Bulan Puasa Bulan Penuh Keceriaan (III-habis)

Satgas Solat Taraweh

Hampir setiap malam selama bulan ramadhan di mesjid tempat kami melaksanakan solat taraweh berjamaah selalu dipenuhi oleh anak kecil. Maksudnya dipenuhi oleh suara tawa canda mereka. Hingga suara mereka cukup keras untuk menganggu ke khusyukan para jamaah masjid. Ya, boleh dikatakan mereka berisik lah. Hal inilah yan kerpa mambuat kesal para dedengkot di masjid dan bapak-bapak yang tengah solat di mesjid.

Derap langkah anak kecil tersebut menganggu para jamaah. Hingga seringkali beberapa jamaah mengingatkan bahkan membentak para anak kecil tersebut. Namun, namanya anak kecil, diberitahu sekali dua kali tetap saja membandel. Setelah dibentak, mereka diam, namun setelah itu tetap saja mereka membuat kegaduhan di masjid.

Mereka berlarian tak hanya di luar namun sesekali di dalam masjid. Mereka bermain kejar-kejaran yang diikuti oleh teriakan. Para tetua sudah sering mengingatkan namun lama kelamaan mereka membiarkannya saja. Dan dengan itu keributan pun hampir selalu terjadi di tiap malam ketika pelaksanaan solat taraweh berjamah di masjid.

Hingga akhirnya, pahlawan, seorang unsung hero datang ke masjid kami. Ia lelaki paruh baya. Berambut ikal, dengan mata bulat, dan berbadan tegap. Pakaian favoritnya ialah setelan jeans belel dengan atasan swater biru dongker. Sepanjang pengetahuan kami, itulah setelam favoritnya.

Lelaki Paruh Baya yang Aneh

Mungkin orang yang pertama kali melihatnya, menganggap ia seorang yang sedikit ga beres, kurang waras, atau stress. Kami pun menganggapya demikian ketika pertama kali melihatnya. Tapi siring berjalannya waktu kami memiliki ejekan nama yang tepat untuknya yaitu gila. Maksudnya ia merupakan potongan orang tua gaul, yang berperilaku seperti anak muda, dengan waktu luang yang banyak.

Baiklah, sebut saja pahlawan tersebut bernama Pak Udin. Lalu kenapa Pak Udin bisa dianggap sebagai pahlawan di saat bulan puasa. Rasanya para tetua masjid pun begitu terbantu dengan tingkahnya.

Bagini, ia kerap kali datang ke masjid pada saat solat taraweh atau solat isya berlangsung. Ia datang secara tiba-tiba, masuk ke halaman masjid dan segera berteriak sambil membentak

Hei Jangan berisik Loe!Gua tonjok loe!Masuk..Masuk…Masuk mesjid semua!

Sontak hal tersebut membuat kaget dan tunggang-langgang anak kecil yang sebelumnya asyik bermain dan membuat kegaduhan di mesjid. Mereka segera berhamburan menyelamatkan diri dari Pak Udin. Ada berlari menjauh dari masjid dan ada juga yang segera masuk mesjid dan segera ikut solat berjamaah. Dan sesaat setelah kedatangan Pak Udin tersebut, kondisi mesjid menjadi kondusif lagi, tak lagi terdengar suara gaduh anak-anak.

Pak Udin berjaga-jaga selama beberapa menit hingga paling lama mungkin sekitar satu jam. Setelah itu ia kembali lagi ke rumahnya. Dia hampir setiap hari melakukan hal demikian. Jadi dari hal kurang kerjaannya tersebut, nampaklah bahwa sepertinya ia  tipe bapak yang mempunyai banyak waktu luang dan jarang terpusingkan oleh masalah pekerjaan.

Gilanya, ia beberpa kali berteriak “Woi masuk,Nantang Loe, jangan berisik!” itu di serambi masjid. Di pintu masjid, dan hanya berjarak satu meter lebih sedikit dari orang yang tengah melaksanakan solat taraweh. Dan otomatis teriakannya terdengar ke seluruh penjuru masjid yang hanya berbentuk persegi. Nah, dengan perilakunya tersebut ia kini lebih berisik dari anak-anak yang coba ia diamkan.

