Review Film: Castaway On The Moon (2009)

Seorang lari dari kehidupan, satunya lagi bersembunyi dari dunia

Seorang pemuda memiliki tunggakan hingga ratusan ribu dolar hingga ia memutuskan untuk bunuh diri namun tidak berhasil dan hanya terdampar di pulau di tengah sungai han di korea. Ia sangat takut mati, namun lebih takut lagi untuk menjalani hidup. Ia akhirnya hidup seorang di pulau, beradaptasi hingga mampu menanam jagung untuk kebutuhan hidupnya.

Dilihat lagi tumpukan kartu kredit yang membuatnya takut hidup. Ia berkata “ternyata aku bisa hidup tanpa ini”. Ia menjalani hidup seorang diri yang sederhana dan layaknya manusia di masa berburu meramu dan becocok tanam.

Satu orang lagi, hidup tersembunyi di kamarnya. Seorang perempuan yang terjebak dengan dunia maya dan takut dengan dunia di luarnya. Tumpukan sampah, sisa makanan menggunung di kamarnya, sementara ia hanya berfokus pada situs jejaring sosial sambil hidup dalam fantasinya. Ia hobi mengambil foto bulan dan dalam setahun ia hanya melihat matahari selama  2 hari.

Semuanya berubah ketika kamera sony dengan tele nya membidik sebuah pulau dan melihat pria gila. Setiap hari ia mengamati dan mengambil fotonya. Dan pada ahirnya ia memutuskan untuk megirimkan pesan lewat botol dan melemparnya ke pulau tersebut. Hingga pada satu waktu komunikasi mereka terputus

Film ini memperlihatkan bagaimana realita ini harus dihadapi. Hadapi perubahan. Jangan takut pada dunia, mulai dari buka jendela dan intiplah cahaya matahari di luar sana. Belajarlah perlahan. Jangan takut apapun. Jangan takut mati karena mati besok atau setengah abad lagi esensinya sama saja.

Satu lagi, film ini menyuratkan bahwa manusia butuh seseorang untuk bertahan hidup. Mereka harus berkomunikasi dengan lainnya memberikan kemanan baik secara fisik ataupun psikis. Dan harus ditekankan lagi, bahwa hidup sendiri dalam batas-batas tertentu sangatlah mengerikan. Kesepian perlahan mampu membunuh manusia.

***

Iklan

Review Film: The Piano In The Factory

Kami selalu menggemari film dengan tema musik atau ada kaitannya dengan musik. Dan film The Piano in A Factory ini ternyata kami dapat beberapa bulan yang lalu, untuk kemudian kami meminta kawan kami untuk mengunduhnya karena koneksi internet kami tak layak untuk mengunduh film.

Film ini bercerita tentang seorang ayah yang berprofesi sebagai pemain akordion di band kecil bernama Chen Guilin yang sedang dalam proses perceraian dengan istrinya. Sang istri memilih untuk menikah dengan pria yang lebih kaya dari dia. Masalahnya kemudian terletak paad hak asuh anak, dan sang anak akan memilih untuk ikut pada siapapun yang dapat memberinya piano. Sang anak ternyata memiliki bakat dalam bermain piano.

 Ia hanya bisa menyelinap masuk tiap malam ke sekolah untuk bermain piano yang ada di sekolahnya. Sebelumnya, guru di sekolah tersebut menganggap ada hantu di sekolah, namun akhirnya sang anak kedapatan sedang bermain piano dan dia tidak diperbolehkan lagi bermain piano tersebut.

Walhasil Chen Guilin berusaha dengan cara apapun untuk mendapatkan piano untuk anaknya. Ia sempat berusaja mencuri piano di sekolah anaknya bersama kawan dan saudaranya namun ia ketahuan. Selanjutnya ia mencoba mendekati beberapa kerabat dan saudaranya dan bermodalkan sebuah buku tentang pembuatan piano yang ia pinjam di perpustakaan akhirnya ia bersama timnya memutuskan untuk membuat piano. Mereka mengumpulkan materi mulai dari kayu dan besi bekas untuk dibuat menjadi piano. Uniknya frame piano ini terbuat dari besi alih-alih kayu.

