Review Film: Castaway On The Moon (2009)

Seorang lari dari kehidupan, satunya lagi bersembunyi dari dunia

Seorang pemuda memiliki tunggakan hingga ratusan ribu dolar hingga ia memutuskan untuk bunuh diri namun tidak berhasil dan hanya terdampar di pulau di tengah sungai han di korea. Ia sangat takut mati, namun lebih takut lagi untuk menjalani hidup. Ia akhirnya hidup seorang di pulau, beradaptasi hingga mampu menanam jagung untuk kebutuhan hidupnya.

Dilihat lagi tumpukan kartu kredit yang membuatnya takut hidup. Ia berkata “ternyata aku bisa hidup tanpa ini”. Ia menjalani hidup seorang diri yang sederhana dan layaknya manusia di masa berburu meramu dan becocok tanam.

Satu orang lagi, hidup tersembunyi di kamarnya. Seorang perempuan yang terjebak dengan dunia maya dan takut dengan dunia di luarnya. Tumpukan sampah, sisa makanan menggunung di kamarnya, sementara ia hanya berfokus pada situs jejaring sosial sambil hidup dalam fantasinya. Ia hobi mengambil foto bulan dan dalam setahun ia hanya melihat matahari selama  2 hari.

Semuanya berubah ketika kamera sony dengan tele nya membidik sebuah pulau dan melihat pria gila. Setiap hari ia mengamati dan mengambil fotonya. Dan pada ahirnya ia memutuskan untuk megirimkan pesan lewat botol dan melemparnya ke pulau tersebut. Hingga pada satu waktu komunikasi mereka terputus

Film ini memperlihatkan bagaimana realita ini harus dihadapi. Hadapi perubahan. Jangan takut pada dunia, mulai dari buka jendela dan intiplah cahaya matahari di luar sana. Belajarlah perlahan. Jangan takut apapun. Jangan takut mati karena mati besok atau setengah abad lagi esensinya sama saja.

Satu lagi, film ini menyuratkan bahwa manusia butuh seseorang untuk bertahan hidup. Mereka harus berkomunikasi dengan lainnya memberikan kemanan baik secara fisik ataupun psikis. Dan harus ditekankan lagi, bahwa hidup sendiri dalam batas-batas tertentu sangatlah mengerikan. Kesepian perlahan mampu membunuh manusia.

***

Review Film: The Piano In The Factory

Kami selalu menggemari film dengan tema musik atau ada kaitannya dengan musik. Dan film The Piano in A Factory ini ternyata kami dapat beberapa bulan yang lalu, untuk kemudian kami meminta kawan kami untuk mengunduhnya karena koneksi internet kami tak layak untuk mengunduh film.

Film ini bercerita tentang seorang ayah yang berprofesi sebagai pemain akordion di band kecil bernama Chen Guilin yang sedang dalam proses perceraian dengan istrinya. Sang istri memilih untuk menikah dengan pria yang lebih kaya dari dia. Masalahnya kemudian terletak paad hak asuh anak, dan sang anak akan memilih untuk ikut pada siapapun yang dapat memberinya piano. Sang anak ternyata memiliki bakat dalam bermain piano.

 Ia hanya bisa menyelinap masuk tiap malam ke sekolah untuk bermain piano yang ada di sekolahnya. Sebelumnya, guru di sekolah tersebut menganggap ada hantu di sekolah, namun akhirnya sang anak kedapatan sedang bermain piano dan dia tidak diperbolehkan lagi bermain piano tersebut.

Walhasil Chen Guilin berusaha dengan cara apapun untuk mendapatkan piano untuk anaknya. Ia sempat berusaja mencuri piano di sekolah anaknya bersama kawan dan saudaranya namun ia ketahuan. Selanjutnya ia mencoba mendekati beberapa kerabat dan saudaranya dan bermodalkan sebuah buku tentang pembuatan piano yang ia pinjam di perpustakaan akhirnya ia bersama timnya memutuskan untuk membuat piano. Mereka mengumpulkan materi mulai dari kayu dan besi bekas untuk dibuat menjadi piano. Uniknya frame piano ini terbuat dari besi alih-alih kayu.

Seiring berjalannya waktu, banyak peristiwa yang terjadi, mulai dari permasalahan saat membuat piano, masalah ia dengan istrinya hingga, permasalahan ia dengan kekasihnya yang merupakan vokalis dalam band-nya. Pada akhirnya Chen Guilin sadar bahwa usahanya membuatkan piano untuk anaknya tidak sebatas memenangkan hati dan hak asuh sang anak. Lebih dari itu, menurut kami poinnya bahwa seseorang bisa menahan sakit, rela tertatih-tatih dalam hidupnya ketika ia tengah berusaha membahagiakan, mengorbankan atau berbuat sesuatu demi orang yang ia kasihi. Seolah ia memiliki nafas kedua. Dalam film ini juga memperlihatkan bahwa hidup bukanlah semata hasil akhirnya tapi bagaimana kesungguhan ia menjalaninya.

