Bulan Puasa, Bulan Penuh Keceriaan (I)

Hadirnya Taman Bermain Baru

Di wilayah kami, bulan puasa merupakan bulan penuh keceriaan, terutama bagi anak-anak. Setelah di siang hari mereka belajar berpuasa, di malam harinya mereka bersama kawan juga keluarga menunaikan solat teraweh bersama. Dan disinilah keceriaan bulan ramadhan dimulai bagi mereka. Keceriaan yang bermula dari sejak matahari tenggelam bahkan hingga menjelang solat subuh.

Dengan hadirnya bulan puasa seolah ada alasan untuk mereka ajukan ke orang tua agar dapat bermain lebih, terutama di malam hari. Sejak usai buka puasa, banyak anak muda mulai berkumpul. Mereka bersiap dengan sarung—yang belum tentu mereka pakai untuk solat teraweh, peci, atau mungkin dengan sedikit stok petasan kecil di saku mereka.

Setengah jam atau 15 menit sebelum adzan Isya berkumandang, tiap anak mulai keluar rumah dan siap berangkat ke mesjid. Eits, tapi jangan salah, hanya berangkat ke masjid saja, pada bulan puasa ialah hal yang menyenangkan. Hal ini karena mereka terlebih dahulu nyamper ke tiap rumah kawan mereka untuk berangkat bareng ke mesjid. Anak yang rumahnya paling jauh dari masjid biasanya yang mempunyai “tugas” pertama untuk nyamper kawan lainnya.

Dan perjalanan ketika nyamper dari satu rumah ke rumah kawan lainnya pun terasa menyenangkan. Hal ini karena diperjalanan mereka mampu sambil mengobrol. Bahkan ketika menunggu di depan rumah kawan yang mereka samper pun, mereka gunakan untuk mengobrol. Mulai dari pengalaman puasa hari ini, acara sahur di televisi, hingga rencana yang akan dilakukan ketika menjelang sahur nanti.

Setelah itu, ketika pasukan sudah lengkap, ketika kawan mereka telah mereka samper semua, barulah mereka berangkat bersama-sama ke mesjid. Sambil mengobrol, riuh, atau mungkin sambil sesekali melemparkan petasan kecil di sepanjang perjalanan ke masjid. Namun sayang di daerah kami, di tahun ini, petasan tak begitu akrab di tangan para pemuda komplek.hehe

Setibanya di mesjid pun mereka biasanya nongkrong-nongkrong dulu. Lagi-lagi mereka mengobrol, bersenda gurau sambil membeli snack jajanan warung dengan ditemani oleh minuman teh semacam teh bintang sobo dan sejenisnya. Baru ketika Komat berbunyi, mereka terburu-buru mengambil air abdas. Oh, ya, pemuda di daerah kami ini kadang terbagi menjadi dua berdasarkan prioritas ibadahnya. Satu, mereka yang ke masjid hanya untuk sholat Isya berjamaah. Kedua ialah orang yang ke masjid, tapi tak se-rokaat pun melaksanakan sholat, baik sholat Isya, atau sholat teraweh. Tipe yang terakhir ini, ke masjid-nya hanya sebagai sarana untuk hang out.haha

Nah setelah solat Isya beres barulah pemuda berkumpul di halaman masjid. Sarung mereka lempangkan dan mereka duduk-duduk bergerombol di kursi di halaman masjid atau di warung di sekitar masjid. Terkadang ada satu-dua anak yang harus telat bergabung untuk nongkrong bersama kawannya karena ia harus mengisi buku ramadhan dari sekolahnya. Tak mengapa mereka tak mendengarkan ceramah di masjid, asalkan mereka tak melewatkan waktu-waktu yang menyenangkan bersama kawan.

Saat Sholat Taraweh Usai

Ketika sholat taraweh usai, bukan berarti nongkrong-nongkrongnya pun usai. Untuk anak di usia SD atau di bawahnya mungkin mereka langsung pulang ke rumah, namun untuk pemuda berusia SMP ke atas malam masih terlalu terang jika mereka pulang ke rumah saat setelah solat taraweh usai.

Setelah solat taraweh masih ada kegiatan yang mengasyikkan, mulai dari hanya ngobrol, gitar-gitaran, main petasan, main kartu, bermain futsal atau juga bermain game online ramai-ramai. Nah, tak jarang aktivitas tersebut baru usai pada pukul tiga dini hari, menjelang sahur. Dan tak jarang diakhiri dengan acara membangunkan warga untuk buka dengan berkeliling komplek sambil memukul perkusi khas ramadhan. Baru setelah itu, mereka beramai-ramai pulang ke rumahnya masing-masing dan siap mengakhiri hari cerianya dengan sahur bersama keluarga.

Tapi tunggu dulu. Bagi sebagian lainnya, setelah imsak atau menjelang sholat subuh merupakan ajang bermain yang harus juga dimanfaatkan. Biasa, alasannya sih ke masjid mau sholat subuh. Mereka memanfaatkan momen ini apalagi kalo bukan untuk nongkrong bareng bersama teman sepermainan. Nah baru ketika pukul lima lebih, mereka pulang ke rumah. Dan setelah itu, acara nongkrong malemnya resmi berakhir. Tapi mereka tak khawatir, masih ada 29 malam lagi yang akan mereka lewati dengan suka cita.

***

* Dari fenomena di atas seketika tersebersit ide. Jika di luar negeri sekolah memberikan tugas atau penelitian kecil-kecilan sebagai tugas musim panas, maka seharusnya di sini juga bisa diterapkan hal demikian selama bulan puasa, tidak melulu mengisi buku ramadhan yang membosankan (atau mungkin ini sekedar proyek sekolah aja untuk jual buku ramadhan). Dengan ini mungkin mereka belajar mengerjakan tugas dengan menyenangkan. Misalnya penelitian kecil-kecilan berjudul:

Kenapa pas solat taraweh berjamaah, ketika ada orang yang nguap, kok orang di sebelah-sebelahnya ikut ketularan nguap juga?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s