Jalan Pagi di Kota Batik

Sebenarnya kami bingung mau cerita apa lagi tentang kampung halaman kami. Selain ketidakbiasaan kami untuk mendokumentasikan berbagai aktivitas, perasaan kami sebagai orang lokal pun membuat segala sesuatu yang kami lihat dan rasakan di kampung halaman, seolah terasa biasa-biasa saja. Ta ada yang aneh, unik, atau berbeda. Namun, pada kesempatan kali ini kami untuk memutuskan untuk menceritakan sepenggal pendek cerita pagi di kampung halaman kami, Pekalongan.

Di jumat pagi kami telah bangun. Pada pukul 04.30 tak seperti biasanya kami telah membukakan mata. Dan seperti biasa suasana rumah telah ramai. Kami pun segera menyeruput teh setela sebelumnya mencuci muka dan kumur-kumur sekenanya. Beberapa orang telah bangun. Ada yang telah mengaji, mengerjakan solat subuh, atau menonton berita pagi. Pokoknya paling tidak pada pukul lima mayoritas keluarga kami telah bagun. Ya, kami tinggal di rumah nenek yang diisi oleh beberapa keluarga inti pada setiap lebaran tiba.

Suasana pagi yang selalu meriah diantaranya ialah ketika setiap kepala keluarga mencoba membangunkan anaknya.  Ya setiap anak harus bangun di pagi hari untuk melaksanakan solat subuh. Atau jika bukan untuk alaan tersebut, anak-anak dibangukan karena para orang tua merasa sumpek melihat anaknya yang masih tidur saat yang lainnya telah memulai aktivitasnya. Beragam cara digunakan untuk membangukan anak-anak tersebut. Ada yang dengan cara halus, dengan teriakan atau dengan cara jahil seperti mengkilikitik kaki. Pokoknya semua ingin agar anaknya bangun di pagi hari. Apa lagi di saat kumpul besar keluarga di saat lebaran ini.

Ketika kami telah hampir habis menyeruput teh kami, suadara kami mengajak kami untuk jalan pagi. Dan tanpa ragu pun kami menyetujuinya. Selain untuk menikmati kota Pekalongan di kala pagi, kami memang orang yang suka berjalan kaki, setidaknya sebelum alat tansportasi bernama motor mengubah kebiasaan berjalan kami. Disamping itu, kini, kami selalu menganggap jalan kaki ialah olahraga ( hal yang sama sekali tak terbersit ketika kami belum mengenal sepeda motor).

Akhirnya kami keluar berjalan keluar rumah. Namun ada dua hal yang kelak kami sesali ketika nanti kami sampai di tengah perjanan. Pertama, kami tak membawa kamera. Jadi kami tak sempat mengabadikan momen suasana pagi yang damai di Pekalongan. Namun untuk hal ini sebenarnya kami beralasan bahwa dengan membawa kamera akan membuat kami ribet. Selain kami tak bisa benar-benar menikmati jalan pagi kami, karena satu dua langkah berjalan selalu mencari objek untuk terus difoto.

Kedua ialah kami tak memakai kacamata jadi kami mengalami kesulitan untuk melihat objek yang cukup jauh dari jangkauan mata kami yang minus. Namun yang terpenting dari poin ini ialah kami tak bisa menikmati pemandangan gadis-gadis cantik yang tengah berolahraga di pagi hari. Maklum kami selalu tertarik melihat gadis-gadis berolahraga di pagi hari. LOL!. Ya, maksud kami perempuan yang benar-benar berolahraga. Bukan perempuan yang tampilannya setengah sporty, bawa dompet, ponsel, dan hanya berbelanja. Pada pagi ini kami hanya sempat melihat sepasang cici yang cantik yang tengah jogging.

