Asyiknya Liburan Tengah Pekan: Dari Kotak Makan Sampai Nenek Topless

Liburan memang  satu hal yang jarang kami lakukan, dalam artian pergi berlibur ke suatu tempat wisata atau sekedar jalan-jalan keliling kota. Bagi kami setiap hari rasanya bagai liburan, karena kami memang pengangguran yang amat sangat banyak memiliki waktu luang. Ya, kalau kata Veblen kami merupakan leisure class. Tapi lebih dari itu, karena kami pun tak punya uang juga pengangguran, maka kami lebih layak disebut super leisure class.

Nah, beberapa hari yang lalu kami menyempatkan diri untuk meregagangkan otot yang sudah renggang ke tempat wisata. Tempatnya tak jauh-jauh dari tempat tinggal kami. Hanya berjarak sekitar satu sampai dua jam dari kediaman kami. Nah pada kesempatan yang pertama kami mengunjungi tempat wisata yang terkenal akan mitos dayang sumbinya. Ya, telah lama kami tak mengunjungi lokasi ini.

Perjalanan kami berjalan lancar. Tak ada hambatan berupa macet atau apapun. Namun biasa, menjelang keluar ke perbatasan Bandung Barat, kendaran kami sedikit tersendat karena banyaknya tempat belanja di pinggir kanan, kiri jalan. Namun setelah itu semuanya berjalan normal. Dan tak lama, kami telah mencapai  tempat tujuan kami.

Kendaraan kami nampak berjalan merayap untuk menemukan parkiran di lokasi wisata tersebut. Setiap ruas parkiran dijejali oleh banyak mobil para wisatawan. Plat nomor mobil pun rasanya masih didominasi oleh leter D dan B. Sisanya kami melihat juga beberapa leter T, H, AB, dan AD. Akhirnya setelah sekitar 30 menit mencari, kami menemukan tempat kosong untuk parkir. Kemudian kami segera membuka jendela dan dalam sekejap bau belerang menusuk penciuman.

Kami menaiki anak tangga dan melihat kepulan asap belerang yang berasal dari dalam kawah.

Disana kami hanya jalan-jalan plus foto-foto. Oh ya, sekedar info, baso tahu kalau tak salah seporsi 12.000, ditambah rasanya ga jelas mau ke utara atau selatan. Pokoknya aneh lah rasanya. Namun yang menarik bagi kami ialah di sini kami dapat melihat bahwa tempat wisata nampaknya menjadi lokasi bagi bertemunya beragam bahasa dan orang dari berbagai penjuru dunia. Mulai dari logat batak, jawa tengah, jawa timur, sunda, ambon, arab, korea, perancis hingga cina.

Kami tak lama berada  disana, dan kami segera melanjutkan ke tujuan wisata berikutnya yang hanya berjarak sekitar setengah jam dari lokasi wisata yang pertama. Kami berencana sedikit menghangatkan tubuh di kolam pemandian air panas. Ya lumayan sih kami bisa tidur segar karena air hangat alami tersebut. Namun sayangnya bukan masalah air hangat yang akan kami bahas di sini.

Arti Sekotak Makanan

Begini, makanan ataupun segala sesuatu yang dijual di tempat wisata biasanya harganya jauh lebih mahal dari biasanya. Oleh karena itu para pelancong, sering membawa bekal dari rumah, biasanya ini berupa bekal makanan.  Baik berupa nasi bungkus, misting atau bahkan dengan rantang. Nah ada yang unik dari fenomena membawa misting atau kertas makan dari rumah ini.

Banyak pengunjung, biasanya keluarga membawa bekal makanan dari rumah. Namun anehnya mereka kerap malu-malu ketika membuka dan makan bekalnya tersebut (terutama pemuda-pemudi). Entah mungkin mereka merasa kampungan karena membawa makanan, tikar dan sebagainya ke tempat wisata. Hal ini terlihat dari tempat mereka yang nyempil atau mojok saat mereka membuka kotak makanan mereka. Jika pun mereka membuka bekal makanannya di keramaian, rasanya ekspresi mereka saat menikmati makanan sambil berbiincang ringan dengan keluarganya sepertinya tak lepas. Ya,seperti malu-malu.

Perasaan kagok atau malu membawa bekal makan saat liburan pun pernah kami alami. Ya dulu, saat masih remaja, bersama keluarga kami berlibur ke dufan. Kala itu, entah kenapa kami merasa malu ataupun sedikit kagok ketika membuka bekal makanan kami dari rumah. Mungkin kami merasa seperti orang kampung jika membawa bekal tersebut(Padahal kami memang bukan orang kota). Kami sepertinya merasa bahwa kami akan terlihat seperti kabayan, orang yang baru sabah ke kota dan baru pertama kali mengunjungi tempat wisata itu.

Huff, rasanya kala itu kami memang termakan jargon bahwa orang kota itu lebih wah, lebih gaya, lebih berwibawa,lebih sopan, lebih beretika,lebih berpendidikan dan pokoknya lebih segala-galanya lah dari orang kampung. Citra itu tentu kami dapatkan dari keseharian, dari guru, orang tua, lewat koran atau terutama lewat iklan dan acara di televisi. Nah, salah satu dampaknya ialah dalam banyak kesempatan waktu dan ruang  tertentu, kami seperti dipaksa untuk berperilaku menurut citra ruang yang dilekatkan pada suatu tempat yang tengah kita diami.