Seiring berjalannya waktu, banyak peristiwa yang terjadi, mulai dari permasalahan saat membuat piano, masalah ia dengan istrinya hingga, permasalahan ia dengan kekasihnya yang merupakan vokalis dalam band-nya. Pada akhirnya Chen Guilin sadar bahwa usahanya membuatkan piano untuk anaknya tidak sebatas memenangkan hati dan hak asuh sang anak. Lebih dari itu, menurut kami poinnya bahwa seseorang bisa menahan sakit, rela tertatih-tatih dalam hidupnya ketika ia tengah berusaha membahagiakan, mengorbankan atau berbuat sesuatu demi orang yang ia kasihi. Seolah ia memiliki nafas kedua. Dalam film ini juga memperlihatkan bahwa hidup bukanlah semata hasil akhirnya tapi bagaimana kesungguhan ia menjalaninya.

Singkatnya, film yang bersetting kelas pekerja China di tahun 1990-an ini layak untuk ditonton. Perubahan di tatanan masyarakat seperti pengambil-alihan pabrik-pabrik yang membuat banyak pekerja kehilangan mata pencahariannya menjadi latar film ini. Bagaimana para pekerja berusahan menjalani hidupnya setelah di PHK dari pabrik besi tempat mereka bekerja semula.

Selain itu bagi kami pribadi, film ini memberikan kami agar lebih bersemangat lagi untuk belajar piano. Mungkin film ini juga dapat menjadi penyemangat bagi kalian yang sedang berusaha untuk membeli piano atau keyboard pertama kalian.

Singkat kata, selamat mencari dan menikmati film-nya.

***

Review Buku: 1852 Pepatah & Petuah Cina

 

Penulis     : Sylvia Susana Mekarsari

Penerbit   : Penerbit Bangkit

Cetakan    : I, 2010

Tebal         : 195 Halaman

ISBN          : 970-1709-53-X

—————————————————————————————————————————–

Dalam rangka merayakan tahun Baru Cina kami membeli buku bekas tentang pepatah Cina. Kami membelinya seharga 10.000 rupiah. Banyak pepatah yang mungkin terasa unik, aneh, jayus, bahkan luar biasa bijaknya. Buku ini sangat lumayan untuk status facebook, twitter, lucu-lucuan, menghibur atau membantu membangkitkan motivasi kawan. Dan dibawah kami akan mengutip beberapa dan semoga bermanfaat:

When a Finger Pointing at The moon, the fools look at the finger

Ketika Sebuah Jari Menunjuk Pada Bulan, Orang Bodoh melihat pada Jari

When a man is crazy about a women only she can cure him

Ketika pria tergila-gila apada seorang wanita, hanya wanita itu saja yang dapat menyembuhkannya

Baca lebih lanjut

Review Buku: Keadaan Jakarta Tempo Doeloe

Judul         : Keadaan Jakarta Tempo Doeloe

Penulis     : Tio Tek Hong

Penerbit   : Masup Jakarta

Cetakan    : II, Desember 2007

Tebal         : 129 Halaman

ISBN         : 979-25-7291-0

——————————————————————————————————————-

Jakarta selalu membuat kami penasaran, karena kami orang ndeso 😀 yang terkesima dengan gemerlap ibukota. Selain ingin mengetahui lebih banyak, kami pun selalu dibuat terpana dengan  sejarah kota-kota, termasuk Jakarta. Kami terkesan dengan bagaimana para pencerita/penulis mengisahkan kondisi kota pada eranya. Nah di buku Keadaan Jakarta Tempo Doeloe karya Tio Tek Hong ini mengisahkan sejarah, dinamika, dan denyut nadi kota Jakarta dari tahun 1882-1959. Baca lebih lanjut

Review Film: Nobody Knows & Kisah Sedih Kehidupan Kota

Kata orang, orang kota itu invidualistik. Mereka  terkadang tak tahu atau bahkan tak mau tahu akan apa yang dikerjakan orang di sekililingnya. Mereka tak tahu tetangga sebelahnya sedang sakit, namun lebih banyak tahu akan kabar tentang orang-orang yang secara spasial jauh darinya. Kira-kira kalimat itu lah gambaran fim Dare Mo Shiranai (Nobody Knows).

