Review Film: Nobody Knows & Kisah Sedih Kehidupan Kota

Kata orang, orang kota itu invidualistik. Mereka  terkadang tak tahu atau bahkan tak mau tahu akan apa yang dikerjakan orang di sekililingnya. Mereka tak tahu tetangga sebelahnya sedang sakit, namun lebih banyak tahu akan kabar tentang orang-orang yang secara spasial jauh darinya. Kira-kira kalimat itu lah gambaran fim Dare Mo Shiranai (Nobody Knows).

Film tentang sekeluarga yang tinggal di apartemen di Tokyo. Seorang Ibu bersama empat orang anaknya tinggal  di sana. Empat orang anak itu ternyata memiliki empat bapak yang berbeda juga. Hingga akhirnya si ibu meninggalkan mereka, menikah lagi, dan hanya mengirim uang pada anak sulungnya. Keempat anak itu hanya diasuh oleh kakak tertua yang berusia 12 tahun. Hingga lama-lama uang pemberian dari ibu mereka habis. Air tak mengalir, gas tak ada, listrik pun terputus. Setiap hari mereka mengandalkan makanan sisa dari toko kelontong dekat apartemennya.

Mereka tak berani bilang atau melapor kepada siapapun akan kendala yang mereka alami. Hal ini karena jika dilakukan, mereka tak akan bisa lagi tinggal di apartemennya. Oh ya, dari empat anak itu, yang terdaftar sebagai anak negara (memiliki catatan sipil dll) hanyalah anak pertama. Jadi penghuni resmi apartemen itu sebenarnya hanya si kakak tertua. Adik-adiknya ialah penghuni gelap di sana. Merek tak bersekolah, tak boleh keluar apartemen, bermain apalagi sampai ketahuan oleh si pemilik apartemen.

Lama kelamaaan hidup mereka semakin sulit. Hingga akhirnya anak terkecil meninggal dan sang kak menguburkannya secara diam-diam. Dan Tak ada yang tahu. Mereka terus hidup seperti itu.

**

Ternyata film keluaran tahun 2004 ini diangkat dari kisah nyata tentang penelantaran anak di Tokyo yang terjadi pada tahun 1980 yang kala itu mengguncang dunia.Dikenal dengan nama Sugamo child-abandonment incident/Sugamo Kodomo Okizari Jiken. Kisah aslinya seperti yang tertulis di film, awal dan akhirnya sama. Dan anak-anak di cerita aslinya mengalami malnutrisi. Sang ibu hanya meninggalkan 50.000 yen kepada anak tertua untuk pengeluaran  sehari-hari dan kebutuhan tagihan di apartemennya. Dan gilanya anak-anak tersebut ditinggal selama 9 bulan. Tak ada yang tahu!

Dan jika kalian menganggap akan ada banyak kejutan di film ini, kalian salah. Film ini film adaptasi yang sepertinya benar-benar mencuplik kisah ironi dari kehidupan nyata. Tak banyak hal-hal yang mengejutkan. Namun film ini menyajikan alur cerita seperti kita menonton kisah nyata. Alur hidup yang terkadang membosankan, keceriaan kecil, penuh tekanan, dan sesekali/berkali-kali rintangan hidup menghadang. Namun pada akhirnya hidup terus berjalan. Bagi kami inilah menarinya film ini. Film yang secara emosional “terjangkau” oleh pengalaman hidup penontonnya. Tak ada drama yang dibesar-besarkan.

Film ini sepertinya menggambarkan realita kecil dari ledakan ekonomi jepang. Ya, memang harus diingat buku “Japan As Number One”. Tahun 1980-an ialah eranya jepang memimpin ekonomi dunia, bahkan Amerika pun mereka lewati. Dan kisah ini ialah “konsekuansi” dari perubahan tersebut. Hidup itu mahal, apalagi di kota besar sekelas Tokyo. Bahkan jika tak salah, untuk biaya baju, tas dan sepatu sekolah, orang tua di jepang harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Angka jutaan atau lebih (jika di rupiahin) harus dikeluarkan oleh orang tua murid tersebut. Belum lagi biaya apartemen di Tokyo yang mahal. Ajip Rosidi, menyebut tinggal di apartemen di Tokyo itu seperti tinggal di kandang burung. Sempit, padat namun mahal.

Dan bisa saja kisah Dare Mo Shiaranai ini merupakan  akibat dari orang kota yang berjuang keras demi diri sendiri agar mampu hidup di kota. Ya, katanya, kota besar itu bukan untuk bersosialisasi, tapi semata untuk mencari uang. Mencari uang yang utama, dan (banyak) kawan ialah pilihan. Namun film ini mengisahkan juga bahwa seringkali hanyalah situasi yang membuat mereka seolah tak acuh akan sesama. Mereka sesungguhnya ingin mempunyai banyak teman dan bersosialisasi dengan banyak orang. Mereka ingin sekali bersantai, tertawa, bercengkrama, dan sedikit rehat dari rutinitas kerja. Namun entah mengapa masih banyak orang kota yang sulit untuk mengalaminya. Entah kenapa.

Nobody Knows, Dare Mo Shiranai.

***

Iklan

3 comments on “Review Film: Nobody Knows & Kisah Sedih Kehidupan Kota

  1. Saya baru selesai nonton film ini, belum ada satu jam yang lalu. Film ini benar-benar memberikan inspirasi warna baru bagi saya. Betapa masih banyak orang-orang yang membutuhkan kasih sayang, uluran tangan atau meskipun itu hanya mengajaknya bermain.
    Benar kata orang, “Orang kota itu individualistis” [Saya juga sempat berpikir “Apakah saya sedimikian juga?”]

    Pokoknya film ini layak untuk ditonton. Menyesal saya baru tahu film ini kemarin pagi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s