Singkatnya, film yang bersetting kelas pekerja China di tahun 1990-an ini layak untuk ditonton. Perubahan di tatanan masyarakat seperti pengambil-alihan pabrik-pabrik yang membuat banyak pekerja kehilangan mata pencahariannya menjadi latar film ini. Bagaimana para pekerja berusahan menjalani hidupnya setelah di PHK dari pabrik besi tempat mereka bekerja semula.

Selain itu bagi kami pribadi, film ini memberikan kami agar lebih bersemangat lagi untuk belajar piano. Mungkin film ini juga dapat menjadi penyemangat bagi kalian yang sedang berusaha untuk membeli piano atau keyboard pertama kalian.

Singkat kata, selamat mencari dan menikmati film-nya.

***

Review Film: My Sex Robot

Masalah seks ternya tak hanya masalah bersetubuh dan berkembangbiak. Seks melibatkan banyak aspek psikologis dan sosial. Diluar itu seks juga berada dalam industri besar yang menghasilkan miliaran dolar per tahunnya. Dalam di film dokumenter berjudul My Sex Robot, diceritakan bagaimana upaya dari beberapa orang yang mencoba memanfaatkan sex robot untuk dijual. Mereka melihat kemungkinan banyaknya (terutama) lelaki yang berpotensi membeli robot mereka yang disebabkan oleh banyak hal.

Melalui pengaruh media (terutama internet) kini banyak fantasi seks pria yang mengawang di udara. Mulai dari slavery sex, chat sex, phone sex, juga fetisisme. Mereka memuja tubuh-tubuh, figure, boneka, dan bagian tubuh tertentu. Dam didalamnya termasuk juga sex robot dimana para pria menggunakan robot untuk melampiaskan emosinya.

Menurut ahli psikologi penggunaan robot untuk pelampiasan birahi ini dikarenakan pria ingin wanita yang patuh dan rela melakukan apa saja untuk pria ketika mereka berhubungan seks. Selain itu sex robot ini juga merupakan jalan bagi seseorang yang ingin membina hubungan romantis dengan sedikit resiko patah hati. Hal ini biasanya diakibatkan oleh trauma mendalam.

Menurut ahli seks, hubungan antara manusia dan robot ini tidak sehat karena pada dasarnya hubungan romantis antara pria dan perempuan membutuhkan hubugan timba balik. Selain itu juga hubungan ini merupakana hubungan dimana kedua pihak mampu saling belajar, menghargai, dan mengkoreksi. Dan hal ini tak terdapat pada figur robot.

Terlepas dari berbagai kontroversi, sex robot merupakan medium baru dalam melampiaskan birahi. Hal ini dipicu oleh perkembangan media massa, potensi trauma di masa lalu, masalah keluarga, hingga ide-ide gila dari penggila seks yang selalu melakukan eksperimen dalam “bercinta”.

Namun jujur saja bagi kami film sepanjang kurang lebih 45 menit ini sedikit membosankan. Tak hal-hal baru,menarik dan mengagetkan seperti yang biasanya disajikan dalam film dokumenter. Namun jika kalian penasaran silakan saja coba tonton.

 ***

Review Buku: 1852 Pepatah & Petuah Cina

 

Penulis     : Sylvia Susana Mekarsari

Penerbit   : Penerbit Bangkit

Cetakan    : I, 2010

Tebal         : 195 Halaman

ISBN          : 970-1709-53-X

—————————————————————————————————————————–

Dalam rangka merayakan tahun Baru Cina kami membeli buku bekas tentang pepatah Cina. Kami membelinya seharga 10.000 rupiah. Banyak pepatah yang mungkin terasa unik, aneh, jayus, bahkan luar biasa bijaknya. Buku ini sangat lumayan untuk status facebook, twitter, lucu-lucuan, menghibur atau membantu membangkitkan motivasi kawan. Dan dibawah kami akan mengutip beberapa dan semoga bermanfaat:

When a Finger Pointing at The moon, the fools look at the finger

Ketika Sebuah Jari Menunjuk Pada Bulan, Orang Bodoh melihat pada Jari

When a man is crazy about a women only she can cure him

Ketika pria tergila-gila apada seorang wanita, hanya wanita itu saja yang dapat menyembuhkannya

Baca lebih lanjut

Review Buku: Keadaan Jakarta Tempo Doeloe

Judul         : Keadaan Jakarta Tempo Doeloe

Penulis     : Tio Tek Hong

Penerbit   : Masup Jakarta

Cetakan    : II, Desember 2007

Tebal         : 129 Halaman

ISBN         : 979-25-7291-0

——————————————————————————————————————-

Jakarta selalu membuat kami penasaran, karena kami orang ndeso 😀 yang terkesima dengan gemerlap ibukota. Selain ingin mengetahui lebih banyak, kami pun selalu dibuat terpana dengan  sejarah kota-kota, termasuk Jakarta. Kami terkesan dengan bagaimana para pencerita/penulis mengisahkan kondisi kota pada eranya. Nah di buku Keadaan Jakarta Tempo Doeloe karya Tio Tek Hong ini mengisahkan sejarah, dinamika, dan denyut nadi kota Jakarta dari tahun 1882-1959. Baca lebih lanjut