Film tentang sekeluarga yang tinggal di apartemen di Tokyo. Seorang Ibu bersama empat orang anaknya tinggal  di sana. Empat orang anak itu ternyata memiliki empat bapak yang berbeda juga. Hingga akhirnya si ibu meninggalkan mereka, menikah lagi, dan hanya mengirim uang pada anak sulungnya. Keempat anak itu hanya diasuh oleh kakak tertua yang berusia 12 tahun. Hingga lama-lama uang pemberian dari ibu mereka habis. Air tak mengalir, gas tak ada, listrik pun terputus. Setiap hari mereka mengandalkan makanan sisa dari toko kelontong dekat apartemennya.

Mereka tak berani bilang atau melapor kepada siapapun akan kendala yang mereka alami. Hal ini karena jika dilakukan, mereka tak akan bisa lagi tinggal di apartemennya. Oh ya, dari empat anak itu, yang terdaftar sebagai anak negara (memiliki catatan sipil dll) hanyalah anak pertama. Jadi penghuni resmi apartemen itu sebenarnya hanya si kakak tertua. Adik-adiknya ialah penghuni gelap di sana. Merek tak bersekolah, tak boleh keluar apartemen, bermain apalagi sampai ketahuan oleh si pemilik apartemen.

Lama kelamaaan hidup mereka semakin sulit. Hingga akhirnya anak terkecil meninggal dan sang kak menguburkannya secara diam-diam. Dan Tak ada yang tahu. Mereka terus hidup seperti itu.

**

Ternyata film keluaran tahun 2004 ini diangkat dari kisah nyata tentang penelantaran anak di Tokyo yang terjadi pada tahun 1980 yang kala itu mengguncang dunia.Dikenal dengan nama Sugamo child-abandonment incident/Sugamo Kodomo Okizari Jiken. Kisah aslinya seperti yang tertulis di film, awal dan akhirnya sama. Dan anak-anak di cerita aslinya mengalami malnutrisi. Sang ibu hanya meninggalkan 50.000 yen kepada anak tertua untuk pengeluaran  sehari-hari dan kebutuhan tagihan di apartemennya. Dan gilanya anak-anak tersebut ditinggal selama 9 bulan. Tak ada yang tahu!

Dan jika kalian menganggap akan ada banyak kejutan di film ini, kalian salah. Film ini film adaptasi yang sepertinya benar-benar mencuplik kisah ironi dari kehidupan nyata. Tak banyak hal-hal yang mengejutkan. Namun film ini menyajikan alur cerita seperti kita menonton kisah nyata. Alur hidup yang terkadang membosankan, keceriaan kecil, penuh tekanan, dan sesekali/berkali-kali rintangan hidup menghadang. Namun pada akhirnya hidup terus berjalan. Bagi kami inilah menarinya film ini. Film yang secara emosional “terjangkau” oleh pengalaman hidup penontonnya. Tak ada drama yang dibesar-besarkan.

Film ini sepertinya menggambarkan realita kecil dari ledakan ekonomi jepang. Ya, memang harus diingat buku “Japan As Number One”. Tahun 1980-an ialah eranya jepang memimpin ekonomi dunia, bahkan Amerika pun mereka lewati. Dan kisah ini ialah “konsekuansi” dari perubahan tersebut. Hidup itu mahal, apalagi di kota besar sekelas Tokyo. Bahkan jika tak salah, untuk biaya baju, tas dan sepatu sekolah, orang tua di jepang harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Angka jutaan atau lebih (jika di rupiahin) harus dikeluarkan oleh orang tua murid tersebut. Belum lagi biaya apartemen di Tokyo yang mahal. Ajip Rosidi, menyebut tinggal di apartemen di Tokyo itu seperti tinggal di kandang burung. Sempit, padat namun mahal.

