Mengapa Bakso Begitu Digemari?

Begini ceritanya. Di dekat  rumah, ada penjual bakso yang biasa mangkal. Lokasi mangkalnya tepat di depan masjid. Setiap hari bakso tersebut selalu diserbu pembeli, terutama pada saat jam makan siang, dari pukul satu sampai pukul dua siang. Jika kami hendak membeli pada jam-jam tersebut, insyalllah kami akan menunggu tak kurang dari setengah jam. Waktu yang cukup lama hanya untuk menikmati seporsi bakso yang harganya sekitar 4.000-7000/ porsinya.

Kami sebenarnya keheranan, kenapa tukang bakso ini ramai dikunjungi. Faktor pertama mungkin memang bakso ini enak. Ya, perasaan enak memang relatif. Tapi rasanya ibu-ibu, yang kami pikir merupakan penggemar bakso, mempunyai  satu standar tentang bakso yang dianggap enak. Pertama mungkin dari baksonya. Baksonya secara teksur lembut juga rasa daging sapinya terasa. Kedua, mie-nya. Mie telur-nya harus terasa kenyal,lembut, namun mudah dipatahkan oleh lidah, sendok, atau mulut. Kemudian yang paling penting ialah kuahnya. Ya, kuah yang berasal dari kaldu sapi ini harus benar-benar wangi. Selain itu, kami pikir kriteria bakso itu enak atau tidak, ya kita harus mencoba baksonya dengan kuahnya murni. Tanpa ditambah saus, kecap, merica dan penyedap rasa lainnya. Dengan itu maka cita rasa bakso yang sebenarnya dapat terasa.

Oh ya, hampir lupa. Hal terakhir yang membuat bakso begitu dipuja ialah si pedagang juga menjual ceker ayam dan menyediakan sisa tulang-tulang sapi yang dijadikan kaldu di dasar panci besar untuk diberikan kepada pelanggan yang memintanya. Ya, mencari dan mengemut tulang sum-sum memang sangat mengasyikkan untuk penggemar bakso.

OK. Itu kriteria pertama, secara teknis rasa baso, yang membuat tukang bakso dapat begitu laku. Hal itu tentu dapat ditemukan di banyak tukang bakso. Namun ada lagi kriteria agar tukang bakso ini dapat terus laku dan bertahan di tengah persaingan ketat para pedagang bakso.

Hal itu ialah pemilihan lokasi mangkal atau pun pemilihan lokasi dagang (jika pedagang itu menetap dan menyewa tempat). Hal ini berpengaruh besar pada banyak tidaknya pelanggan yang akan membeli baksonya. Hal ini terkait dengan lokasi dagang yang berdekatan dengan pusat keramaian, tempat gosip ibu-ibu, rumah yang tengah mengadakan arisan, halaman masjid, taman, atau mangkal di tempat lainnya dimana terdapat kerumunan orang yang tengah bersantai, istirahat sejenak. Ruang sosial tempat banyak kumpulan individu bertukar pendapat secara santai, berbincang, sambil bersenda gurau.

Hal di atas dikarenakan, pembeli bakso (terutama ibu-ibu) tak semata membeli bakso untuk menikmatinya. Mereka juga mencari kawan untuk ngobrol setelah penat dari pekerjaan rumah atau istirahat sejenak dari tugas-tugas kantornya. Saat mereka memesan bakso, menunggunya disajikan, sambil makan, dan setelah memakan bakso ialah merupakan waktu yang asyik bagi mereka untuk mengobrol satu sama lain. Bergosip, membicarakan isu seputar artis, tentang anak-anaknya yang rewel, bergunjing tentang tetangga mereka, mengkritik cara belajar dari guru anaknya di sekolah, sampai kritik-kritik teradap pemerintah yang disampaikan apa adanya seputar kenaikan harga pangan, pemadaman listrik,atau mahalnya pendidikan. Maka, tak aneh rasanya jika sejak mereka memesan bakso sampai bakso mereka habis dan tinggal hanya membayarnya, akan menghabiskan waktu sampai tiga jam.