Review Buku: Pink box: Inside Japans Sex Clubs

Jepang itu pandai menciptakan dan merubah sesuatu yang berada dalam tataran fantasi menjadi suatu kenyataan. Lewat budaya popular manga, anime dan karakter-karakter fantasi lainnya Jepang mengenalkan industry ini ke seluruh dunia. Dari hanya sesosok lukisan sang komikus, karakter itu mereka ciptakan, bertransformasi menjadi lebih hidup, lewat anime, film live action-nya, hingga cosplay karakter tersebut. Dalam hal ini jepang pun ternyata memanfaatkan budaya pop mereka dengan memasukkannya pada industry sex. (Ya, sambil kalian membaca kami akan selingi dengan gambar dari halaman- halaman di buku tersebut)

Buku “Pink box: Inside Japans Sex Clubs” ini menceritakan kehidupan malam di jepang. Buku ini lebih merupakan suatu esai foto yang berasal dari 90 klub berbeda di Jepang. Setiap foto dilengkapi dengan penjelasan, deskripsi, dan segala yang menyangkut foto tersebut. Buku ini mengajak kita melihat gambar-gambar eksotis kehidupan malam di “pink klub” di banyak tempat dengan “variasi hidangan”  yang berbeda pula.

Lalu kenapa buku ini dinamakan dengan pink box? Nah ini terkait dengan kebudayaan jepang akan industry sex di masyarakatnya. Kata/frase dalam bahasa jepang itu banyak memiliki eufimisme. Banyak penghalusan akan segala sesuatunya agar tak terlihat vulgar.Nah kata pink ini ternyata sebuah kiasan dari yang namanya industri sex. Yah kalo di amerika atau di belanda kata lainya ialah semacam Red Light District.

Pink Box ini sebenarnya diambil dari sebuh private dance room dari salah satu klub terkenal di Osaka. Ruangan ini tersembunyi di balik sebuah klub musik stripitis, dan tentu dibutuhkan biaya tabahan untuk menikmati Pink Box ini. Menurut Joan Sinclair sendiri, sang penulis buku ini, industry sex di jepang itu yang terbesar ke dua setelah industry automobil-nya. Kalau pun pendapat itu tak tepat, kami pikir industry sex ini masih ada di lima besar sebagai penghasil atau pemberi pajak yang terbesar.

Tempat red district nya di Jepang itu dinamakan Kabukicho, di Tokyo. Singkatnya semua fantasi sex para pria dapat terpuaskan di sana. Club dewasa ini hadir dengan bebagai tema untuk memnuhi hasrat pelanggannya. Mulai dari sekedar host atau hostess club dimana para pelanggan hanya minta ditemani minum ngobrol di club oleh para host dan hostessnya. Oh iya, host club ini dikatakan berakar dari kebudayaan Geisha di jepang dimana perempuan atau laki-laki menemani kilennya dengan mengobrol, memainkan musik, atau apapun yang dapat menghibur pelanggannya. Dalam host klub ini hubungan  sex relatif jarang terjadi.

Selain itu ada juga soapland, dimana para pelanggan bisa “mandi” dengan wanita pilihannya di tempat tersebut. Kemudian club dewasa dengan tema dan diset dengan kondisi, rumah sakit lengkap dengan susternya, penjara dengan polisinya, ruangan kantor dengan sekretris pribadinya, set kereta api dimana pelanggan bisa melakukan perbuatan perbuatan molesting atau groping terhadap wanita d dalamnya, set sekolah dengan perempuan berbaju sailor ala sekolahan di Jepang. Para pelanggan bisa melanggar norma sosial di sini sekaligus penyaluran karena aturan tentang kesopanan dan moral dalam seharian di jepang amat dituntut. Mereka tentu mendapat fantasi tentang molesting, raping, groping wanita di kereta, sekolah, atau kantor ini didapat dari komik porno, film dewasa dan media lainnya. Dan yang harus ditekankan disini ialah adanya fantasi yang berlebih akan perempuan yang mansih bersekolah. Dan nyatanya fantasy room dan costume girl tersebut paling popular di Jepang.

Para perempuan yatau lelaki yang bekerja di bidang ini mampu memiliki pemasukan sekitar $140.000 setahun. Gaji yang setara dengan level pengacara di amerika di tahun pertamanya. Mereka tanpa terpaksa bekerja di bidang ini, dengan dengan sadar sepenuhnya.Mereka hanya perlu berpura-pura kepada keluarga atau orang tua mereka bahwa mereka bekerja sebagai pramusaji atau make up artis.