Dan bisa saja kisah Dare Mo Shiaranai ini merupakan  akibat dari orang kota yang berjuang keras demi diri sendiri agar mampu hidup di kota. Ya, katanya, kota besar itu bukan untuk bersosialisasi, tapi semata untuk mencari uang. Mencari uang yang utama, dan (banyak) kawan ialah pilihan. Namun film ini mengisahkan juga bahwa seringkali hanyalah situasi yang membuat mereka seolah tak acuh akan sesama. Mereka sesungguhnya ingin mempunyai banyak teman dan bersosialisasi dengan banyak orang. Mereka ingin sekali bersantai, tertawa, bercengkrama, dan sedikit rehat dari rutinitas kerja. Namun entah mengapa masih banyak orang kota yang sulit untuk mengalaminya. Entah kenapa.

Nobody Knows, Dare Mo Shiranai.

***

Orang Zulu

Kami menemukan buku ini di tumpukan lemari kami. Sekitar 4-5 tahun yang lalu kami mengkopi buku ini, namun sayangnya belum pernah sampai tamat kami memabacanya. Akhirnya kali ini kami mampu membacanya. Judul buku ini ialah The Zulu of South Africa –Cattlemen, Farmers, and Warriors. Walau buku ini merupakan terbitan tua,yakni tahun 1970, namun buku setebal 152 halaman ini mampu memberikan gambaran menyeluruh bagi orang awam tentang siapa dan bagaimana kehidupan Orang Zulu di Afrika Selatan.

Walau ceritanya tak bisa dibilang mendalam, namun deskripsi penulisnya—Sonia Bleeker, membuat buku ini benar-benar hidup. Tulisannya sederhana saja namun deskripsinya begitu indah.

Namun dalam kesempatan ini kami tak akan menceritakan ulang tentang seluruh isi buku tersebut. Kali ini kami hanya  akan membahas dan menggambarkan ulang tentang mitos dan legenda yang hidup di orang zulu.

Suku Zulu ini  hidup di daerah Afrika Selatan. Para peneliti memperkirakan mereka tiba di wilayah ini sekitar 10.000 tahun yang lalu. Mereka temasuk golongan nomaden. Mereka berpindah sesuai musim. Mereka menggembalakan ternaknya, berpindah dari satu dataran luas yang penuh rumput ke dataran subur lainnya.  Namun seiring dengan semakin banyaknya penduduk dan ketersediaan makananan sepanjang tahun, maka mereka akhirnya menetap

Mereka tinggal di gubuk, berbentuk lingkaran—dikenal dengan nama Kraal (Pemberian nama oleh orang Boer). Tiap kraal terdiri dari beberapa gubuk tempat satu kelompok tinggal bersama hewan ternaknya) Untuk memenuhi kebutuhan makannya, mereka memburu hewan untuk dimakan dalam kelompoknya. Para wanitanya bekerja di kebun, mengumpulkan jerami dan cabang pohon untuk memperbaiki gubuknya dan anak wanitanya mencari kayu bakar. Sedangkan para pria dewasa, di luar waktu berburu mereka, mereka terkadang menciptakan berbagai benda seni dari kayu, bulu, atau kulit untuk ditukar dengan kebutuhan mereka.

Nah kira-kira itulah gambaran singkat tentang orang Zulu. Maaf, sebenarnya bannyak yang menarik tentang orang Zulu ini, namun entah kenapa kami lebih tertarik untuk fokus dalam menggambarkan ulang mitos-mitos dan legenda yang hidup di orang Zulu. Maka tulisan kami selanjutnya akan membahas tentang mitos dan legenda yang hidup di orang Zulu.