Tapi anehnya “kegaduhan demi kebaikan” yang dilakukan Pak Udin tak membuat kesal para jamaah. Mereka mungkin malah berterima kasih. Walau sering juga Pak Udin menjadi bahan perbincangan dan tertawaan bapak-bapak yang suka kumpul di mesjid. Namun namanya juga benci tapi rindu, ketika PaK Udin lama tak menjalankan tugasnya, para bapak-bapak di masjid bertanya-tanya”Kemana ya , Pak udin jarang keliatan?

Tiga Kekuatan Pak Udin

Dan setelah dipikir-pikir adat tiga kekuatan (internal ataupun eksteral) yang membuat Pak Udi begitu ditakuti oleh anak-anak. Pertama, ia datang tak tentu waktu, secara tiba-tiba. Ia bisa dating sesaat sebelum sholat Isya, ketika ceramah, atau saat solat taraweh dimulai. Hal ini lah yang selalu membuat was-was para anak-anak. Mereka seringkali parno dan selalu memasang lagkah seribu jika sewaktu-waktu pak Udin menggelar sweeping. Kadanglaka, saking takutnya, ketika mereka melihat sesosok tubuh dan pakaian mirip Pak Udin, seorang anak langsung berteriak “PaK Udin, Pak Udin, lumpat(lari)! Dan mereka pun berhamburan menyelamatkan diri. Padahal tadi orang tadi sebenarnya bukan Pak Udin. Kata “Pak Udin” ini begitu sakti di telinga para anak-anak. Hingga seorang anak hanya cukup setengah berteriak “Aya Pak Udin, Aya Pak Udin!” dan kawan lainnya seketika langsung diam dari yang tadinya berisik, sambil melihat sekeliling apakah benar Pak Udin datang.

Kedua, kekuatan Pak Udin terletak di teriakan lantangnya. Mending kalo lantang doang, kan lebih elegan dan berwibawa! Sayangnya teriakannya lantangnya, intonasinya, ditambah ekspersi mukanya lebih seperti kondektur metro mini yang tengah setengah mati berteriak-teriak mencari penumpang. Tapi setelah ditimbang-timbang lagi, teriaknnya bahkan lebih mirip teriakan seorang siswa yang tengah tawuran dan mengajak berduel lawannya. Nah lo.., bagaimana anak-anak yang masih kecil, TK, atau masih SD itu tidak takut! Mungkin teriakan yag lebih mirip hardikan tersebut lebih parah dari amarah yang perah didengar dari orang tua mereka sendiri.

Terkahir, yang membuat Pak Udin semain ditakuti ialah gelapnya kondisi halaman mesjid. Hal ini membuat Pak uding semakin mengerikan dan seolah aura Pak Udin selalu berjaga-jaga di sekitar mesjid. Dengan gelapnya mesjid, kedatangan pak Udin yang selalu tiba-tiba, mengenakan pakaian gelap, ditambah teriakannya, menjadikan anak-anak kecil takut kepadanya. Hal ini kemudian menciptakan semacam efek parno bin panoptikon bagi anak-anak. Jadi walau Pak Udin tak ada di masjid, mereka seolah merasa Pak Udin selalu mengawasi mereka. Ketika mereka berteriak dan bercanda, sesekali mereka celingak-celinguk memastikan apakah Pak Udin ada di sekitar mereka atau tidak.

Pada akhirnya, mekanisme sweeping Pak Udin ini menjadikan kondisi masjid menjadi relatif lebih tenang saat pelaksanaan solat berjamaah di masjid kami. Memang keributan masih ada, tapi tak segaduh dulu. Namun, telah lama, entah kemana, Pak Udin tak lagi menggelar sweepingnya. Walhasil anak-anak menjadi gaduh kembali. Pun bapak-bapak juga sudah menyerah dengan mereka.Jadi tolong,…

 Pak Udin datanglah lagi ke Masjid. Kami rindu Engaku! Hanyalah Dirimu yang bisa mensunyikan kegaduhan ini!

***

Iklan
By nana Posted in BONUS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s