Dan ini foto yang sedikit terbuka, black box


Foto di bawah merupakan cover dari buku ini

Foto di bawah ini juga inspirasi mengapa buku ini diberi judul Pink Box

Nah kira-kira sekian review photo book “Pink box: Inside Japans Sex Clubs”. Semoga sedikit menambah pengetahuan. Selain itu juga untuk menggenapi  2 topik tulisan yang serupa sebelumnya (ini dan ini).

***

Semua foto dan sumber tulisan ini didapat dari:

Official web PinkBox dan JapanVisitor

galeri buku tersebut juga dapat dilihat di halaman youtube ini

any comment would ber really appreaciated  😀

Review Film: Nobody Knows & Kisah Sedih Kehidupan Kota

Kata orang, orang kota itu invidualistik. Mereka  terkadang tak tahu atau bahkan tak mau tahu akan apa yang dikerjakan orang di sekililingnya. Mereka tak tahu tetangga sebelahnya sedang sakit, namun lebih banyak tahu akan kabar tentang orang-orang yang secara spasial jauh darinya. Kira-kira kalimat itu lah gambaran fim Dare Mo Shiranai (Nobody Knows).

Film tentang sekeluarga yang tinggal di apartemen di Tokyo. Seorang Ibu bersama empat orang anaknya tinggal  di sana. Empat orang anak itu ternyata memiliki empat bapak yang berbeda juga. Hingga akhirnya si ibu meninggalkan mereka, menikah lagi, dan hanya mengirim uang pada anak sulungnya. Keempat anak itu hanya diasuh oleh kakak tertua yang berusia 12 tahun. Hingga lama-lama uang pemberian dari ibu mereka habis. Air tak mengalir, gas tak ada, listrik pun terputus. Setiap hari mereka mengandalkan makanan sisa dari toko kelontong dekat apartemennya.

Mereka tak berani bilang atau melapor kepada siapapun akan kendala yang mereka alami. Hal ini karena jika dilakukan, mereka tak akan bisa lagi tinggal di apartemennya. Oh ya, dari empat anak itu, yang terdaftar sebagai anak negara (memiliki catatan sipil dll) hanyalah anak pertama. Jadi penghuni resmi apartemen itu sebenarnya hanya si kakak tertua. Adik-adiknya ialah penghuni gelap di sana. Merek tak bersekolah, tak boleh keluar apartemen, bermain apalagi sampai ketahuan oleh si pemilik apartemen.

Lama kelamaaan hidup mereka semakin sulit. Hingga akhirnya anak terkecil meninggal dan sang kak menguburkannya secara diam-diam. Dan Tak ada yang tahu. Mereka terus hidup seperti itu.

**

Ternyata film keluaran tahun 2004 ini diangkat dari kisah nyata tentang penelantaran anak di Tokyo yang terjadi pada tahun 1980 yang kala itu mengguncang dunia.Dikenal dengan nama Sugamo child-abandonment incident/Sugamo Kodomo Okizari Jiken. Kisah aslinya seperti yang tertulis di film, awal dan akhirnya sama. Dan anak-anak di cerita aslinya mengalami malnutrisi. Sang ibu hanya meninggalkan 50.000 yen kepada anak tertua untuk pengeluaran  sehari-hari dan kebutuhan tagihan di apartemennya. Dan gilanya anak-anak tersebut ditinggal selama 9 bulan. Tak ada yang tahu!

Dan jika kalian menganggap akan ada banyak kejutan di film ini, kalian salah. Film ini film adaptasi yang sepertinya benar-benar mencuplik kisah ironi dari kehidupan nyata. Tak banyak hal-hal yang mengejutkan. Namun film ini menyajikan alur cerita seperti kita menonton kisah nyata. Alur hidup yang terkadang membosankan, keceriaan kecil, penuh tekanan, dan sesekali/berkali-kali rintangan hidup menghadang. Namun pada akhirnya hidup terus berjalan. Bagi kami inilah menarinya film ini. Film yang secara emosional “terjangkau” oleh pengalaman hidup penontonnya. Tak ada drama yang dibesar-besarkan.

Film ini sepertinya menggambarkan realita kecil dari ledakan ekonomi jepang. Ya, memang harus diingat buku “Japan As Number One”. Tahun 1980-an ialah eranya jepang memimpin ekonomi dunia, bahkan Amerika pun mereka lewati. Dan kisah ini ialah “konsekuansi” dari perubahan tersebut. Hidup itu mahal, apalagi di kota besar sekelas Tokyo. Bahkan jika tak salah, untuk biaya baju, tas dan sepatu sekolah, orang tua di jepang harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Angka jutaan atau lebih (jika di rupiahin) harus dikeluarkan oleh orang tua murid tersebut. Belum lagi biaya apartemen di Tokyo yang mahal. Ajip Rosidi, menyebut tinggal di apartemen di Tokyo itu seperti tinggal di kandang burung. Sempit, padat namun mahal.

