Internet Ironi: DC


Kerjaan kami jika tengah mengakses internet tak jauh-jauh dari halaman Youtube atau mengunduh film dan musik. Nah, ada pengalaman menarik, baik yang kami alami sendiri atau yang dialami kawan mengenai masalah ini.

Kami mengunduh banyak materi dari internet, dari mulai filenya yang hitungan byte hingga gigabyte. Berbagai cara kami lakukan agar file unduhan kami dapat “selamat” dari server sampai ke komputer. Mulai dari begadang, menggunakan software download accelerator, hingga utak-atik antena modem. Untuk yang ukuran filenya besar pengorbananpun telah banyak kami lakukan. Begadang sampai pagi, membiarkan komputer terus menyala berhari-hari, memundurkan jadwal makan, telat bangun, tak masuk kuliah, hingga lupa mengerjakan tugas. Semua itu kami lakukan semata-mata hanya demi dapat menikmati video musik, mp3 atau film favorit kami.

Nah suatu waktu kami berkesempatan, mungkin hampir selama sebulan penuh kami mempu mengakses internet dengan kecepatan yang sangat cepat untuk ukuran di sini. Ya, ketika kami mendownload film, dalam kotak box download kecepatannya tertulis 2 Mbps per detik. Waktu itu kami kaget luar biasa. Kalau tak salah pada waktu itu kami sanggup mendownload 4 film, dengan ukuran tiap film 1 giga dalam waktu kurang dari 20 menit. Tentu saat itu kami cukup kalap. Fenomena Internet Hype saat itu benar-benar kami alami.

Namun internet kecepatan tinggi tersebut hanya kami alami beberapa saat. Umumya kecepatan download hanya mencapai hitungan puluhan kbps. Kami pun rasanya telah mengalami beragam kecepatan download saat mengunduh materi dari internet. Mulai dari yang hitungan byte per detik, puluhan kilobyte per detik, atau ratusan kbps per detik. Namun yang paling sering sih, kami namakan “ketiduran byte perdetik”. Maksudnya ya, kecepatan internetnya begitu lambat hingga untuk menunggu file tersebut selesai diunduh, terkadang kami sampai ketiduran saking lamanya file tersebut selesai didownload. Dan rasanya hal ini tak dialami oleh kami saja. Kami pikir sangat banyak orang di sekitar kami yang mengalami hal serupa.

Nah, ternyata dari pengalaman kami yang telah mengecap berbagai kecepatan internet tersebut, kami memiliki persepsi tersendiri akan kecepatan yang kami anggap “cepat” atau “lambat”. Dan karena kami telah cukup sering mengakses internet dengan kecepatan yang mungkin banyak dibilang orang  “cepat”, maka ketika kami hanya mendapat kecepatan puluhan kbps per detik maka kami akan mengeluh atau menghentikan proses download yang tengah kami lakukan. Sepertinya ada hambatan psikologis tersendiri, ketika pada suatu saat kami dapat mendownload materi internet dengan kecepatan Mbps namun suatu waktu kami kecepatannya turun dan hanya berkisar di puluhan kbps. Ya mungkin seperti orang yang telah lari beberapa kilometer, namun karena ketinggalan barang bawaan ia dipaksa harus kembali “berjalan mundur” mengambil barang bawaannya. Rasanya terasa berat dan amat sungkan untuk dilakukan.

Pernah atau tepatnya seringkali, kawan kami begitu sumringah ketika ia mampu mengunduh file dengan kecepatan sekitar 100 kbps. Ia senangnya bukan kepalang. Karena yang biasanya ia hanya mampu mengunduh dengan kecepatan 10-20kbps, kini kecepatannya melonjak tajam. Wah, langsung ia bercerita panjang lebar kepada kami. Tak lupa ia sms beritahu kawannya atau unggah kecepatannya (pamer) di forum kepada kawannya juga. “wah gila, anjiss cepet pisan!” “ah donlot ini ah, donlot itu ah!” “Hah, gila cepet banget!”

Komputer Sebelah

Namun beberapa jam kemudian, saat malam, pengalaman ceria kawan kami di atas menjadi sangat menyedihkan. Ya, malamnya kami mengobrol via internet dengan kawan yang merupakan warga negara tetangga. Saat itu kami bercerita panjang lebar, dan pada satu kesempatan kami menanyakan tentang internet di negaranya. Ia sendiri mengaku tak tahu banyak tentang internet. Namun ia berkata, kini ia tengah mendownload file dari internet dan kecepatannya hanya beberapa ratus kbps. Itu pun ia katakan dengan nada sedih. Kemudian sambil sedikit mengeluh, ia menambahkan “ Saya rasa saya harus segera menambah kecepatan internet saya”.

Dalam obrolan kami selanjutnya, ia pun nampaknya tak mengenal istilah disconnect. Jika ia tengah download file dari internet, kecil ataupun besar ukurannya, tak pernah ia mengalami gangguan berupa koneksi yang terputus. Jadi ketika kami bertanya perihal isilah “DC” yang cukup populer disini, ia sama sekali tak mengenalnya. “ Jika saya mendonwload file, ya saya melakukannya dalam satu waktu”. Tidak ada  pause, resume dan sebagainya.

Selain itu, persepsi tentang apa yang dapat dilakukan dengan komputer (+koneksi internet) antara kami dengannya pun berbeda. Ketika ia berkata ia tengah menonton siaran langsung sepakbola, kami berpikir ia berarti  tengah internetan di PC sambil nonton bola di TV di kamarnya. Ternyata kami salah. Rupanya ia tengah nonton siaran bola streaming live di internet dengan komputernya. Wajar saja, di kamus kami, yang namanya nonton itu ya di tv, bukan lewat internet. Nonton acara televisi  lewat internet ya sama saja memicu darah tinggi di sini.

Nah, jadi apa yang bisa diambil dari pengalaman pribadi dan pengalaman kawan kami di atas?

Ternyata indikator 100 kbps saat kita tengah mendownload file, diartikan berbeda oleh masing-masing individu dalam atau antar negara. Yang satu ada yang senang bukan kepalang ketika mendapat kecepatannya download 100 kbps. Satunya lagi sedih dan satunya lagi biasa-biasa saja.

Selain itu di rasanya kawan saya di seberang sana, bebas menambah kecepatannya karena memang infrastrukturnya telah mumpuni. Sebaliknya, jika kami disini coba meng upgrade kecepatan internet rasanya sia-sia saja. Mungkin lebih tepatnya tak signifikan.  Mau di upgrade sampai ke mana lagi, lha infrstruktur nya pun masih pas-pasan. Mending ngurusin pipa pdam yang bocor dulu lah, daripada ngurusin galian tanah untuk kabel optik.

Jadi bagaimana? Masih percaya bulus dari banyak provider di TV? Apa bener kecepatan akses internet di BB segitu cepetnya? Trus apa dong artinya “paket internetan sepuasnya”?

Nah, kalian silahkan jawab saja. Suka-suka. Kami sih sekarang mu donlot sealbum mp3, sambil ditinggal tidur. Lumayan manasin komputer sampe besok pagi………………………!

***

Tulisan Terkait: Kenapa Kami Benci Youtube

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s