Bulan Puasa, Bulan Penuh Keceriaan (II)

Bermain di Malam Hari itu Menyenangkan

ilustrasi


Bermain di malam hari merupakan hal yang isimewa bagi anak kecil. Hal ini begitu menyenangkan karena bagi banyak anak kecil malam hari ialah jam terlarang untuk main di luar rumah. Jadi bisa bermain di malam hari dapatlah dikatakan suatu kebebasan. Hal ini juga kami rasakan ketika kecil. Ketika bulan puasa tiba, kami bisa bermain ke rumah kawan, lari-lari di jalan depan rumah, dan bercanda ketawa-ketiwi di halaman masjid saat orang dewasa tengah melakukan salat taraweh.

Tak hanya anak lelaki saja yang memanfaatkan momen puasa untuk bermain di malam hari. Gadis kecil, pantaran TK dan SD pun terlihat begiu ceria saat mejelang solat Isya. Dengan menenteng tas kecil berisikan mukena mini dan mengenakan kerudung aneka warna, anak kecil ini berlarian kesana kemari di sekitar masjid. Mereka bercanda dengan anak sepantaran mereka. Terkadang mereka pun suka ngoceh ga jelas di masjid saat menemani orang tuanya solat taraweh di masjid.

Aktivitas mereka saat “solat taraweh” di masjid ya sebenarnya hanya bermain saja. Tentu juga sambil belajar sedari kecil cara beribadah. Mereka biasanya hanya ngobrol, ngerecokin orang tuanya yang solat di masjid, atau jajan di warung sekitar mesjid. Selain itu biasanya ada saja tingkah lucu dari anak-anak kecil yang ikut tarawehan di mesjid.

Kami kira gembiranya mereka ketika bermain di malam hari di bulan puasa ialah karena mereka seperti memiliki waktu yang istimewa untuk bermain yakni malam hari. Jika hari biasanya anak kecil sangat dilarang main malam hari, maka pada bulan puasa solah para orang tua membolehkan anaknya bermain diluar sambil beribadah.

Saking  tak diperbolehkannya anak kecil bermain di luar rumah pada malam hari  sampai-sampai dimunculkanlah mitos kalong wewe. Makhluk yang katanya akan menculik anak kecil yang bermain di waktu magrib ke atas. Entahlah apakah mitos ini masih terus digunakan oleh ibu-iubu masa kini untuk menakuti anaknya agar tidak keluar rumah pada malam hari.

Namun yang jelas mitos tersebut digunakan demi kebaikan anak. Hal ini semata-mata agar mampu menjaga kesehatan anak karena bermain di malam hari sangatlah tak bagus bagi tubuh anak yang masih rentan. Selain itu lingkungan yang cenderung gelap pada malam hari juga memungkinkan untuk jatuh, terpeleset atau hal yang buruk lainnya. Maka dari itu, mitos tersebut hadir di masyarakat.

Tentu mitos tersebut lebih tepat untuk mengatur seorang anak kecil daripada menjelaskan secara logika karena anak kecil belum memiliki kemampuan kognitif untuk menerima alasan nalar. Dengan ditakut-takuti ditambah ekspresi wajah sang ibu, pasti anak kecil akan ciut untuk keluar rumah pada malam hari.

Nah kembali lagi pada masalah main di malam hari. Bulan Ramadhan ini menajdi ajang bagi anak kecil untuk juga mengenal lingkunga mereka. Mereka juga belajar bersosialisasi dengan teman ibu mereka di sekiatar rumah yang ketemu saat solat taraweh di mesjid. Denga makin sering bersosialisasi maka memungkinkan perkembangan otak mereka semakin cepat. Mereka jadi mampu mengenali hal-hal yang ada di sekitar mereka.

Namun bagi kami yang paling menyenangkan ialah melihat aak-anak kecil itu tertawa sambil berlari kesana-kemari disekitar mesjid. Hal yang niscaya tak dapat lagi mereka lakukan ketika mereka dewasa. Hal yang kami sadari kini, bahwa hal tersebut begitu mengasyikkan.

Sensasi bermain di malam hari itu begitu berbeda dan oleh karenanya itu menyenangkan. Serupa ketika di usia remaja kami pertama kali diijinkan untuk malam mingguan dan berpacaran.

***

Iklan
By nana Posted in BONUS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s