Kenapa Kami Gusar Dengan Profesi Ustad?

Sosok Kiai atau Ustadz sedikit mengalami pergeseran makna di benak kami. Sosok Ustadz yang lekat kami kenal ialah sosok yang kerap kami baca di buku teks SD. Sosok setengah baya yang berbaju muslim, berkain sarung, dengan tutup kepala sorban atau peci. Ia berjalan di desa, semua orang menyapa, dan sesekali sang ustadz memberi petuah-petuah sederhana kepada tetangganya.

Sang ustadz pun hidup sederhana dengan gaya sederhana. Ia memimpin pengajian bersama setelah solat magrib. Di hari-hari tertentu ia pun mengajari anak-anak kecil dan tadaruz bersama. Sosoknya disegani karena pembawaan, wibawa, dan cara ia menyelesaikan masalah. Rasanya selain bekerja, hidupnya hanya di sekitar rumah dan surau/mushola.

Namun imagi kami di atas hilang saat melihat sosok Ustadz yang ditampilkan di televisi. Buat kami apa yang mereka tampilkan ialah tampilan yang sudah memenuhi kriteria layak tampil dalam bisnis pertunjukan televisi. Tak lagi “alami”. Mereka seolah dipaksa harus ini-itu agar layak tampil di layar kaca. Apalagi pasar mereka kan orang kota.

Ustadz model begitu telah menjadi semacam selebriti. Tampil rutin di tv, mempunyai acara-masing-masing di stasiun tv, ikut sintetron, ikut kuis. Hah semua we diikuti…. Diwawancarai infotainment, tabloid islami, koran, dan seabrek publikasi lainnya. Singkatnya Ustadz yang demikian sudah layaknya profesi resmi. Ya kata lainnya mungkin wiraswastawan lah. Mereka bahkan mempunyai lembaga yang menaungi mereka semua, melatih ustadz junior, kemudian mengorbitkannya. Ya,,kalo sudah gini sih kami bisa bilang sebagai religi-preneurship.

Lalu kenapa ustadz model begini, ustadz yang masing-masing dari mereka harus punya ciri di depan kamera, baik suaranya, lawakannya, intonasinya, jenggotnya, gaya rambutnya, eyeshadownya, dapat menjadi sebuah profesi yang menjanjikan di perkotaan. Dan sepertinya, tipe ustadz itu menjadi impian banyak ustadz muda atau setidaknya dijadikan role model sebagai ustadz yang sukses. Hal ini mungkin karena pengaruh gaya hidup orang kota, makin terspesialisasinya profesi pekerjaan, dan tentu perkembangan media.

Setelah semua yang mereka raih, mobil keluaran baru yang niscaya lebih dari 1000 cc, ber AC, jok kulit, plus supirnya. Rumah nyaman, istri rupawan, atau singkatnya hidup mereka jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan lebih dari setengah  penduduk dunia lainnya, yang percaya atau tidak masih susah untuk mengakses sarana kebutuhan hidup dasar seperti air, pendidikan, kesehatan dll. Ga ada rasanya upaya mereka untuk memberi ceramah, menggiring orang di pedalaman, atau setidaknya mengenalkan agamanya secara lebih dekat dan personal kepada yang belum mengenal agama. Tak ada perilaku heroik seperti para misonaris yang bahkan mempertaruhkan nyawanya ketika mencoba menyebarkan agama mareka. Entah kenapa? Atau mungkin karena ajaran agama mengajarkan agar kehidupan duniawi dan surgawi harus seimbang? Dunno! Emang Nabi dulu Nabi dagang permadani segitu ngototnya untuk dapet untung ya?Bagi kami nabi itu seorang aktivis, revolusioner, dan pendakwah ulung…..Kenikmatan hati, kekayaan hati ialah yang utama setelah Ia dan kaumnya mampu mengenalkan agama, sholat berjamaah, hingga perasaan mereka menjadi satu keluarga.

Menghargai kehidupan bukanlah  seperti kita membeli pizza dengan cukup memesannya lewat telepon.Mendapat pencerahan juga tak cukup lewat “booking” jasa dari para ustad semata.

***

Iklan

4 comments on “Kenapa Kami Gusar Dengan Profesi Ustad?

  1. setuju kakak,
    perasaan dulu waktu gue kecil, liburan di tempat nenek gue, ustad2 dakwah2 di mesjid2 trus ngajarin anak2 ngaji. yang gue salut, waktu itu ustadnya dibayar alhamdulillah gak dibayar juga beliau seneng bisa ngajarin ilmu agamanya.. 😀

  2. Saya setuju dengan sebagian besar opini anda di atas. Ustadz yang kerap muncul di TV sudah seperti profesi baru, yang menghasilkan materi yang jauh lebih dari cukup hanya dengan sekali cuap – cuap di depan kamera.
    Namu ada baiknya kritik anda tidak membandingkan profesi ustadz dengan aktivitas saudara kita yang non muslim, secara tidak langsung membuat pembandingan ini menjadi tidak etis dan relevan.

    • Menurut saya tidak seekstrim itu. Memang benar kok. Saya malah tidka membaca adanya penjabaran aktivitas non muslim.. Kalao “misionaris” dianggap representatif untuk non muslim, saya berpikir lain. menurut saya misionaris itu ada di tiap agama.. Misionaris x, misionaris y, dll yakni nama agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s