Karena niat kami hanya berjalan-jalan, kami hanya megenakan celama pendek, kaos oblong andalan dan sandal capit. Mulai lah kami berjalan di sepanjang trotoar, di depan toko-toko yang mayoritas dimiliki oleh orang cina. Toko tersebut ditutupi oleh jajaran papan kayu yang disusun menyamping sebagai pagar toko tersebut. Yang unik dari pagar ini ialah biasanya di tengah pagar ini ada kayu yang dipotong sebagai celah untuk pintu yang memungkinkan pemilik toko melongokkan kepalanya untuk melihat keluar toko. Jadi pintu tokonya bisa setengah terbuka. Biasanya untuk toko-toko lama masih meggunakan kayu, namun untuk toko baru lebih banyak menggunakan pagar besi geser sebagai pagarnya.

Akhirnya kami berjalan keluar gang rumah. Di sepanjang trotoar selebar 1,5 meter kami berjalan sambil berbincang dengan saudara kami. Pagi itu, matahari belum terlihat. Jalanan terlihat lengang dan nampak cantik dengan sorotan temaram lampu jalan dan warna hijau di lampu perempatan yang tengah menyala. Suara burung gereja pun masih nyaring, bahkan burung yang sebesar perkutut masih mampu kami lihat ketika mereka sedang hinggap di kagel-kabel listrik yang melintang di atas jalan.

Baru sekitar 15 menit kami berjalan, bau menusuk hidung segera terambu. Dan tak jauh di depan kami terdapat jembatan yang di bawahya terdapat sungai. Hingga baru kami ketahui bahwa bau tersebut ternyata berasal dari sungai itu. Air sungai tersebut telihat tak mengalir, seperti tersumbat, permukannya pun tak tinggi mengingat musim kemarau. Dan yang terpenting ialah sungai tersebut berwarna hitam ke ungu-unguan. Ya sungai tersebut memang tercemar limbah, yang menurut penuturan suadara kami limbah tersebut berasal dari pewarna batik.

Ya, baru kami sadar ketika batik begitu mendunia dan dielu-elukan banyak orang, industri batik di sini memang hidup lagi. Benar-benar hidup lagi. Batik kini seolah memang sesuatu yang harus ditunjukkan dan mampu menjual. Mungkin ini bagian dar strategi budaya bahwa batik ialah budaya dan identitas bangsa Indonesia, walau kami sendiri belum pernah mendengar penjelasan yang komprehensif tentang apa itu batik sebagai budaya Indonesia. Atau mungkin budaya Indonesia itu masih sebatas produk kitsch seperti Damn! I love Indonesia. Entahlah….

Tapi yang baru kami sadari ketika melihat fenomena tersebut ialah bencana klasik akibat pembangunan eknonomi. Yakni ketika orang tengah bergeliat dengan gelimangan uang, dan tak lama kemudian bencana lingkungan hadir tanpa banyak disadari oleh banyak orang (pada awalnya). Hal inilah yang kami lihat pada sungai tersebut saat kami jalan pagi. Bau limbah merayap dari dasar sungai, menguap mencemari udara, dan merusak suasana pagi kami yang indah.

Dan setelah kami melintasi jembatan tersebut, kami melanjutkan lagi jalan pagi ini. Baligo dan spanduk di pinggir jalan menampilkan produk rokok-rokok medioker seperti Envio atau Polo Mild. Kami pun melihat bangunan tua yang kini menjadi gedung SD yang dibangun pada tahun 1928. Di sebelahnya, kami melihat rumah-rumah tua yang di atasnya terdapat lubang-lubang dengan maksud memancing burung wallet agar bersarang di rumah tersebut.

Tak lama, kami telah sampai di sekitar THR (Taman Hiburan Rakyat). Kami melintas di apotek Kimia Farma yang telah buka sejak kami kecil dulu dan buka selama 24 jam. Beberapa meter di sampingnya, kami mampu melihat kantor Telkom dimana didepannya terdapat phone booth telepon umum yang setelah iseng-iseng kami coba, ternyata tak ada satupun yang berfungsi. Dari sini kami mengerti bahwa telepon umum, tak hanya di kota besar, tapi di kota kecilpun telah menjadi saksi bisu perkembangan telekomunikasi di Indonesia. Ia telah terbunuh oleh munculnya adik-adik muda tekelomunikasi seperti handpohe dan internet. Seperti ulasan surat kabar yang pernah kami baca, bahwa kotak-kotak telepon umum yang hadir di pinggir jalan sudah layaknya peti jenazah telekomunikasi yang teronggok terabaikan begitu saja.