***

Mitos Orang Zulu

Banyak sekali legenda dan mitos yang menarik perhatian kami tentang orang zulu yang didapat dari buku yang kami baca tersebut. Orang Zulu (generasi muda) belajar tentang siapa mereka dari legenda atau cerita melalui cerita orang tua atau atau para pendongeng di dalam Kraal. Dan berikut ialah legenda, mitos dan kepercayaan yang hidup pada orang zulu:

  • Orang Zulu percaya bahwa merekalah kelompok manusia satu-satunya di muka bumi. Ketika pertama melihat orang dari kelompok lain mereka akan berkata bahwa kelompok lainnya itu aneh. Oh ya, kata “Zulu” secara sederhana  bagi mereka diartikan sebagai orang/manusia
  • kulit orang zulu bervariasi dari mulai coklat hingga sawo matang. Dan para pendongeng menggambarkan bahwa perempuan yang berwarna sawo matang sebagai makhluk ramah yang memancarkan kecantikannya
  • Orang Zulu percaya bahwa kemampuan wanita Zulu untuk memiiki keturunan berkaitan dengan kemampuan mereka menanam benih berbagai tanaman. Jadi layaknya bumi, perempuan dianggap sebagai sumber kesuburan. Dan itulah mengapa yang menggali tanah dan menanam benih dilakukan oleh perempuan dan anak perempuan Zulu. Hal ini serupa seperti kepercayaan tentang dewi sri di masyarakat pertanian di jawa tengah, Nyai Sri Pohaci di Jawa Barat, Dewi Laksmi di India, atau Dewi Dameter di masyarakat Yunani Kuno. Kesuburan dan kesejahteraan cenderung diasosiasikan dengan tokoh perempuan
  • Ada juga legenda tentang bagaimana pertama kali orang Zulu memperoleh hewan ternak mereka. Menurut para pendongeng, di masa yang lalu, para beberapa pemburu muda tengah berkelana. Lalu mereka terkejut ketika melihat sekumpulan hewan bertanduk yang berkumpul di lembah. Baru pertama kali mereka melihat begitu banyak hewan dalam satu area.

Segera mereka bersiap mengayunkan tombak mereka, namun mereka segera dibuat kebingunan. Hewan tersebut bukannya lari, namun malah memandang para pemburu dengan santainya. Kemudian salah seorang memberanikan diri mendekat namun tetap saja hewan itu berdiri saantai sambil mengibaskan ekor mereka untuk mengusir serangga. Si pemcuru tersebut mengelus pinggul, kepala dan tanduknya. Tiap hewan mereka sentuh dan tak satupun yang menunjukkan ekspresi ketakutan. Malah hewan tersebut menjilati tangan para pemburu tersebut.

Kemudian mereka segera mencari tahu darimana hewan tersebut berasal. Mereka berjalan ke dataran yang lebih tinggi kemudian melihat ada beberapa laki-laki, perempuan dan anak kecil do bawah pohon. Semuanya telah tergeletak dalam kondisi tewas, kecuali sang anak laki-laki. Anak kecil ini waspada terhadap para pemburu yang mendekatinya. Namun seketika ia menangis ketakutan melihat orang dari kelompoknya telah tewas terkulai di tanah.

Anak kecil itu awalnya menduga keluarganya dibunuh oleh orang. Namun tak ada satupun ceceran darah dan tombak berhiaskan darah bekas perlawanan. Ia kemudian bercerita bahwa keluarganya berkelana ke selatan mencari padang rumput karena di daerah asalnya hujun tak juga turun. Hingga akhirnya mereka tiba di tempat ini. Mereka menggembalakan ternaknya. Memasak jamur dan memakan tanaman lainnya. Namun saat waktunya makan, ia tak merasa lapar dan ia memutuskan untuk tidur. Namun ia terkejut, ketika ia bangun tidur dan semua keluarganya telah tewas. Kahirnya ia yakin bahwa mereka semua keracunan makanan di daerah ini karena masih asing dan tak tahu apapun tentang tanaman yang layak  makan di daerah baru tersebut.

Selanjutnya ia menjelaskan bahwa hewan ternak, sapid banteng itu ialah milik ayahnya. Ia meminta para pemburu tersebut untuk merawatnya. Ia juga meminta untuk dikawinkan dengan perempuan dari kelompok pemburu tersebut dan meminta agar dimasukan menjadi bagian dari kelompok mereka karena ia kini sebatang kara.

