Ke Mana Perginya Sendal yang Hilang di Masjid?

Ceritanya bermula ketika kami hendak menunaikan ibadah rutin Salat Jumat. Ketika hendak berangkat, tepat setelah adzan, kami keanehan mengapa sandal capit yang biasa kami pakai, tak ada di depan rumah. Nah, usut punya usut, ternyata sandal kami dipakai oleh saudara. Dan ketika kami menanyakan alasan ia meminjam sandal kami ialah karena jika ia memakai sendalnya sendiri, maka ia khawatir sandalnya akan dicuri.

Hah?…….. Ternyata hingga kini masih ada saja orang yang begitu khawatir kehilangan sendal ketika Jumatan di masjid.

Dicuri. Ya, dicuri. Telah sejak lama kami tak lagi mendengar kasus pencurian sandal, terutama yang berlangsung di masjid. Ya topik pencurian sandal memang seolah menjadi topik yang ikut mewarnai aktivitas dan hiruk pikuk banyak orang di masjid. Ia menjadi saksi begitu sulitnya mencari rezeki dan tak adilnya hukuman bagi sang pencuri sandal bila dibanding penjahat kelas dumbo lainnya.

Masalah pencurian sandal biasa terjadi saat sholat Jumat atau ketika taraweh. Beberapa tahun yang lalu memang topik ini menjadi perbincangan hangat di masjid di banyak tempat (mungkin). Bahkan masjid yang telah menjadi langganan pencurian sandal hanya bisa menyarakankan  “Tolong titpkan sandal dan sepatu anda atau simpan dan masukan sandal/sepatu anda di keresek dan masukkan ke tas”

Sempat begitu membahananya isu pencurian sandal atau sepatu di masjid bahkan memunculkan anekdot berupa goyonan tebak-tebakan seperti ini

Kenapa di Masjid tak ada piano layaknya di gereja?” Jawabannya ialah…..

Lha boro-boro piano, sandal capit aja yang murah bisa ilang di masjid, bagaimana dengan piano yang harganya jauh lebih mahal dari sepasang sandal capit!”

Walau tak banyak orang yang tahu tentang anekdot di atas, namun, di daerah kami, hal ini seolah menjadi bukti sekaligus respon akan fenomena yang terjadi di sekitar. Peristiwa hilangnya sandal di masjid yang terkadang membuat bingung banyak orang, ditanggapi santai dengan lelucon segar.

Namun jangan salah, di waktu yang lalu, di awal mencuatnya masalah pencurain sandal ini, peristiwa ini terkadang menjadi peristiwa yang mengerikan. Terutama melihat geramnya warga yang kehilangan sandal setelah beribadah di masjid. Dan yang tak kalah menakutkannya ialah ketika sang pencuri sandal tertangkap tangan ketika ia mencuri sandal di masjid.

Ya, kami masih ingat kejadian itu walau sedikit samar-samar. Kejadiannya waktu kami masih SD. Peristiwa di siang hari, tepat sesaat setelah solat jumat. Saat itu kami tak tahu apa yang terjadi, yang jelas dari masjid banyak orang berhamburan keluar dan berlari ke luar masjid. Kami bersama kawan pun akhirnya memutuskan ikut berlari mengikuti orang dewasa yang telah lari mendahului kami. Saat itu tak tahu apa yang terjadi. “Rasanya keren saja ikut lari-lari bersama orang dewasa dan terlibat dengan masalah mereka.

Kami berlari keluar ke jalan. Kami tak tahu hendak berlari ke arah mana. Yang jelas kami hanya mengikuti kawanan orang dewasa yang berlari di depan kami. Kami berlari sekitar 2 kilometer dan akhirnya sampai di halaman sebuah masjid. Masjid yang terletak tak di RW sebelah. Di ruangan kecil. Di tempat seperti pos satpam, kami melihat kerumunan orang. Akhirnya kami menuju kesana. Kami meringsek ke pintu masuk yang terbuka demi melihat apa yang terjadi.

Dan saat itu kami dibuat sedikit terkejut ternyata di dalamnya terdapat orang yang tengah dihakimi karena kedapatan mencuri sandal. Ia ditanya paksa. Ditekan untuk mengaku sambil dipukuli oleh pihak keamanan. Sesekali tendangan dan pukulan dari massa yang mengelilingi pun menghujam wajah pencuri yang lebam. Wajahnya bengkak, berwarna sedikit hijau, dan dihiasi merah darah disekitar mulut, pelipis, dan dipelupuk matanya. Tangannya pun penuh darah bekas menyeka darah di wajahnya.

Ya, kami masih ingat kejadian tersebut. Dan ingatan kami semakin menguat ketika menyaksikan acara kriminal di tv yang menayangkan pencuri ketika dihakimi masa karena tertangkap tangan mencuri kotak amal di masjid, mencuri motor, handphone, mencuri ayam, atau pencurian sejenisnya

Nah, setelah hampir lebih dari satu dekade, peristiwa di atas jarang lagi kami dengar, terlebih kami lihat secara langsung. Dari kejadian tersebut muncul juga pertanyaan iseng dari benak “apakah makin berkurangnya pencurian sandal bisa juga dijadikan indikator bahwa kesejahteran bannyak orang telah meningkat?

Namun faktanya kini orang miskin semakin banyak walau orang kaya juga sedikit bertambah. Selain itu seiring perkembangan zaman, sepertinya ada lebih banyak hal lagi yang lebih penting dan berharga untuk dicuri, selain menggondol sepasang sandal atau sepatu.

Ya, kini banyak yang lebih asyik dan berharga untuk dicuri dari hanya sebatas materi.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s