Menyalahkan Orang Itu Melegakan!

Kami termasuk penggila sepakbola. Ya, bukan hanya sekedar gemar, namun sepakbola yang kerap kami lihat pun merupakan sebuah sepakbola gila. Ya, karut marut sepak bola kini makin menggila. Dan di tengah kegilaan tersebut haruslah ada yang dikambinghitamkan, walau banyak pihak nyatanya merupakan kambing hitam yang sebenarnya. Ya, harus ada yang disalahkan! bahasa Ukraina-nya, Someone has to be blamed

Dalam pertandingan sepakbola selalu banyak hal yang membuat sepakbola terkadang terlihat begitu gila. Logika diputar balik. Tentu yang makin membuat ini gila ialah ini merupakan ciptaan manusia. Dan tentu dalam konteks pertandingan sepakbola, manusia lah yang kerap menjadi orang yang harus disalahkan. Jika sepakbola robot tentu kami tak akan menulis ini.

Dan ketika pertandingan dimulai atau usai, maka wasit kerap menjadi sorotan. Ya, disini wasit perlu mendapatkan asuransi yang besar, hanya untuk memimpin pertandingan yang level dan pengaruh globalnya tak seberapa. Wacana kamera atau teknologi yang dapat membuat akurat keputusan wasit pun diwacanakan, bahkan sempat diimplementasikan dalam beberapa pertandingan. Tentu pro dan kontra bermunculan.

Salah satu komentator ternama di sini menyebutkan bahwa ia tak mendukung teknologi tersebut, karena menurutnya akan menghilangkan sisi “kemanusiaan” sepakbola. Justru itulah yang membuat sepakbola menarik layaknya drama. Itu penuturannya. Ya tentu saja, drama dan hal-hal menarik lainnya sangat “berguna” bagi profesinya. Namun karena kompetisi sepakbola melibatkan banyak manusia, banyak pencari nasi di sana, sepakbola tentu kadang menjadi sangat sensitif. Simpelnya jika mereka telah mencetak gol namun tak dianulir karena wasit” melihat” bola tersebut belum melintasi garis gawang, maka mereka tentu akan gusar. Ya, kan itu harusnya gol. Jadi ketika kita berbuat A, namun disangka berbuat B, tentu kita akan marah dan menyalahkan orang yang menuding kita. Menyalahkan karena kita memang benar sesuai kaidah, dalam hal ini aturan sepakbola. Ya, itukan respon psikologis yang “ naluriah”.

Beberapa waktu lalu kami sempat menonton pertandingan Australia Open lewat layar kaca. Kami sempat terkejut karena pemain dapat meminta untuk melihat tayangan ulang jika ia merasa tak yakin apakah bolanya out atau tidak. Ia dapat melihat tayangan ulang lewat tayangan simulasi di layar lebar yang ada di atas tribun tempat duduk stadion. Setelah semua orang melihat, termasuk, pemain, wasit, dan penonton, maka semuanya menjadi tahu apakah bola itu out atau tidak. Dan jika terjadi kesalahan sebelumnya, maka keputusan wasit dapat diralat berdasarkan tayang ulang tersebut. Nah, itu kan esensi teknologi yang diciptakan manusia.

Dari pertandingan tenis tersebut kami dapat melihat banyaknya “kebaikan” dari teknologi. Pemain dapat fokus untuk memenangi pertandingan. Keributan juga dapat diminimalisir dan karenanya itu akan menghemat banyak tenaga. Emosi, waktu, bahkan uang tak akan terbuang hanya untuk memperdebatkan keputusan wasit. Ya, efisiensi yang merupakan tujuan dari penciptaan energi dapat terwujud. Dari segi pemain, mereka tak akan ada yang merasa dikecewakan oleh keputusan wasit, dan terus fokus ke pertandingan. Itulah mengapa pertandingan tenis lebih” damai” dari sepakbola, badminton dan olahraga lainnya.

OK. Kita kembali lagi ke masalah salah menyalahkan dan mengkambingitamkan. Di tengah ketidakjelasan regulasi atau pun keder-nya para penyelenggara kompetisi, maka kambing hitam dapat dicari sebagai jalan keluar. Kenapa kambing hitam?

Nah inilah penjelasan karangan kami. Dengan menyalahkan orang lain, pertama, secara psikologis itu melegakan. Hal tersebut dapat menggeser beban dari satu pundak ke pundak kambing hitamnya. Kedua, di sini, hal itu dapat dilihat sebagai jalan cepat untuk menyelesaikan masalah. Atau lebih tepatnya lari dari masalah tanpa menyelesaikan masalah. Ketiga, disini, menyalahkan orang lain dianggap sebagai jalan demi mencapai suatu posisi atau kepentingan suatu kelompok atau individu. Menyalahkan orang lain dapat menjadi jalan demi memuluskan bulus kita untuk memojokkan orang dan mengambil keuntungan darinya.

Implikasi dari saling menyalahkan tersebut ialah makin “asyik “dan gilanya kompetisi sepakbola disini. Hal itu juga  akan membuat orang semakin sensitif. Mudah tersulut emosinya. Lihat saja pertandingan sepakbolanya. Canggih kan? Dalam satu partai sepakbola terkandung beberapa cabang olahraga di dalamnya seperti tinju, karate, kick boxing, atletik, lari estafet, bahkan  olahraga lempar jauh.

Sensitivitas itu juga dapat kita lihat di luar olahraga tersebut. Orang dapat lebih mudah tersulut emosinya ditengah berbagai ketidakpastian. Perut keroncongan, macet ga karuan, masa depan ga jelas, lamaran di tolak. Sedikit saja mereka dicolek, niscaya emosi mereka akan segera meninggi. Hal ini kami kira dapat dilihat di acara komedi di televisi. Di acara just For Laugh misalnya, orang yang dikerjai nampaknya lebih tenang dan tidak tersulut emosinya. Ya, di sana dimana kebutuhan pangan sudah terjamin orang dapat lebih tenang dalam menghadapi sesuatu. Mereka mampu lebih sering untuk tertawa.

Sebaliknya, ketika acara humor serupa diterapkan disini, maka bukannya kelucuan orang yang kita dapat di layar televisi, malah luapan emosi yang lebih sering kita tonton. Udah stress, dijailin pula. Ya, marah lah mereka.

Oh ya, disini jika tidak marah, ya sebaliknya kita malah akan tertawa. Ketika sudah bingung siapa yang hendak disalahkan, mengapa bisa salah, dan blablaba, selanjutnya mereka hanya bisa pasrah. Ya udah ketawa saja. Bingung harus bicara pada siapa dan bagaimana menyelesaikan masalahnya. Ya sudah ketawa saja. Lumayan bisa bikin awet muda.

Nah, di sepakbola, di kehidupan manusia di sini, ketika sudah bingung, gamang dan serba tak jelas, selain tertawa kita cukup hanya menyalahkan orang lain. Ya, tak salah lagi menyalahkan orang lain itu melegakan. Benar-benar melegakan.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s