Kenapa Spesies yang Satu ini Sulit Punah

Ada satu pertanyaan. Mengapa spesies yang namanya manusia itu sulit punah? Apakah karena mereka makhluk yang istimewa? Ah tidak, sepertinya bukan itu jawabannya. Setiap makhluk di muka bumi ini sifatnya istimewa. Bahkan jika tanpa manusia pun spesies lainnya masih bisa bertahan hidup. Lalu apa?

Mungkin ini. Sepertinya  hal tersebut terkait dengan cara hidup manusia. Maksudnya berkaitan dengan kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungannya. Di kutub utara, padang gersang, laut dalam, dan luar angkasa, manusia dapat hidup di sana walau hanya sementara. Hal ini membuktikan bahwa teknologi manusia dapat membantu mereka dalam menghadapi berbagai tantangan lingkungannya.

Lihat juga bagaimana canggihnya adaptasi fisiologis mereka. Orang yang hidup di gunung terbiasa dengan kadar oksigen yang sedikit dan membuat paru-paru mereka beradaptasi sedemikian rupa. Lihat juga Orang Baduy yang terbiasa berjalan kaki, bentuk morfologi telapak kakinya dapat “mencengkram” tanah sehingga membuat mereka kokoh untuk melangkah, tidak terjatuh atau terpeleset.

Namun ada lagi yang lebih canggih dari spesies ini yakni kemampuan kerjasama mereka. Ya, berkat asupan gizi, volume otak yang merupakan hasil bentukan lingkungan, mereka bekerja sama untuk menaklukan alam demi kebutuhan hidup mereka.

Nah, ternyata ada lagi yang tidak kalah asyiknya dari spesies ini, yakni kemampuan “menggandakan diri” yang luar biasa. Ya, spesies ini kan mampu kawin “kapan saja” tak kenal musim. Jika spesies lain melakukan kawin pada periode waktu tertentu, manusia bisa “seenaknya” untuk kawin. Jadi, kalau kalian melihat perilaku perkosaan, jangan hardik manusia itu sebagai binatang. Karena binatang tidak akan melakukan hal yang demikian. Justru kalian harus menghardiknya sebagai manusia.

Ok. Cukup masalah kawinnya. Implikasi dari hal di atas ialah makin besarnya jumlah populasi manusia. Hal ini turut berandil besar dalam mempertahankan eksistensi manusia di bumi ini (walau di kemudian hari dapat menimbulkan potensi bencana kelangkaan makananan). Jika ada bencana, peperangan atau kekeringan melanda, manusia masih mempunyai banyak cadangan keturunannya. Kecuali jika kiamat melanda. Ah, mungkin sutradara hollywood bisa membantu mereka.

Kemudian setelah manusia mampu hidup di bebagai tempat yang ekstrem, manusia juga saya golongkan sebagai super omnivora. Ya segalanya dapat mereka makan. Walau tentu saja setiap masyarakat mempunyai pandangan kultural tentang hal yang layak dimakan atau tidak. Namun secara umum manusia dapat memakan apa saja. Bayangkan misalnya kuda? Jika kekeringan hebat melanda niscaya mereka akan segera wafat. Bisa saja mereka migrasi, namun tentu juga mendapatkan banyak rintangan sepanjang perjalanannya. Coba kuda mampu makan daging? Hah……

Implikasi dari makhluk super omnivora ini luar biasa. Dalam sejarahnya, asupan daging, secara signifikan dapat meningkatkan tambahan protein sehingga  membuat volume otak secara bertahap dapat berkembang. Dan ketika volume otak telah membesar, maka ada banyak yang bisa mereka lakukan untuk mengolah alam sekitar demi kebutuhan subsisten, rekreasi, ekspresi seni, dan bahkan (mungkin) menemukan atau menciptakan tuhan.

Hal di atas semuanya memang tak terlepas dari kesadaran yang dimiliki oleh manusia. Walau kata Richard Leakey, binatang pun memiliki tingkat kesadarannya masih-masing. Dengan kesadaran, manusia mampu meng-ada. Mereka mampu mengambil jarak dari eksistensi ada-nya. Mereka mampu menyadari akan segala potensinya untuk mengolah lingkungan dan melihat dirinya sebagai mikrokosmos di alam semesta ini. Hal ini pada gilirannya akan menciptakan berbagai implikasi yang begitu besar pada perjalanan peradaban manusia.

Namun sesugguhnya, terlepas dari segala “kesaktiannya”, manusia amatlah ringkih. Mereka hakikinya merupakan makhluk yang tak memiliki kemampuan yang terlalu unggul dalam satu atau bahkan banyak hal. Kesaktiannya sebagai seorang Superman hanyalah bentuk evolusi yang penuh liku, hasil adaptasi dengan lingkungan alamnya. Jadi, ketika suhunya telah dikhianati, kepada siapa lagi mereka akan berguru. Karena lingkungan yang merupakan guru mereka dalam menapaki tangga peradaban telah begitu lelah dengan kelakuan muridnya…………

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s