Selain itu, hal yang membuat tukang bakso selalu ramai dikunjungi oleh pembeli ialah keramahan, kesabaran, dan ke-lapangdada-an si penjual dalam menanggapi ocehan, keluh kesah, dan segala topik yang dikeluarkan oleh pembelinya (terutama ibu-ibu). Ini bukan perkara mudah lho. Apalagi menyambut pelanggan dan menanggapinya dengan penuh senyum dan perhatian. Di banyak kesempatan, muka pedagang yang judes membuat orang malas kembali lagi ke tempat dagangannya.

Sang pedagang harus bisa melayani ocehan ibu-ibu atau menanggapi dengan cepat pernyataan dari mereka. Atau, jika si penjual tak mengerti dengan obrolan yang diajukan oleh pelanggannya, setidaknya si penjual dapat menjawabnya dengan “iya, iya saja” atau mengamini apa yang diutarakan oleh pelanggannya. Hal ini akan membuat pelanggannya merasa dihargai sekaligus menyediakan saluran bagi mereka agar dapat melampiaskan segala eskpresi emosinya dengan lepas. Dan pada akhirnya, secara psikologis, hal ini akan membuat pelanggannya lebih lepas, lega, karena keluh kesahnya telah mampu diutarakan dan disampaikan pada seseorang dan tidak disimpan di dalam benak mereka saja.

Faktor terakhir yang mungkin membuat penjual bakso laris ialah harganya. Kami pikir penjual bakso tahu telah amat tahu bagaimana mereka harus menetapkan harga seporsi baksonya sesuai dengan pasar pelanggannya. Dan jangan pula terlalu kaku dengan masalah harga ini. Misalnya seporsi harganya Rp.8000, namun ada pelanggannya yang ingin membeli dengan Rp.3000,Rp.4000, atau Rp.5000. Ya sudah, jangan ditolak. Beri saja besar porsinya sesuai dengan harga permintaan pembelinya. Bagi beberapa orang kan harga 8000 terbilang mahal buat seporsi bakso atau mungkin bagi sebagian lainnya porsi seharga 8000 itu tak mahal namun terlalu banyak bagi perut mereka. (kadang ada lho pedagang bakso keliling yang mematok harga sekian dan tak bisa kita membelinya kurang dari harga yang ditetapkannya tersebut). Tentu hal ini tak berlaku bagi pedagang bakso dengan bentuk franchise.

Nah, kami kita hal-hal di atas berpengaruh besar akan laku atau tidaknya penjual bakso. Dan hal tersebut nampaknya dapat kami lihat pada tukang bakso yang mangkal dekat rumah kami. Ia memiliki rasa bakso yang enak, kuah lezat, juga sum-sum yang nikmat. Ia juga mangkal di sekitar keramaian yakni di halaman masjid yang merupakan tempat banyak ibu-ibu menunggu anak mereka pulang dari pendidikan TPA (Taman Pendidikan Al-Quran). Ia juga ramah dan bersedia melayani dengan penuh perhatian ocehan rewel dan cerewet dari para ibu-ibu. Terakhir harga seporsinya tergolong murah plus yakni Rp.7000 namun kami bisa membeli di bawah harga tersebut.

Dari situ, mungkin kini kami sedikit mengerti mengapa tukang bakso tersebut selalu dipenuhi pembeli. Ketika hari Jumat, saat waktunya kaum pria melaksanakan Jumatan, bahkan sebelum jumatan usai, para ibu-ibu telah mengantri untuk membeli bakso tersebut. Yah, Semoga antrian tersebut tak mengganggu kekhusyukan si penjual bakso ketika tengah jumatan dan berdoa di masjid.

Ya, kami pun berdoa semoga baksonya dapat terus laku, tetap memiliki pelanggan setia, dan dapat mengembangakan dagangannya. Akhirnya kami sekarang sedikit lebih mengerti mengapa tukang bakso  dapat begitu laku dan mengapa banyak orang begitu menggilai bakso.

***

Tulisan Terkait: ♫ Indomie Seleraku ♪

Iklan

2 comments on “Mengapa Bakso Begitu Digemari?

  1. bakso adalah makanan praktis dan nikmat untuk disantap. Untungnya semua tukang bakso itu orangnya sabar dan gak ingin kaya mendadak, jadi kalo kasih harga baso gak pernah mahal….hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s