Sejarah Keluarga

Dari situ kami melanjutkan perjalanan menuju jalan Hayam Wuruk. Di pinggir jalan mulai terlihat kepulan asap bearomakan arang bercampur saus kacang dan daging ayam. Penjual sate ayam mulai berjualan sate ayam di tepi jalan, tepat di depan trotoar. Para pedagang tengah melayani pembeli yang nampak telah mengantri untuk menyatap sate sebagai sarapan pagi mereka. Di sepanjang jalan ini setidaknya kami melihat tiga tukang sate telah menjajakan jualannya. Mereka pun menggelar tikar, jadi memungkinkan para pembeli untuk makan lesehan di trotoar jalan dengan beralaskan tikar.

Nampaknya di kota ini makan sate ayam di pagi hari cukup populer. Jika di kota kami penjual sate baru bermunculan ketika matahari hendak tenggelam, di sini penjual sate dapat ditemui ketika matahari baru mulai menyingsing. Bubur ataupun nasi kuning, walaupun ada yang berjualan di alun-alun, namun tak begitu popular. Dan jumlahnya tak  seberapa dibanding penjual sate. Oh iya, di sini sate ayamnya bisa make kuah juga lho. Ya seperti pake kaldu ayam………

Nah, masih di jalan hayam wuruk, kami dibuat terkejut ketika kami tengah melintas tepat di depan toko kue Purimas. Kami diberi tahu ternyata, (maaf bukannya sombong, hanya terkejut) bahwa toko kue tersebut ternyata pemiliknya ialah uyut kami. Ya memang kami sempat mendengar tentang isu tersebut, walau sedikit tak percaya. Namun kini kami percaya, bahwa keluarga kami dulu mempunyai toko tersebut. Baru di tahun 1990-an, toko tersebut dijual ketika uyut kami meninggal. Menurut penuturan saudara kami yang ikut jalan pagi, ia dulu (pada 1988) biasa menagih biaya sewa pada si orang cina di toko tersebut. Besar biaya sewanya 200.000 per bulan pada waktu itu. Dari situ kami dibuat sedikit tercengang.

Hanya beberapa meter di sebelahnya, sebelumnya kami pun diberitahu bahwa sebuah toko yang kini berwarna biru yang terletak sekitar 10 meter di samping toko kue Purimas dulunya ialah toko kakek kami tempat ia memajang batik-batiknya. Beliau kemudian menjual toko tersebut untuk membiayai kuliah anaknya (om kami) di sebuah perguruan tinggi negeri di Purwokerto.

Dari dua artefak sejarah keluarga kami tersebut, akhirnya kami belok ke kanan. Menuju alun-alun kota. Kami memutuskan untuk membeli sate. Setelah menunggu cukup lama sambil menyeruput teh sambil membolak-balik halaman Jawa Pos, akhirnya pesanan kami tiba. Dengan lahap kami segera menyantap sate ayamnya. Sejujurnya rasanya tak istimewa, namun sensasi makan sate di alun-alun kota, di depan gang kauman, saat hari masih sejuk,sambil menikmati pemandangan kota di pagi hari ialah pengalaman yang sungguh menyenangkan dan menyegarkan. Dan kami pikir, menikmati jajanan sambil jalan pagi di suatu daerah, di kota manapun di seluruh dunia pasti akan sangat menyenangkan. Ya menyenangkan, apalagi banyak pengetahuan yang di dapat. Sungguh mengasyikkan!

***

Tulisan Terkait:

Biduan Cantik Pantura

Selamat Datang Di Kota Pekalongan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s