Dan bisa saja kisah Dare Mo Shiaranai ini merupakan  akibat dari orang kota yang berjuang keras demi diri sendiri agar mampu hidup di kota. Ya, katanya, kota besar itu bukan untuk bersosialisasi, tapi semata untuk mencari uang. Mencari uang yang utama, dan (banyak) kawan ialah pilihan. Namun film ini mengisahkan juga bahwa seringkali hanyalah situasi yang membuat mereka seolah tak acuh akan sesama. Mereka sesungguhnya ingin mempunyai banyak teman dan bersosialisasi dengan banyak orang. Mereka ingin sekali bersantai, tertawa, bercengkrama, dan sedikit rehat dari rutinitas kerja. Namun entah mengapa masih banyak orang kota yang sulit untuk mengalaminya. Entah kenapa.

Nobody Knows, Dare Mo Shiranai.

***

Review Film: Rinko 18 & Industri Film Porno Jepang

Tak sengaja kami menemukan film ini internet. Film produksi tahun 2009 ini seketika menarik perhatian kami setelah beberapa di waktu yang lalu, kami sempat tertarik dengan isu yang serupa. Sesungguhnya film ini tak begitu menarik bagi pecinta film. Tak ada yang mengejutkan, alurnya lurus, aktingnya biasa saja, musiknya buruk, plus minim budget. Ini ialah film bergenre sex comedi. Film yang pastinya telah banyak kalian tonton di atau bahkan banyak beredar di bioskop tanah air. Namun satu yang menarik, yakni film ini bercerita tentang industri film dewasa di Jepang atau dikenal dengan AV.

Ya, tentu, hingga kini, selalu ada saja yang menarik tentang Jepang, terutama dalam penyebaran budaya populernya, walau K-Wave juga bisa dibilang telah sejajar dengannya. Dan terlepas dari itu, ada satu industri Jepang yang sukses baik di dalam maupun luar negeri. Ya, hal ini ialah industri film dewasanya. Para pecinta budaya jepang pasti tahu tentang JAV, bahkan seseorang yang tak kenal sama sekali tentang budaya jepang, tahu, bahwa banyak sekali film dewasa produksi Jepang.

Rinko 18 ini bercerita tentang seorang Rinko, perempuan yang berasal dari keluarga super kaya yang sekolah di bidang kedokteran dan bercita-cita ingin menjadi dokter. Namun cita-citanya pupus karena perusahaan keluargnya bangkrut hingga ia kehilangan segalanya. Ayahnya ditinggal cerai karena dinilai tak berharga lagi setelah ia jatuh miskin. Akhirnya Rinko memutuskan untuk hidup dengan usahanya sendiri. Dan secara tak sengaja dan juga satu-satunya perusahaan yang menerimanya ialah perusahaan yang bergerak dalam produksi film dewasa.

Ya, singkatnya film ini lucu dan bagus. Film yang lumayan sebagai penangkal penat. Memang sih tak sekocak film sejenis seperti Sex is Zero, namun film ini tetap layak untuk ditonton. Yang belum menonton silahkan tonton saja. Link donlotnya cari aja lah…. :D.

Yang menarik untuk dibahas di sini ialah kita sedikit mampu membaca bagaimana behind the scene pembuatan film dewasa di Jepang. Hal yang nampaknya sulit dicari di internet. FYI, setelah kami googling, kami mampu melihat proses pembuatan di balik layar film-film porno amerika. Namun sebaliknya, kami tak dapat sedikitpun hal yang serupa tentang JAV. Dengan ini, kami jadi sedikit tahu tentang roda penggerak di balik penghasil miliaran yen ini.

Dari film ini kita diberitahu bahwa produk JAV atau materi porno lain yang biasa kita tonton ialah, bisa dibilang juga, suatu tipu muslihat kamera, kosmetik, tata busana, dan, teknologi canggih lainnya. Ia tak berjalan selancar, seperti biasa kita menontonnya. Banyak adegan ulang, action-cut, dan lain-lain. Singkatnya mereka harus membuat para penontonnya menjadi bergairah, walau dicapai dengan, belaian, rangsangan, erangan, atao orgasme palsu. Memang ada real intercourse, namun tentu saja ini tak sepanjang film, apalagi si aktris atau aktor telah ejakulasi beberapa kali.

Kita juga tahu sedikit keluh kesah tentang si aktris. Bagaiamana ia menjalani hidupnya sebagai AV Idol, mengapa ia bisa terjun di industri ini, dan harapannya dimasa yang akan datang. Namun yang menarik dan banyak dibahas ialah bagaimana kehidupan mereka setelah tak menjadi pemeran film dewasa. Selain itu bagaimana pula mereka menjaga identitas di masyarakat baik tengah atau setelah pensiun dari industri ini.