Akhirnya para pemburu itu kembali ke desanya (dengan bocah tersebut) dan mereka mulai beternak sapi ban banteng. Mereka diajari bagaimana caranya menngurus hewan tersebut oleh si bocah kecil. Mereka juga kemudian menemukan kegunaan dari hewan tersebut yang sebelumnya belum diketahui yakni sebagai bahan untuk pakaian dan sandal. Dan sejak itulah hingga kini orang Zulu memelihaara hewan ternaknya.

  • Jika mereka memakan daging hewan buruan atau daging dari lawan perang mereka. Mereka percaya bahwa kekuatan dari orang atau binaang tersebut akan masuk pada tubuh mereka
  • Orang zulu beraharap anaknya sehat dan takut akan anak kembar. Hal ini karena anak kembar dipercaya merupakan kutukan dari nenek moyang mereka. Dan karenanya mereka membunuh anak kembar tersebut.
  • Legenda Bantu juga memiliki cerita tentang anak kecil  lumpuh yang memiliki “bakat” dan kemampuan ajaib. Salah satunya tentang perempuan kecil yang buta dan memiliki enam jari. Ia dapat mengenali orang dari jarak jauh dan mampu meramal masa depan. Gadis seperti ini kemudian menjadi kebanggaan keluarga. Ia diberi banyak hadiah atau mainan dari kerabat atau kelompok lain
  • Orang Zulu akan melakukan segalanya untuk mengurus dan menyelamatkan ternaknya dari hewan buas. Dan kisah keberanian dari para pemuda ini dengan bangganya diceritakan di saat api unggun sore hari
  • Tugas utama perempuan ialah melahirkan dan mempunyai anak. Dan mas kawin (diberi oleh ayah si mempelai pria) dalam pernikahan di orang Zulu dinamakan Lobolo. Untuk menarik perhatian lawan jenis, perempuan zulu menggunakan jamu yang wangi, ramuan lain, ditambah dengan minyak sayur dan lemak binatang. Serupa seperti lipstik atau krim yang digunakan oleh perempuan kini

  • Sang pencipta bagi orang Zulu dinamakan Nkulunkulu. Dia terlihat seperti manusia walau memiliki 1000 mata. Dia memberikan pria sebuah jiwa kepemimpinan sehingga mereka dapat menjadi raja dan menciptakan peraturan. Oleh karenanya, Sang pencipta dapat beristirahat dan kembali ke surga.

Tapi ketika di surga, ia memerintahkan bunglon untuk membunuh manusia. Namun beberapa saat kemudian ia merubah pikiran dan meemerintahkan kadal untuk mencegah perbuatan bunglon untuk membunuh manusia. Tapi sayang kadal terlalu lambat dan tak bisa menyelamatkan manusia. Dan hasilnya, hingga kini manusia membenci kadal

  • Ada juga legenda tetang bagaimana orang afrika pertama menemukan drum. Pada suatu waktu seorang perempuan menjatuhkan lumpang yang terbuat dari kayu untuk menggiling kacang dan biji-bijian lainnya untuk bahan makanan. Setelah terjatuh, ia awalnya hendak merusak lumping itu dengan membuangnya ke api unggun. Namun tiba-tiba ia berubah pikiran, akhirnya ia memutuskan untuk menyuruh pengrajin kayu untuk “memoles” lumping yang telah rysak tersebut. Sang seniman pun mengikuti perintahnya dan memasang kulit wildebeest di atasnya. Maka akhirnya jadilah sebuah drum. Dan kini berbagai jenis dan ukuran drum pun bersumber dari drum tersebut.
  • Mereka percaya tak ada orang yang terlahir dengan sifat yang buruk atau jahat. Hanya sifat baik yang diturunkan dari nenek moyang kepada generasi bi bawahnya. Sebaliknya sifat buruk tak bisa diturunkan dari orang yang telah mati ke orang yang hidup.
  • Pemakaman untuk mereka pun tak bisa dibilang simpel. Mereka percaya rohs seseorang akna abadi, hidup selamanya. Jadi cara penguburan setiap orang akan berbeda sesuai dengan statusnya di Kraal. Untuk kepala suku, berkabung bisa “dirayakan” sepanjang tahun dan mengorbankan banyak “seserahan” hewan ternak.

