Review Film: Castaway On The Moon (2009)

Seorang lari dari kehidupan, satunya lagi bersembunyi dari dunia

Seorang pemuda memiliki tunggakan hingga ratusan ribu dolar hingga ia memutuskan untuk bunuh diri namun tidak berhasil dan hanya terdampar di pulau di tengah sungai han di korea. Ia sangat takut mati, namun lebih takut lagi untuk menjalani hidup. Ia akhirnya hidup seorang di pulau, beradaptasi hingga mampu menanam jagung untuk kebutuhan hidupnya.

Dilihat lagi tumpukan kartu kredit yang membuatnya takut hidup. Ia berkata “ternyata aku bisa hidup tanpa ini”. Ia menjalani hidup seorang diri yang sederhana dan layaknya manusia di masa berburu meramu dan becocok tanam.

Satu orang lagi, hidup tersembunyi di kamarnya. Seorang perempuan yang terjebak dengan dunia maya dan takut dengan dunia di luarnya. Tumpukan sampah, sisa makanan menggunung di kamarnya, sementara ia hanya berfokus pada situs jejaring sosial sambil hidup dalam fantasinya. Ia hobi mengambil foto bulan dan dalam setahun ia hanya melihat matahari selama  2 hari.

Semuanya berubah ketika kamera sony dengan tele nya membidik sebuah pulau dan melihat pria gila. Setiap hari ia mengamati dan mengambil fotonya. Dan pada ahirnya ia memutuskan untuk megirimkan pesan lewat botol dan melemparnya ke pulau tersebut. Hingga pada satu waktu komunikasi mereka terputus

Film ini memperlihatkan bagaimana realita ini harus dihadapi. Hadapi perubahan. Jangan takut pada dunia, mulai dari buka jendela dan intiplah cahaya matahari di luar sana. Belajarlah perlahan. Jangan takut apapun. Jangan takut mati karena mati besok atau setengah abad lagi esensinya sama saja.

Satu lagi, film ini menyuratkan bahwa manusia butuh seseorang untuk bertahan hidup. Mereka harus berkomunikasi dengan lainnya memberikan kemanan baik secara fisik ataupun psikis. Dan harus ditekankan lagi, bahwa hidup sendiri dalam batas-batas tertentu sangatlah mengerikan. Kesepian perlahan mampu membunuh manusia.

***

Review Film: Rinko 18 & Industri Film Porno Jepang

Tak sengaja kami menemukan film ini internet. Film produksi tahun 2009 ini seketika menarik perhatian kami setelah beberapa di waktu yang lalu, kami sempat tertarik dengan isu yang serupa. Sesungguhnya film ini tak begitu menarik bagi pecinta film. Tak ada yang mengejutkan, alurnya lurus, aktingnya biasa saja, musiknya buruk, plus minim budget. Ini ialah film bergenre sex comedi. Film yang pastinya telah banyak kalian tonton di atau bahkan banyak beredar di bioskop tanah air. Namun satu yang menarik, yakni film ini bercerita tentang industri film dewasa di Jepang atau dikenal dengan AV.

Ya, tentu, hingga kini, selalu ada saja yang menarik tentang Jepang, terutama dalam penyebaran budaya populernya, walau K-Wave juga bisa dibilang telah sejajar dengannya. Dan terlepas dari itu, ada satu industri Jepang yang sukses baik di dalam maupun luar negeri. Ya, hal ini ialah industri film dewasanya. Para pecinta budaya jepang pasti tahu tentang JAV, bahkan seseorang yang tak kenal sama sekali tentang budaya jepang, tahu, bahwa banyak sekali film dewasa produksi Jepang.

Rinko 18 ini bercerita tentang seorang Rinko, perempuan yang berasal dari keluarga super kaya yang sekolah di bidang kedokteran dan bercita-cita ingin menjadi dokter. Namun cita-citanya pupus karena perusahaan keluargnya bangkrut hingga ia kehilangan segalanya. Ayahnya ditinggal cerai karena dinilai tak berharga lagi setelah ia jatuh miskin. Akhirnya Rinko memutuskan untuk hidup dengan usahanya sendiri. Dan secara tak sengaja dan juga satu-satunya perusahaan yang menerimanya ialah perusahaan yang bergerak dalam produksi film dewasa.