Pertama, ternyata tak semata-mata uang yang mendorong banyak perempuan di jepang bergabung dengan industri ini. Dari mulai kebosanan, coba-coba, hingga akhirnya ia mendulang sukses. Begitu juga dengan alasan  mengapa mereka meninggalkan industri. Kasusnya berbeda di tiap orang, menurut salah satu manajer yang menaungi 20 artis film dewasa jepang ini.

Kini juga banyak yang lebih lama di industri ini dari mulai 5-10 tahun. Namun ada hal yang menarik, dan menegaskan juga bahwa sebenarnya industri ini bisa dibilang exist in a grey area. Ya, bisa dibilang legal, bisa dibilang tidak. Misalnya seorang artis telah terikat kontrak selama satu tahun dengan satu perusahaan, namun di tengah jalan si artis tak mau melanjutkannya, maka sang agensi secara legal tak mampu memaksa gadisnya untuk tetap melanjutkan kontraknya. Sebaliknya, sang agensi harus pintar-pintar menawar agar sang aktris mau terus melanjutkan kontraknya. Hal ini juga yang rasanya membuat begitu banyak pemeran film dewasa di jepang terus bermunculan dari tahun ke tahun, dari mulai remaja hingga ibu rumah tangga. Karena mereka bisa kerja singkat, per kontrak dan dapat uang yang banyak. Kasarnya, jika senang lanjut, jika cukup, berhenti (tentu saja aslinya tak sesimpel ini, apalagi terkait karakter dan falsafah orang jepang dengan pekerjaan).

Para artis pun harus tetap diam akan identitasnya. Layaknya falsafah Jepang, (kalo ga salah) jangan gunakan mata untuk melihat. Itu tak baik dan tak sopan. Bahwa kejujuran seringkali dianggap tak sopan di Jepang. Mereka harus menyembunyikan identitasnya ketika hendak bergabung dengan satu masyarakat baru, walau secara de facto masyarakat jepang sebenarnya menerima industri film jenis ini.

Ya, seperti yang ditampilkan dalam Rinko 18, industri film dewasa Jepang memang menarik untuk dipelajari. Industri ini hadir di tengah masyarakat yang menerima sekaligus menutup mata terhadapnya. Ia ada, namun penduduk segan tapi suka padanya. Apa artinya? bingung kan?….

Ya sudahlah, bingung biarlah tetap menjadi bingung. Setidaknya itu pengalaman yang kami dapat dari menonton Rinko 18…

***

Orang Zulu

Kami menemukan buku ini di tumpukan lemari kami. Sekitar 4-5 tahun yang lalu kami mengkopi buku ini, namun sayangnya belum pernah sampai tamat kami memabacanya. Akhirnya kali ini kami mampu membacanya. Judul buku ini ialah The Zulu of South Africa –Cattlemen, Farmers, and Warriors. Walau buku ini merupakan terbitan tua,yakni tahun 1970, namun buku setebal 152 halaman ini mampu memberikan gambaran menyeluruh bagi orang awam tentang siapa dan bagaimana kehidupan Orang Zulu di Afrika Selatan.

Walau ceritanya tak bisa dibilang mendalam, namun deskripsi penulisnya—Sonia Bleeker, membuat buku ini benar-benar hidup. Tulisannya sederhana saja namun deskripsinya begitu indah.

Namun dalam kesempatan ini kami tak akan menceritakan ulang tentang seluruh isi buku tersebut. Kali ini kami hanya  akan membahas dan menggambarkan ulang tentang mitos dan legenda yang hidup di orang zulu.

Suku Zulu ini  hidup di daerah Afrika Selatan. Para peneliti memperkirakan mereka tiba di wilayah ini sekitar 10.000 tahun yang lalu. Mereka temasuk golongan nomaden. Mereka berpindah sesuai musim. Mereka menggembalakan ternaknya, berpindah dari satu dataran luas yang penuh rumput ke dataran subur lainnya.  Namun seiring dengan semakin banyaknya penduduk dan ketersediaan makananan sepanjang tahun, maka mereka akhirnya menetap

Mereka tinggal di gubuk, berbentuk lingkaran—dikenal dengan nama Kraal (Pemberian nama oleh orang Boer). Tiap kraal terdiri dari beberapa gubuk tempat satu kelompok tinggal bersama hewan ternaknya) Untuk memenuhi kebutuhan makannya, mereka memburu hewan untuk dimakan dalam kelompoknya. Para wanitanya bekerja di kebun, mengumpulkan jerami dan cabang pohon untuk memperbaiki gubuknya dan anak wanitanya mencari kayu bakar. Sedangkan para pria dewasa, di luar waktu berburu mereka, mereka terkadang menciptakan berbagai benda seni dari kayu, bulu, atau kulit untuk ditukar dengan kebutuhan mereka.

