Review Buku: Pink box: Inside Japans Sex Clubs

Jepang itu pandai menciptakan dan merubah sesuatu yang berada dalam tataran fantasi menjadi suatu kenyataan. Lewat budaya popular manga, anime dan karakter-karakter fantasi lainnya Jepang mengenalkan industry ini ke seluruh dunia. Dari hanya sesosok lukisan sang komikus, karakter itu mereka ciptakan, bertransformasi menjadi lebih hidup, lewat anime, film live action-nya, hingga cosplay karakter tersebut. Dalam hal ini jepang pun ternyata memanfaatkan budaya pop mereka dengan memasukkannya pada industry sex. (Ya, sambil kalian membaca kami akan selingi dengan gambar dari halaman- halaman di buku tersebut)

Buku “Pink box: Inside Japans Sex Clubs” ini menceritakan kehidupan malam di jepang. Buku ini lebih merupakan suatu esai foto yang berasal dari 90 klub berbeda di Jepang. Setiap foto dilengkapi dengan penjelasan, deskripsi, dan segala yang menyangkut foto tersebut. Buku ini mengajak kita melihat gambar-gambar eksotis kehidupan malam di “pink klub” di banyak tempat dengan “variasi hidangan”  yang berbeda pula.

Lalu kenapa buku ini dinamakan dengan pink box? Nah ini terkait dengan kebudayaan jepang akan industry sex di masyarakatnya. Kata/frase dalam bahasa jepang itu banyak memiliki eufimisme. Banyak penghalusan akan segala sesuatunya agar tak terlihat vulgar.Nah kata pink ini ternyata sebuah kiasan dari yang namanya industri sex. Yah kalo di amerika atau di belanda kata lainya ialah semacam Red Light District.

Pink Box ini sebenarnya diambil dari sebuh private dance room dari salah satu klub terkenal di Osaka. Ruangan ini tersembunyi di balik sebuah klub musik stripitis, dan tentu dibutuhkan biaya tabahan untuk menikmati Pink Box ini. Menurut Joan Sinclair sendiri, sang penulis buku ini, industry sex di jepang itu yang terbesar ke dua setelah industry automobil-nya. Kalau pun pendapat itu tak tepat, kami pikir industry sex ini masih ada di lima besar sebagai penghasil atau pemberi pajak yang terbesar.

Tempat red district nya di Jepang itu dinamakan Kabukicho, di Tokyo. Singkatnya semua fantasi sex para pria dapat terpuaskan di sana. Club dewasa ini hadir dengan bebagai tema untuk memnuhi hasrat pelanggannya. Mulai dari sekedar host atau hostess club dimana para pelanggan hanya minta ditemani minum ngobrol di club oleh para host dan hostessnya. Oh iya, host club ini dikatakan berakar dari kebudayaan Geisha di jepang dimana perempuan atau laki-laki menemani kilennya dengan mengobrol, memainkan musik, atau apapun yang dapat menghibur pelanggannya. Dalam host klub ini hubungan  sex relatif jarang terjadi.

Selain itu ada juga soapland, dimana para pelanggan bisa “mandi” dengan wanita pilihannya di tempat tersebut. Kemudian club dewasa dengan tema dan diset dengan kondisi, rumah sakit lengkap dengan susternya, penjara dengan polisinya, ruangan kantor dengan sekretris pribadinya, set kereta api dimana pelanggan bisa melakukan perbuatan perbuatan molesting atau groping terhadap wanita d dalamnya, set sekolah dengan perempuan berbaju sailor ala sekolahan di Jepang. Para pelanggan bisa melanggar norma sosial di sini sekaligus penyaluran karena aturan tentang kesopanan dan moral dalam seharian di jepang amat dituntut. Mereka tentu mendapat fantasi tentang molesting, raping, groping wanita di kereta, sekolah, atau kantor ini didapat dari komik porno, film dewasa dan media lainnya. Dan yang harus ditekankan disini ialah adanya fantasi yang berlebih akan perempuan yang mansih bersekolah. Dan nyatanya fantasy room dan costume girl tersebut paling popular di Jepang.

Para perempuan yatau lelaki yang bekerja di bidang ini mampu memiliki pemasukan sekitar $140.000 setahun. Gaji yang setara dengan level pengacara di amerika di tahun pertamanya. Mereka tanpa terpaksa bekerja di bidang ini, dengan dengan sadar sepenuhnya.Mereka hanya perlu berpura-pura kepada keluarga atau orang tua mereka bahwa mereka bekerja sebagai pramusaji atau make up artis.

Dan ini foto yang sedikit terbuka, black box


Foto di bawah merupakan cover dari buku ini

Foto di bawah ini juga inspirasi mengapa buku ini diberi judul Pink Box

Nah kira-kira sekian review photo book “Pink box: Inside Japans Sex Clubs”. Semoga sedikit menambah pengetahuan. Selain itu juga untuk menggenapi  2 topik tulisan yang serupa sebelumnya (ini dan ini).

***

Semua foto dan sumber tulisan ini didapat dari:

Official web PinkBox dan JapanVisitor

galeri buku tersebut juga dapat dilihat di halaman youtube ini

any comment would ber really appreaciated  😀

Iklan

4 comments on “Review Buku: Pink box: Inside Japans Sex Clubs

  1. Japang tuh mirip sama Indonesia, terlepas pernah ada pembudayaan jepang di Indonesia melalui penjajahan, orang-orangnya masih memegang teguh apa yang dinamakan norma dan kesopanan. awalanya sih begitu, tapi saat ini norma dan kesopanan di Indonesia mulai luntur tidak seperti di Jepang. mungkin patut dicontoh oleh indonesia, bagaimana menciptakan sebuah kantung untuk menanpung sisi2 kemuakan terhadap kaidah kehidupan yang diatur oleh norma dan kesopanan itu seperti tulisan anda ini, menceritakan bagaiman negara Jepang mengakomodir sisi pelampiasan/pelarian dari norma dengan membuat tempat prostitusi yang sifatnya progresif dan up to date dengan kehidupan masyarakatnya. tapi justru itu disana tidak ada organisasi massa garis depan pembelaan sebuah kepercayaan yang jelas akan menentang prilaku pendosaan manusia. yah, tinggal berharap saja kedepannya tidak ada lagi pemerkosaan dalam angkot, atau penculikan mahsiswi dan gadis belia lainnya, bagaimana pun akses pelampiasan kita masih ditabukan. Nice Bloging..

  2. buset komennya satu paragrap padat……….. 😀
    harusnya sari item apa di modip aj kali yah, ky di kabukicho…. :D………….
    thx dah mampir brat……….

  3. Ping-balik: Review Buku: Pink box: Inside Japans Sex Clubs | pijarnatsir's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s