Ya, singkatnya film ini lucu dan bagus. Film yang lumayan sebagai penangkal penat. Memang sih tak sekocak film sejenis seperti Sex is Zero, namun film ini tetap layak untuk ditonton. Yang belum menonton silahkan tonton saja. Link donlotnya cari aja lah…. :D.

Yang menarik untuk dibahas di sini ialah kita sedikit mampu membaca bagaimana behind the scene pembuatan film dewasa di Jepang. Hal yang nampaknya sulit dicari di internet. FYI, setelah kami googling, kami mampu melihat proses pembuatan di balik layar film-film porno amerika. Namun sebaliknya, kami tak dapat sedikitpun hal yang serupa tentang JAV. Dengan ini, kami jadi sedikit tahu tentang roda penggerak di balik penghasil miliaran yen ini.

Dari film ini kita diberitahu bahwa produk JAV atau materi porno lain yang biasa kita tonton ialah, bisa dibilang juga, suatu tipu muslihat kamera, kosmetik, tata busana, dan, teknologi canggih lainnya. Ia tak berjalan selancar, seperti biasa kita menontonnya. Banyak adegan ulang, action-cut, dan lain-lain. Singkatnya mereka harus membuat para penontonnya menjadi bergairah, walau dicapai dengan, belaian, rangsangan, erangan, atao orgasme palsu. Memang ada real intercourse, namun tentu saja ini tak sepanjang film, apalagi si aktris atau aktor telah ejakulasi beberapa kali.

Kita juga tahu sedikit keluh kesah tentang si aktris. Bagaiamana ia menjalani hidupnya sebagai AV Idol, mengapa ia bisa terjun di industri ini, dan harapannya dimasa yang akan datang. Namun yang menarik dan banyak dibahas ialah bagaimana kehidupan mereka setelah tak menjadi pemeran film dewasa. Selain itu bagaimana pula mereka menjaga identitas di masyarakat baik tengah atau setelah pensiun dari industri ini.

Pertama, ternyata tak semata-mata uang yang mendorong banyak perempuan di jepang bergabung dengan industri ini. Dari mulai kebosanan, coba-coba, hingga akhirnya ia mendulang sukses. Begitu juga dengan alasan  mengapa mereka meninggalkan industri. Kasusnya berbeda di tiap orang, menurut salah satu manajer yang menaungi 20 artis film dewasa jepang ini.

Kini juga banyak yang lebih lama di industri ini dari mulai 5-10 tahun. Namun ada hal yang menarik, dan menegaskan juga bahwa sebenarnya industri ini bisa dibilang exist in a grey area. Ya, bisa dibilang legal, bisa dibilang tidak. Misalnya seorang artis telah terikat kontrak selama satu tahun dengan satu perusahaan, namun di tengah jalan si artis tak mau melanjutkannya, maka sang agensi secara legal tak mampu memaksa gadisnya untuk tetap melanjutkan kontraknya. Sebaliknya, sang agensi harus pintar-pintar menawar agar sang aktris mau terus melanjutkan kontraknya. Hal ini juga yang rasanya membuat begitu banyak pemeran film dewasa di jepang terus bermunculan dari tahun ke tahun, dari mulai remaja hingga ibu rumah tangga. Karena mereka bisa kerja singkat, per kontrak dan dapat uang yang banyak. Kasarnya, jika senang lanjut, jika cukup, berhenti (tentu saja aslinya tak sesimpel ini, apalagi terkait karakter dan falsafah orang jepang dengan pekerjaan).

Para artis pun harus tetap diam akan identitasnya. Layaknya falsafah Jepang, (kalo ga salah) jangan gunakan mata untuk melihat. Itu tak baik dan tak sopan. Bahwa kejujuran seringkali dianggap tak sopan di Jepang. Mereka harus menyembunyikan identitasnya ketika hendak bergabung dengan satu masyarakat baru, walau secara de facto masyarakat jepang sebenarnya menerima industri film jenis ini.

Ya, seperti yang ditampilkan dalam Rinko 18, industri film dewasa Jepang memang menarik untuk dipelajari. Industri ini hadir di tengah masyarakat yang menerima sekaligus menutup mata terhadapnya. Ia ada, namun penduduk segan tapi suka padanya. Apa artinya? bingung kan?….

Ya sudahlah, bingung biarlah tetap menjadi bingung. Setidaknya itu pengalaman yang kami dapat dari menonton Rinko 18…

***