Contohnya, ya yang tadi. Saat kami tengah liburan di dufan. Sepertinya ada kesan bahwa dufan merupakan tempat liburan yang mewah dan sepertinya paling cocok bagi orang kota (setidaknya hal ini kami alami beberapa tahun ke belakang). Efek dari hal tersebut ialah kita dituntut berperilaku, menggunakan atribut sosial atau  melakukan semacam pertukaran simbolis yang cocok dan sesuai dengan citra dufan yang mewah dan tempat wisata orang kota. Misalnya kita seolah harus dituntut tampil gaya saat ke lokasi tersebut. Baju yang dikenakan, potongan celana, hingga sepatu yang cocok, setidaknya dalam frame kami, tampilan tersebut mampu diterima sebagai hal yang  dinaggap “gaya “oleh orang kota. Begitu pun dengan penggunaan bahasa. Rasanya kami seolah dituntut untuk berbahasa Indonesia atau bahasa gaul sana, dan tak menggunakan bahasa daerah kami. Sepertinya rasa minder menghampiri jika kami menggunakan bahasa daerah kami dan orang sekeliling kami mendengarnya. Nah tekanan ruang atau citra ruang yang serupa rasanya bisa kami lihat juga di mall atau tempat belanja modern lainnya.

Namun, mau bagaimana pun, yang kami rasakan, ketika membawa bekal makanan ke suatu tempat ,itu merupakan suatu hal yang nikmat. Ya kami bisa merasakan nikmatnya makanan buatan rumah, di suatu tempat, dan berbincang hangat dengan anggota keluarga atau kawan. Hal yang belum tentu bisa dirasakan dan kami kira banyak dirindukan oleh banyak orang lainnya. Ya, dengan sekotak bekal makanan atau juga rantang susun yang bersisi aneka panganan, kami bisa menikmati liburan dengan suasana akrab dan diselimitu kehangatan atmosfer kekeluargaan. Jangan salah, sekotak makanan dengan hanya berisi indomie goreng, nasi, dan tempe amatlah nikmat jka kita menikmatinya di tempat wisata dan memakannya bersama anggota keluarga atau kawan dekat. Senikmat ketika kita menyantap indomie rebus sepulang dari kehujanan di jalan. Huh…mantap.

Nah, hal di atas kebetulan dapat kami lihat pada liburan kali ini. Saat itu kami melihat sekeluarga tengah makan siang bersama di area parkiran mobil. Mereka makan di atas bagian belakang mobil pick-up nya. Dengan cocolan sambal dan lalapan mereka terlihat begitu menikmati makan siangnya sambil sesekali bergurau dengan kerabatnya. Saat kami melihat hal tersebut, jujur kami sedikit terperangah sekaligus terkesima. Ya, hal tersebut membuat kami menelan air liur kami sendiri, karena kami tergoda atau kabita untuk melakukan hal yang serupa dengan kerabat kami. Rasanya nikmat makan bersama dengan cara demikian……

Oh ya, namun anehnya, mereka tak merasa terganggu aroma belerang saat makan bersama tersebut. Padahal jarak mereka hanya beberapa meter dari bibir kawah yang mengeluarkan asap dan aroma belerang. Mhhh, rasanya hal ini membuktikan, bahwa kenikmatan dan kehangatan makan bekal bawaan rumah di tempat wisata dapat menepis bau tak sedap dari aroma menusuk belerang itu.

Selain itu, membawa bekal makanan dari rumah juga membantu kelestarian alam dengan turut serta dalam mengurangi sampah plastik, disamping tentu saja dapat menghemat pundi-pundi uang. Jadi, uang yang dihemat dengan membawa bekal makanan tersebut, dapat ditabung atau dialokasikan untuk memasuki wahana atau tempat wisata lainnya. Nah dengan membawa bekal makanan, kita dapat berenang sambil minum air kan ?

Akhir Perjalanan

OK. Cukup rasanya tentang kotak makan. Di liburan kami kali ini, kami juga melihat pemandangan bahwa banyak ibu-ibu, setengah baya ataupun telah renta begitu menikmati saat berendam di air panas. Mereka seperti kumpulan putri duyung yang lama terdampar ketika mereka masuk kolam dan tertawa bersama di kolam air panas tersebut. Dengan asyiknya mereka merendam tubuh kisut mereka sambil sesekali membasuh muka dan punggungnya.

Saat itu kami banyak melihat sekumpulan ibu-ibu berkerudung yang hendak nyebur ke kolam air panas. Ya, ibu-ibu pengajian tersebut itu begitu girang dan tertawa saat masuk kolam tersebut. Hal yang niscaya jarang terlihat di keseharian bersama keluarganya masing-masing. (Oh ya, kenapa ya di pikiran kami ketika melihat kumpulan ibu-ibu berkerudung di suatu tempat, kami mengira mereka sebagai ibu-ibu pengajian?)

Nah, mungkin saking asyik dan buru-buru ingin masuk kolam atau ga pengen ribet bolak-balik ke tempat ganti baju, mereka memutuskan berganti baju di pinggir kolam tersebut. Tentu mereka menggunakan baju daleman lagi, sehingga mereka berani mengganti baju di pinggir kolam. Namun ada saja salah satu dari mereka yang lupa memakai pakaian dalaman. Walhasil si nenek itu mengganti baju, membuka bh-nya dipinggir kolam tersebut. Hal itu coba ditutupi oleh kawannya. Namun tetap saja, dari posisi kami yang tengah santai membasuh kaki di kolam air hangat yang tempatnya lebih tinggi, pandangan mata  terhadap si emak yang tengah berganti baju tak dapat dihalangi.

Akhirnya di waktu penghujung liburan kami, saat adzan magrib tak lama lagi berkumandang, kami diberi hadiah manis saat hendak pulang. Ya, akhirnya, pemandangan topless nenek renta di samping kolam air panas akan menjadi hadiah yang tak pernah terlupa. Sungguh liburan yang berkesan. Luar biasa!

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s