Nah, itulah legenda dan kisah yang hidup di orang Zulu yang kami dapat dari bukunya Sonia Bleker. Kadang mitos memang aneh dan sulit untuk dimengerti. Tapi itulah asyiknya mitos. Lagipula mitos tak harus  pula kita mengerti . Cukup nikmati. Ok. itulah cerita kami tentang mitos orang zulu. Kami hanya menggambarkan dan membahasakan ulang akan apa yang kami baca. Semoga cerita di atas dapat bermanfaat. Amin.

***

** Kalo ada fakta yang tidak sesuai atau yang tidak relevan silahkan komen aja yah……………pasti akan kami revisi 😀

Apa Hebatnya Raditya Dika!

Begini, beberapa waktu lalu kami diberi buku yang merupakan hadiah dari satu acara. Isinya tentang pengalaman pribadi yang kemudian dituangkan ke dalam buku dengan bentuk pesonal literature (ini genre dari penerbitnya). Ceritanya tentang pengalaman seorang lelaki yang menjadi seorang perawat. Dari mulai ia tak sengaja ikut tes akademi keperawatan hingga akhirnya ia lulus dari akademi tersebut dengan “selamat”. Dalam buku itu diceritakan berbagai pengalaman menariknya. Mulai dari yang sedih, senang, dan tentu pengalaman konyol karena ini masuk ke dalam buku komedi.

Kami sebenarnya sedikit malas membaca buku seperti ini. Namun karena sebelumnya kami tak pernah membaca buku aneh seperti ini, akhirnya kami putuskan untuk membacanya.  Kami menamatkan membaca buku ini secara mencicil sebelum kami tidur, tak runut dari bab awal, dan menyelesaikannya selama kurang lebih tiga hari.

Lalu apa yang menarik dari buku ini?

Tidak ada. Tidak ada yang menarik!

Nah, jenis buku yang disusun berdasarkan pengalaman yang ditulis dengan bahasa santai yang segar, mengingatkan kami akan Raditya Dika. Ya siapa yang tak kenal Raditnya Dika? Apalagi di kalangan blogger. Nah, kamilah salah seorang yang baru tahu Raditya Dika beberapa bulan kebelakang.

Mungkin ia termasuk seorang yang sukses sebagai blogger. Tapi apa kehebatannya? Ah, bagi kami kehebatannya tak banyak juga. (maaf ya Mas Dika, jika dalam buku Mas biasa mengejek diri sendiri, maka dalam kesempatan kali ini izinkan kami menjelek-jelekkan Mas). Dia Cuma lihai ketak-ketik pengalamannya dengah ditambah bumbu komedi. Ya, membaca bukunya, isinya ya hanya haha hehe, seolah hidupnya selalu lucu.

Dan setelah kami tilik-tilik bukunya, ya isinya tak jauh dari lelucon yang biasa kami utarakan ketika kami bercanda dengan kawan. Lelucon yang biasa mengudara ketika kami berkumpul bersama teman sambil minum teh manis, kopi dan batangan rokok.

Kelebihan

Namun justru itulah kelebihan banyak penulis jenis ini. Tak setiap orang niat atau bahkan mau menggubah pengalamannya menjadi suatu bentuk kumpulan tulisan di sebuah buku. Dan yang menarik bagi kami ialah buku ini bisa dibaca oleh siapa saja. Maksudnya ialah orang yang sebelumnya tak senang membaca buku, ketika disodorkan buku jenis ini, mereka akan cenderung tertarik untuk terus membacanya. Ya, hal ini baik untuk masyarakat yang minat bacanya masih cukup rendah.

