Apa yang Saya Khawatirkan Dari Mahasiswa Baru

Apa yang Saya Khawatirkan Dari Mahasiswa Baru[1]

Aneh. Malam yang biasanya terasa dingin, sekarang terasa begitu panas dan pengap. Angin dari Gunung Geulis dan Manglayang yang bertiup di Jatinangor seharusnya membuat warga dan anak kosan segan untuk keluar rumah. Jalanan depan Unpad macet tidak seperti biasanya. Kemacetan kali ini lebih parah. Bunyi klakson dan derungan gas saling bersahutan. Kendaraan berjalan lambat dan merayap. Membuat kadar CO2 terserap lebih besar ke paru-paru.

Malam itu jalanan dipenuhi lautan manusia muda. Sepanjang jalan didominasi oleh kumpulan maba 2008 yang sedang mencari tugas untuk acara OSPEK. Semuanya tumpah ruah di sepanjang jalan di sekitar gerbang. Semua tempat makan penuh. Warung, toko, bahkan kios ramai dikunjungi oleh mereka. Dari mulai mereka yang ingin makan malam, mencari tugas OSPEK, sampai membeli barang untuk kostan baru mereka.

Masa-masa seperti ini tentu sudah dinantikan oleh para pencari nafkah dadakan. Mereka memanfaatkan momentum ini untuk meraup lembaran rupiah. Pedagang musiman banyak bermunculan di sepanjang sisi jalan. Penjual pita, kayu bakar dan penjual karton yang menerima pembuatan topi bisa ditemui di sepanjang jalan. Bahkan pada masa-masa seperti ini dijadikan ajang yang tepat bagi para gepeng untuk mencari tambahan penghasilan. Gepeng pada masa OSPEK lebih banyak daripada hari biasanya. Dari mulai yang masih duduk di bangku SD sampai dengan nenek-nenek yang sudah sangat rapuh untuk berjalan.

Namun fenomena penerimaan mahasiswa baru di Jatinangor ini seringkali mengorbankan banyak hal yang terkadang tidak disadari oleh banyak orang. Dengan tidak seimbangnya jumlah penduduk masuk dengan penduduk yang keluar jatinangor, membuat masalah kepadatan penduduk mulai mengintai di Jatinangor. Semakin bertambahnya penduduk musiman di Jatinagor, membuat semakin banyak juga kemungkinan masalah sosial dan lingkungan.

Dengan jumlah jiwa yang semakin banyak, kebutuhan akan tempat tinggal menjadi begitu penting. Hal ini begitu nyata terlihat. Pada setiap musim ajaran baru hampir selalu ada pembangunan rumah kosan yang baru. Bangunan-bangunan yang membuat daerah pemukiman di Jatinangor semakin sempit dan padat. Suatu tata letak bangunan yang sebenarnya membuat daerah Jatinagor cukup riskan akan resiko kebakaran. Pembangunan yang membuat persediaan air tanah semakin berkurang. Pembangunan yang entah berapa tahun lagi, akan membabad habis sawah Jatinangor yang tersisa. Suatu perkembangan yang hanya membuat manusia akan segera tersisihkan dikemudian hari.

Adanya perbandingan terbalik antara semakin sempitnya lahan dan semakin meningkatnya permintaan akan lahan, membuat harga tanah di Jatinangor semakin melangit[2].

Hal ini dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk meraup untung dari kondisi ini. Pihak pemilik tanah ataupun pemilik kosan mempunyai hak tawar yang besar. Merekalah pihak yang bisa menentukan harga sewa atau nilai jual suatu lahan. Mereka bisa dengan seenaknya memainkan harga demi mendapatkan penawar dengan harga tertinggi.

Dampak turunan dari meningkatnya jumlah penduduk ialah meningkatnya pula kebutuhan pangan. Semakin banyak orang, semakin banyak mulut dan perut untuk diisi. Dengan sempitnya sawah, daerah Jatinangor tidak memenuhi kebutuhan pangan warganya secara swasembada. Jatinagor sudah dipaksa bertingkah seperti halnya kota besar lainnya yang mendapatkan pasokan beras dari daerah penghasil sekitar.

Semakin banyak dan padatnya jumlah penduduk juga membuat kebutuhan akan air semakin meningkat. Penggalian akan air tanah akan semakin banyak. Hal ini berpotensi menguras habis air tanah, merusak kualitas airnya, dan juga merusak kondisi tanah. Kebutuhan terhadap air untuk kehidupan sehari-hari amatlah besar. Jelas, bahwa air sekarang begitu tinggi nilai ekonominya

Selain itu, kondisi topografi Jatinangor yang sebenarnya berbukit-bukit membuat ancaman lainnya mengintai dibelakang. Dengan keadaan tanah yang sebagian besar berbukit-bukit dan tidak rata, seharusnya kepadatan bangunan yang dibangun di atas tanah yang demikian tidak boleh sebegitu padat seperti saat ini. Hal ini membuat beban terhadap tanah semakin besar dan tidaklah mustahil dapat memicu bencana seperti longsor di kemudian hari. Pembangunan pun idealnya dilaksanakan di atas lahan yang datar dan tidak miring. Maka dari itu, sudah seharusnyalah jika membangun hunian di Jatinangor sebaiknya membuat konstruksi bangunan yang lebih kokoh.

Lonjakan penduduk yang bersifat temporer di Jatinangor sangat berpengaruh pada kondisi lingkungan sekitar. Masa penerimaan mahasiswa baru tiap tahunnya selalu menimbulkan masalah-masalah yang bersifat laten. Masalah yang belum banyak disadari oleh penduduk sekitar. Hal-hal yang belum disadari penuh dikarenakan masyarakat cenderung berorientasi pada perkembangan ekonomi semata. Problem yang seolah-olah terlupakan. Problem yang seringkali diabaikan karena masyarakat telah terbutakan oleh materi.

Akhirnya, peningkatan aktivitas ekonomi yang berjalan berdampingan dengan masa penerimaan mahasiswa baru di Jatinangor tidaklah harus mengorbankan kondisi lingkungan sekitar. Lingkungan yang telah memberikan segala kebutuhan hidup bagi masyarakat Jatinagor sampai saat ini. Lonjakan kepadatan penduduk dan meningkatnya aktivitas ekonomi di Jatinangor ini harus juga memperhatikan daya dukung lingkungan sekitar.

***

[1]Tulisan ini dibuat berdasarkan pengamatan akan fenomena penerimaan MABA 2008 di kawasan Jatinangor. Tulisan ini sebelumnya hanya tersimpan di komputer.

[2]Gila juga dampak hukum supply and demand dan kelangkaan barang. Sebagai gambaran, menurut penuturan penduduk lokal, luas tanah di pinggir jalan Jatinangor-Sumedang pada tahun 1970-an yang senilai Rp. 75000, pada tahun 2008 harganya meningkat hingga bisa mencapai Rp.3.000.000.000

__________________________

Berikut ini beberapa foto dokumentasi saya di Jatinangor. Foto diambil pada Senin, 17 Januari 2011.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s