Nah kira-kira itulah gambaran singkat tentang orang Zulu. Maaf, sebenarnya bannyak yang menarik tentang orang Zulu ini, namun entah kenapa kami lebih tertarik untuk fokus dalam menggambarkan ulang mitos-mitos dan legenda yang hidup di orang Zulu. Maka tulisan kami selanjutnya akan membahas tentang mitos dan legenda yang hidup di orang Zulu.

***

Mitos Orang Zulu

Banyak sekali legenda dan mitos yang menarik perhatian kami tentang orang zulu yang didapat dari buku yang kami baca tersebut. Orang Zulu (generasi muda) belajar tentang siapa mereka dari legenda atau cerita melalui cerita orang tua atau atau para pendongeng di dalam Kraal. Dan berikut ialah legenda, mitos dan kepercayaan yang hidup pada orang zulu:

  • Orang Zulu percaya bahwa merekalah kelompok manusia satu-satunya di muka bumi. Ketika pertama melihat orang dari kelompok lain mereka akan berkata bahwa kelompok lainnya itu aneh. Oh ya, kata “Zulu” secara sederhana  bagi mereka diartikan sebagai orang/manusia
  • kulit orang zulu bervariasi dari mulai coklat hingga sawo matang. Dan para pendongeng menggambarkan bahwa perempuan yang berwarna sawo matang sebagai makhluk ramah yang memancarkan kecantikannya
  • Orang Zulu percaya bahwa kemampuan wanita Zulu untuk memiiki keturunan berkaitan dengan kemampuan mereka menanam benih berbagai tanaman. Jadi layaknya bumi, perempuan dianggap sebagai sumber kesuburan. Dan itulah mengapa yang menggali tanah dan menanam benih dilakukan oleh perempuan dan anak perempuan Zulu. Hal ini serupa seperti kepercayaan tentang dewi sri di masyarakat pertanian di jawa tengah, Nyai Sri Pohaci di Jawa Barat, Dewi Laksmi di India, atau Dewi Dameter di masyarakat Yunani Kuno. Kesuburan dan kesejahteraan cenderung diasosiasikan dengan tokoh perempuan
  • Ada juga legenda tentang bagaimana pertama kali orang Zulu memperoleh hewan ternak mereka. Menurut para pendongeng, di masa yang lalu, para beberapa pemburu muda tengah berkelana. Lalu mereka terkejut ketika melihat sekumpulan hewan bertanduk yang berkumpul di lembah. Baru pertama kali mereka melihat begitu banyak hewan dalam satu area.

Segera mereka bersiap mengayunkan tombak mereka, namun mereka segera dibuat kebingunan. Hewan tersebut bukannya lari, namun malah memandang para pemburu dengan santainya. Kemudian salah seorang memberanikan diri mendekat namun tetap saja hewan itu berdiri saantai sambil mengibaskan ekor mereka untuk mengusir serangga. Si pemcuru tersebut mengelus pinggul, kepala dan tanduknya. Tiap hewan mereka sentuh dan tak satupun yang menunjukkan ekspresi ketakutan. Malah hewan tersebut menjilati tangan para pemburu tersebut.

Kemudian mereka segera mencari tahu darimana hewan tersebut berasal. Mereka berjalan ke dataran yang lebih tinggi kemudian melihat ada beberapa laki-laki, perempuan dan anak kecil do bawah pohon. Semuanya telah tergeletak dalam kondisi tewas, kecuali sang anak laki-laki. Anak kecil ini waspada terhadap para pemburu yang mendekatinya. Namun seketika ia menangis ketakutan melihat orang dari kelompoknya telah tewas terkulai di tanah.

Anak kecil itu awalnya menduga keluarganya dibunuh oleh orang. Namun tak ada satupun ceceran darah dan tombak berhiaskan darah bekas perlawanan. Ia kemudian bercerita bahwa keluarganya berkelana ke selatan mencari padang rumput karena di daerah asalnya hujun tak juga turun. Hingga akhirnya mereka tiba di tempat ini. Mereka menggembalakan ternaknya. Memasak jamur dan memakan tanaman lainnya. Namun saat waktunya makan, ia tak merasa lapar dan ia memutuskan untuk tidur. Namun ia terkejut, ketika ia bangun tidur dan semua keluarganya telah tewas. Kahirnya ia yakin bahwa mereka semua keracunan makanan di daerah ini karena masih asing dan tak tahu apapun tentang tanaman yang layak  makan di daerah baru tersebut.

Selanjutnya ia menjelaskan bahwa hewan ternak, sapid banteng itu ialah milik ayahnya. Ia meminta para pemburu tersebut untuk merawatnya. Ia juga meminta untuk dikawinkan dengan perempuan dari kelompok pemburu tersebut dan meminta agar dimasukan menjadi bagian dari kelompok mereka karena ia kini sebatang kara.

