumah sendiri

Selain melakukan Ekspedisi Batang Hari, tim yang sama melakuakn ekspedisi ke Daerah Peisir Selatan yang yang terletak di perbatasan Sumbar dan Jambi. Daerah di Pesisir Selatan ini, sebagian besar berada di TNKS. Namun sebagai “penghibah” oksigen bagi warga dunia, keadaan mereka justru memprihatinkan. Karena mereka berada di hutan lindung, jadi mereka tidak diperbolehkan mengambil atau memanfaatkan apa yang ada di sekitar mereka.

Mereka juga tak mendapakan kompensasi atas lahan-lahan mereka yang kini dijadikan taman nasional ini. Pernah mereka mendapatkan kompensasi namun itu hanya sekali, jumlahnya sebesar 250 juta. Kini tak ada lagi yang namanya kompensasi. Mereka harus rela berkorban demi kesehatan paru-paru warga dunia. Konsekuensinya, mereka hanya bisa memanfaatkan lahan mereka yang terbatas atau berdagang di jalan lintas provinsi. Tentu saja hasilnya jauh dari cukup untu kehidupan sehari-hari.

Mereka hanya diam ketika suara gergaji mesin membelah kesunyian malam. Mereka keanehan. Mengapa suara gergaji itu masih bisa terdengar di malam hari dan di siang hari truk-truk besar dengan bebas melintas dengan membawa gelonggongan kayu dari hutan dan hanya meninggalkan debu dan belek di mata mereka. Entah harus mengadu ke siapa, suara mereka terlalu lemah didengar.

Kini mereka tak berani lagi masuk hutan, terutama sejak banjir bandang melanda daerahnya. Banjir yang niscaya bukanlah akibat perbuatan mereka. Banjir yang diakibatkan karena pembalakan besar-besaran yang membuat hilang banyak daerah resapan air. Mereka kini bingung di halaman rumahnya sendiri. Mereka tamu di rumah sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s