Selain itu, tentu tak mudah membuat sebuah buku. Mau apapun itu namanya, yang namanya berbentuk buku membutuhkan suatu kerja keras dan pola pikir yang sistematis dalam menyusun materi buku tersebut. Jadi, walau bagi kami buku suster boy yang kami ceritakan di muka tak begitu menarik, namun kami sangat mengapresiasi proses kerja penulisnya.

Kemudian juga, dalam setiap bukunya mereka pasti mempunyai semacam konsep dasar yang menceritakan tentang apa sebenarnya buku mereka. Ya, hal ini terlihat dari judulnya. Misalnya, Raditya Dika, sepertinya ia konsisten menggunakan istilah binatang untuk judul buku-bukunya. Dan dengan analogi konsep binatang tersebut ia tahu harus dibawa ke  arah mana jalan cerita dalam bukunya.

Oh ya, kami juga dapat merasakan perbedaan bagaimana penulis seperti Raditya Dika menuangkan gagasannya hingga membuat orang tertawa. Dibanding dengan penulis pemula, misalnya dengan penulis Suster Boy. Dalam bukunya, ia dapat memisahkan mana yang fakta (pengalaman pribadi) dan mana yang hanya sebatas bumbu humor. Dengan ini kami kira kami dapat lebih memahami pengalamnnya dan lebih dapat terlibat secara emosi dengan kejadian yang dituliskan dalam bukunya.

Berbeda dari buku Suster Boy, dimana fakta dan bumbu humor seperti bercampur. Jadinya yang kami tangkap yakni pengalaman yang dituangkan dalam bukunya seolah terlalu dilebih-lebihkan atau dalam bahasa Perancisnya dikenal dengan nama Le bai. Nah pada akhirnya hal ini malah tidak membuat kami tertawa. Dan hanya cukup membuat kami berdehem dan terkadang tertawa tipis.

Pada akhirnya, membaca buku jenis ini, personal literature, atau sejenisnya, cukuplah menghibur. Dan yang terpenting, mau apapun itu bukunya, niscaya akan memberikan sedikit banyak pengetahuan. Misalnya dalam buku Suster Boy, kami jadi mengerti bagaimana kehidupan anak-anak keperawatan. Bagaimana kuliahnya dan sedikit apa yang mereka pelajari di kelas. Hal ini membuat kami mengetahui hal baru yang sebelumnya amat asing di kehidupan kami. Dan terakhir yang terpenting, buku ini bisa menghibur dan mengisi kekosongan waktu kami dengan diisi dengan sedikit pengetahuan dari buku tersebut.

Nah di akhir tulisan ini kami punya sedikit pesan. “Coba buka dan sedikit baca buku yang berserakan di kamar, yang sebelumnya belum kalian baca. Entah itu karena malas atau kalian berasumsi bahwa buku itu tak menarik.” Siapa tahu kalian mendapatkan sesuatu dari situ.

Selamat membaca.

***

Review: Hadiah Purnama Dari Langit, Ekspedisi Batang Hari dan TNKS

Judul         : Hadiah Purnama dari Langit

Penulis     : Trio Jenifran (Editor)

Penerbit   : Harian Singgalang

Cetakan    : I, Desember 2009

Tebal         : 99 Halaman

ISBN          : 978-979-99712-6-5

 

Bagi gadis-gadisnya, Batang Hari ialah alunan melodi cinta kasih. Bagi lelaki tampannya, Batang Hari ialah tempat bunga cinta dipetik.Banyak cinta bersemi di sana, banyak juga yang hanyutBaca lebih lanjut

Jangan Duduki Buku Ini!

Judul         : Don`t Shit On This Book:  Kumpulan Tabu dan kepercayaan Chinese

Penulis     : Master Philip Cheong dan S.L. Ang

Penerbit   : Karaniya

Cetakan    : I,Februari 2010

Tebal         : 187 Halaman

ISBN          : N/A

——————————————————————————————————————————————–

Perempuan itu Terbuat dari Air-

(Pepatah Cina Kuno) Baca lebih lanjut