Review Buku: Keadaan Jakarta Tempo Doeloe

Judul         : Keadaan Jakarta Tempo Doeloe

Penulis     : Tio Tek Hong

Penerbit   : Masup Jakarta

Cetakan    : II, Desember 2007

Tebal         : 129 Halaman

ISBN         : 979-25-7291-0

——————————————————————————————————————-

Jakarta selalu membuat kami penasaran, karena kami orang ndeso 😀 yang terkesima dengan gemerlap ibukota. Selain ingin mengetahui lebih banyak, kami pun selalu dibuat terpana dengan  sejarah kota-kota, termasuk Jakarta. Kami terkesan dengan bagaimana para pencerita/penulis mengisahkan kondisi kota pada eranya. Nah di buku Keadaan Jakarta Tempo Doeloe karya Tio Tek Hong ini mengisahkan sejarah, dinamika, dan denyut nadi kota Jakarta dari tahun 1882-1959.

Perlu diketahui penulis ini ialah orang yang membuka toko piringan hitam pertama di Indonesia. Ia lahir di daerah Pasar Baru Utara, sebelah selatan Jakarta Kota di tahun 1877. Dan hal menarik lainnya ialah penulis masih kerap menggunakan kalimat, ejaan dan kata-kata jadoel yang niscaya kita akan bingung ketika mendengar/membacanya.

Di buku saku ini penulis menceritakan bagaimana ia menjadi saksi dari letusan gunung Krakatau. Pintu-pintu bergetar, banyak orang yang memperkuat bantaran sungai khawatir meluap, jalan raya dan genteng pun tertutup debu beberapa centimeter. Saudara tuanya pun menceritakan bahwa air di muara meluap dan melemparkan perahu ke daratan. Rumah di tepi pantai ludes dan banyak orang yang “nyangkut” di pohon kepala. Meletusnya  Gunung Krakatau pada 26-28 Agustus 1883 yang membawa banyak korban ini kemudian memicu terciptanya lagu gambang kromong Karem.

Ia pun menceritakan wanita Tionghoa pada zamannya. Seorang gadis umur 9-10 tahun dilarang keluar rumah dan menemui tamu karena mereka dalam masa pingitan. Mereka baru boleh keluar saat Cap Gou Meh dan pasar malam. Itu pun saat malam telah benar-benar sepi. Di pesta kawinan, dan pergantian tahun mereka hanya boleh di dapur bantu-bantu. Dan jauh dari mata lelaki.

Kondisi kota pun diceritakannya dengan menarik. Dulu pun glodok masih tanah lapang tempat biasa diselenggarakan pasar malam. Ada yang jual Baso dan siomay, harganya hanya 3 sen. Di pasar Gambir pun ramai. Pasar Gambir pada walanya dinobatkan sebagai festival untuk memperingati ulang tahun Rayu Wilhelmina. Namun lama-kelamaan menjadi rutin berkat usaha dari pemerintah kota (Gementee).

Pasar penuh dengan tontonan. Mulai dari sulap, komedi putar, American Carnaval Show dan tempat lainnya untuk makan dan minum. Dan yang seru di asar Gambir ini ialah ada semacam panjat pinang dengan berbagai hadiah di puncaknya. Namun menariknya jika jaman sekarang panjat pinang menggunakan oli atau lumpur untuk membuat licing tiang pinangnya, pada zaman dulu yang digunakan sebagai pelicinnya ialah kotoran sapi.

Selain cerita di atas di buku ini pun diceritakan bioskop pertama yang muncul, pabrik es pertama, lampu listrik pertama dan radio pertama. Diceritakan juga Pesta Pecun, Jakarta yang diserang penyakit gara-gara masalah air bersih. Selain itu kita pun dapat melihat bagaimana sejarah orang tionghoa di Indonesia. Bagaimana mereka memiliki kedekatan dengan orang belanda dan bagaimana usaha mereka agar hak-hak mereka agar disamakan dengan orang kulit putih.

Singkatnya buku ini sangat menarik. Menceritakan sejarah dengan sederhana. Cocok bagi yang suka sejarah tapi males baca buku sejarah. Buku yang ringan, dan mudah dibawa karena dimensinya sebesar komik. Cocok untuk dibaca untuk melepas penat. Tepat dibawa dan dibaca saat duduk di bis, kereta, atau saat menunggu kawan/kekasih di tempat kafe/warkop langganan kalian.

Selamat bernostalgia. Selamat membaca

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s