Akhirnya para pemburu itu kembali ke desanya (dengan bocah tersebut) dan mereka mulai beternak sapi ban banteng. Mereka diajari bagaimana caranya menngurus hewan tersebut oleh si bocah kecil. Mereka juga kemudian menemukan kegunaan dari hewan tersebut yang sebelumnya belum diketahui yakni sebagai bahan untuk pakaian dan sandal. Dan sejak itulah hingga kini orang Zulu memelihaara hewan ternaknya.

  • Jika mereka memakan daging hewan buruan atau daging dari lawan perang mereka. Mereka percaya bahwa kekuatan dari orang atau binaang tersebut akan masuk pada tubuh mereka
  • Orang zulu beraharap anaknya sehat dan takut akan anak kembar. Hal ini karena anak kembar dipercaya merupakan kutukan dari nenek moyang mereka. Dan karenanya mereka membunuh anak kembar tersebut.
  • Legenda Bantu juga memiliki cerita tentang anak kecil  lumpuh yang memiliki “bakat” dan kemampuan ajaib. Salah satunya tentang perempuan kecil yang buta dan memiliki enam jari. Ia dapat mengenali orang dari jarak jauh dan mampu meramal masa depan. Gadis seperti ini kemudian menjadi kebanggaan keluarga. Ia diberi banyak hadiah atau mainan dari kerabat atau kelompok lain
  • Orang Zulu akan melakukan segalanya untuk mengurus dan menyelamatkan ternaknya dari hewan buas. Dan kisah keberanian dari para pemuda ini dengan bangganya diceritakan di saat api unggun sore hari
  • Tugas utama perempuan ialah melahirkan dan mempunyai anak. Dan mas kawin (diberi oleh ayah si mempelai pria) dalam pernikahan di orang Zulu dinamakan Lobolo. Untuk menarik perhatian lawan jenis, perempuan zulu menggunakan jamu yang wangi, ramuan lain, ditambah dengan minyak sayur dan lemak binatang. Serupa seperti lipstik atau krim yang digunakan oleh perempuan kini

  • Sang pencipta bagi orang Zulu dinamakan Nkulunkulu. Dia terlihat seperti manusia walau memiliki 1000 mata. Dia memberikan pria sebuah jiwa kepemimpinan sehingga mereka dapat menjadi raja dan menciptakan peraturan. Oleh karenanya, Sang pencipta dapat beristirahat dan kembali ke surga.

Tapi ketika di surga, ia memerintahkan bunglon untuk membunuh manusia. Namun beberapa saat kemudian ia merubah pikiran dan meemerintahkan kadal untuk mencegah perbuatan bunglon untuk membunuh manusia. Tapi sayang kadal terlalu lambat dan tak bisa menyelamatkan manusia. Dan hasilnya, hingga kini manusia membenci kadal

  • Ada juga legenda tetang bagaimana orang afrika pertama menemukan drum. Pada suatu waktu seorang perempuan menjatuhkan lumpang yang terbuat dari kayu untuk menggiling kacang dan biji-bijian lainnya untuk bahan makanan. Setelah terjatuh, ia awalnya hendak merusak lumping itu dengan membuangnya ke api unggun. Namun tiba-tiba ia berubah pikiran, akhirnya ia memutuskan untuk menyuruh pengrajin kayu untuk “memoles” lumping yang telah rysak tersebut. Sang seniman pun mengikuti perintahnya dan memasang kulit wildebeest di atasnya. Maka akhirnya jadilah sebuah drum. Dan kini berbagai jenis dan ukuran drum pun bersumber dari drum tersebut.
  • Mereka percaya tak ada orang yang terlahir dengan sifat yang buruk atau jahat. Hanya sifat baik yang diturunkan dari nenek moyang kepada generasi bi bawahnya. Sebaliknya sifat buruk tak bisa diturunkan dari orang yang telah mati ke orang yang hidup.
  • Pemakaman untuk mereka pun tak bisa dibilang simpel. Mereka percaya rohs seseorang akna abadi, hidup selamanya. Jadi cara penguburan setiap orang akan berbeda sesuai dengan statusnya di Kraal. Untuk kepala suku, berkabung bisa “dirayakan” sepanjang tahun dan mengorbankan banyak “seserahan” hewan ternak.

Nah, itulah legenda dan kisah yang hidup di orang Zulu yang kami dapat dari bukunya Sonia Bleker. Kadang mitos memang aneh dan sulit untuk dimengerti. Tapi itulah asyiknya mitos. Lagipula mitos tak harus  pula kita mengerti . Cukup nikmati. Ok. itulah cerita kami tentang mitos orang zulu. Kami hanya menggambarkan dan membahasakan ulang akan apa yang kami baca. Semoga cerita di atas dapat bermanfaat. Amin.

***

** Kalo ada fakta yang tidak sesuai atau yang tidak relevan silahkan komen aja yah……………pasti akan kami revisi 😀